“Apakah mereka semua benar-benar suka denganku?” 

Pernahkah dalam hatimu mempertertanyakan hal seperti itu? Mempertanyakan siapa yang menerima diri ini dengan sepenuh hati? Temankah itu, kekasihkah, atau keluarga yang telah membesarkan kita dengan jiwa dan raga? Jawabannya pun, ternyata aku juga tak tau.

Bukan inginku mengajak memilih siapapun itu. Aku hanya ingin bercerita tentang perasanku dan mungkin juga rasamu. Tentang banyak hal yang mungkin pernah kita temui sebagai kekecewaan dari apa yang telah kita lakukan. Kita kira selalu terbaik yang kita coba hadirkan dalam hidup mereka. Tapi  sering kali kita banyak menemui mereka seperti tak benar-benar menyukai.

Aku merasa terkadang di antara mereka tak suka dengan apa yang aku punya. mereka tak senang dengan apa yang sedang aku perjuangkan. Dan, merasa senang ketika aku menemui kegagalan. Mungkin ini hanya sekadar “sepertinya” namun aku yakin, semua itu tak sepenuhnya aku salah duga.

Pernah suatu waktu aku mengajak mereka menikmati sebuah sore di tepian jalan menyantap sepiring siomay. Kita bercanda, tertawa, layaknya pertemanan lainnya. Kita antusias membicarakan apa saja termasuk teman kita yang bergaya tak sewajarnya. Aku rasa hari itu cukup menyenangkan tanpa mendung dan hujan yang memaksa pulang.

Tak lupa juga sebagai seorang remaja yang sedang merasa cantik dan eksis di dunia maya, kita berfoto bersama. Foto yang lumayan cantik dibanding dengan remaja lainnya. Foto selesai, siomay habis, kami pun pulang.

Di rumah, aku sudah berniat akan pamer kebersamaan di akun yang banyak diakses untuk pamer-pameran. Aku menulis bahwa mereka baik dan aku beruntung.

Tapi ternyata, sepertinya hanya aku yang merasa. Aku kira mereka menyayangi, tapi ternyata hati mereka ada pemilik sendiri. Beberapa hari setelahnya, setelah foto itu beredar di dunia maya. Temanku juga memamerkan foto serupa. Tulisannya pun sama. Tapi sayangnya dalam foto itu aku tak ada.

Aku tidak marah, sama sekali bukan sebuah masalah. Tapi dari hari itu, aku mempertanyakan banyak hal. Apakah yang lain pun sama? Yang kuanggap milikku ternyata bukan begitu? Atau yang kukira mencintaiku ternyata hanya sebatas anganku yang semu?

Aku pun memutar kembali ingatan kepada hal yang pernah kulalui. Disana, aku melihat diriku yang terlalu dalam untuk berusaha mengerti. Mengertikan orang-orang yang kurasa begitu kuhargai dan sayangi. Yang inginku hadir di sana agar tak ada yang merasa sendiri.

Tapi aku menyadari, ketika diriku yang dihadiri luka, adakah mereka disini? Apakah mereka memang tak tau atau tak mau tau? Ataukah masalahnya ada padaku? Yang tak mau menampilkan luka dan selalu berharap semua orang mampu mengerti tanpa kuberitahu?

Kujadikan hari itu titik balik bagi diriku, bagi hati dan perasaanku agar tak berharap dari mereka yang hatinya tak kutahu. Mungkin juga untukmu, yang sedang membaca tulisanku. Percayalah saja kepada Tuhanmu karena manusia terkadang datang ketika mereka punya mau.

Tapi sepertinya ada salah dari kataku, bahwa tak semua manusia begitu. Ada satu, dua, atau beberapa yang hatinya tulus mencintaimu. Tapi bagaimana kita tahu? Ah aku saja bingung memikirkan itu. Terkadang hatiku percaya mereka sungguh baik bagiku, tapi hal lain menyadarkanku bahwa tak sepenuhnya seperti itu.

Ataukah perlu aku memperbaiki diriku dulu? Memantaskan ku untuk dikasihi oleh mereka yang kumau? Huh Hati dan pikiran memang ternyata sulit untuk dipersatukan. Pada siapa sebenarnya aku percaya selain kepada Tuhanku Yang Maha Esa? Memang benar, sepertinya tak akan ada. Tuhanlah yang mampu kugantungkan percaya dan harap serta do’a.

Dan teman yang benar-benar baik untukku adalah diriku sendiri. Yang setiap kali menemani dan menguatkan hati untuk tidak berhenti disini. Yang selalu tau sedihku tanpa kuberitahu sedang bagaimana hatiku. Yang tak perlu menjauh ketika menemukan manusia baru yang lebih daripada aku.

Namun suatu waktu muncul dalam pikirku bahwa diriku mungkin tak seanggun, tak semanis, dan tak sempurna seperti yang mereka punya. Mungkin bahkan hanya cukup untuk menopang ragaku yang juga tak memiliki bentuk seindah itu.

Tapi aku juga teringat lagi pada penciptaan semesta oleh Tuhan Yang Maha Kuasa yang tak akan pernah salah dalam mencipta segala yang ada. Aku, kamu, dan semua yang ada diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya dan disirat keindahan tanpa kita duga.

Mungkin memang untuk membersamai manusia lain adalah tugas kita yang semestinya. Hidup bersama, berdampingan dengan damai dan suka cita. Membantu dengan ikhlas tanpa mengharap mereka akan sama.

Tapi untuk sebuah percaya, berhati-hati mungkin bisa menjadi kuncinya. Menahan agar tidak terlalu senang dengan apa yang mereka tunjukan. Pun, tak terlalu bahagia dengan apa yang mereka hadirkan. Benar, bahwa segala yang hadir penyertanya ialah syukur, yang tak akan membuat kita kecewa dan menghadirkan kita banyak harapan-harapan yang tak selalu menjadi nyata.

Berjanjilah untuk menjaga diri sendiri, agar selalu baik dan mampu menemani setiap langkah yang ragu-ragu. Dirimu, diriku, diri kita sendiri yang akan membawa kita sampai mati. Orang lain hanya menemani. Jika mereka tidak pergi.