"Berangkat dari mindset sebagai species penguasa bumi yang berakal, manusia menganggap mereka dilahirkan untuk mengubah bumi menjadi surganya, tetapi tragisnya mereka dilahirkan penuh kekurangan, sehingga begitulah, surga yg coba dibuatnya malah selalu dimanjakan oleh kebodohan, keserakahan, kehancuran, dan kepicikan."

Kutipan pembuka yang diambil dari novel Ishmael karya Daniel Quinn di atas mungkin terlalu serius bagi pembaca yang ingin bersantai menikmati bacaan pendek yang renyah sambil menyeruput kopi pahit. Tapi apa boleh buat, tulisan ini dari huruf pertama sampai akhir isinya serius semua.

Naiknya trend wisata beberapa tahun terakhir terasa sangat signifikan. Untuk bukti, bisa dilihat dari banyaknya gambar atau video orang berwisata atau membangun tempat wisata, bertebaran selazimnya spectacle setiap hari di sosmed kita.

Sementara di sisi yang lain, sesak keseharian kita oleh situasi politik yang semakin terpolarisasi, berkait-kelindan dengan memburuknya persoalan ekonomi ditengah wabah covid-19, dan lain sebagainya, terus berlanjut mengalahkan durasi Drakor berepisode paling banyak sekalipun. Mungkin.

Bisa saja dua ilustrasi di atas, terkait satu sama lain, di mana salah satu peristiwa menjadi katalis bagi fenomena lainnya. Silahkan anda simpulkan nanti. Seterangnya, saya hanya mencoba menunjukkan tentang egoisme paripurna dari species bernama manusia.

Kembali pada topik. Tentu tidak ada yang berhak untuk melarang manusia berwisata atau membuat tempat wisata. Bersenang-senang, merefresh otaknya yang mumet karena persoalan keseharian atau melipur lara hatinya karena selalu dikarunia toxic relationship, misalnya. Tidak sama sekali. Hanya saja, situasi nampaknya sedang lepas kendali.

Seperti gayung bersambut, animo berwisata masyarakat yang besar ini menjadi sangat menggiurkan bagi segelintir lapisan masyarakat lainnya yang memiliki modal dan juga kuasa. Wisata adalah "tambang emas",

Pada akhirnya, sesuatu yang teramat penting mengabur dari perhatian, yaitu hal lain yang ada di luar kita. Manusia tidak sendirian di planet ini, bukan? (saya berharap ini bukan kabar baru bagi sebagian dari kita), atau biar saya ulangi dengan sedikit tambahan, manusia bukan satu-satunya species di muka bumi ini, ada sangat banyak species lainnya, dan sialnya manusia sangat bergantung pada species lain tersebut melebihi ketergantungannya pada speciesnya sendiri.

Sampai titik ini, dua ilustrasi pembuka di atas (yang apabila memang saling terkait), secara otomatis telah menarik hal lain di luar daripada manusia itu sendiri ke dalam pertarungan, yaitu lingkungannya, alamnya.

Meskipun tidak semua, namun faktanya sangat banyak objek alam atau objek yang ada di alam yang awalnya merupakan sesuatu yang masih perawan (atau agar tidak bias gender saya tulis juga masih perjaka), apapun itu, yang disihir menjadi objek wisata.

Apakah ini jadi masalah? Mungkin belum, karena memang dari sejak jaman manusia pintar membuat perkakas kerja, kita, species yang beruntung ini, selalu memiliki peran besar mengubah alam seturut kemauan kita. Yang menjadi masalah kemudian apabila objek alam yang dirubah tersebut pada akhirnya malah berdampak sangat negativ, seperti kerusakan lingkungan atau kehancuran sebuah ekosistem.

Well... Langsung saja, izinkan saya mengkonfirmasinya dengan beberapa contoh kasus yang sedang terjadi. Contoh pertama, ini terjadi di kampung saya. Tersebutlah sebuah tempat yaitu Hutan Ma'ra yang berada di gunung Bawakaraeng, salah satu gunung tertinggi di Sulawesi Selatan. 

Hutan ini merupakan sedikit dari Hutan hujan Indonesia yang tersisa. Seperti hutan pada umumnya, Ma'ra berfungsi sebagai penyangga kehidupan, baik itu kehidupan manusia maupun species flora dan fauna yang berada di dalam dan di area sekitarnya.

Sumber airnya misal, dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk kegunaan sehari-hari. Lalu, bagi species bukan manusia, Hutan Ma'ra adalah 'rumah', khususnya bagi salah satu hewan endemik di dunia, yaitu Anoa, salah satu jenis species hewan langka yang sangat sensitif.

Hutan Ma'ra sebagai kawasan konservasi lahir melalui pertimbangan kebencanaan dan pelestarian. Saya kutipkan pernyataan Muhlis Salfat, S.TP.,MP, seorang peneliti bencana, terkait hutan Ma'ra. "Hutan ini terletak pada koordinat (120.01548,– 5.18320), dengan Kemiringan wilayah berada pada kisaran (>40%). 

Berdasarkan interpretasi peta, dapat diketahui jenis tanah di Ma'ra berupa andesit, basalt, tephra, berbutir halus. Ini merupakan jenis tanah yang tidak dapat mengikat air yang datang, sehingga sangat rawan longsor.

Lalu datanglah Negara Api menyerang, Dikomandoi oleh Bupati dan para punggawanya yang maha keblinger. Dibuatlah rencana pembangunan dengan dalih pemanfaatan, atau lebih jelasnya menjadikan areal konservasi Hutan ma'ra sebagai daerah tujuan wisata.

Alhasil, sekitar1,2 Ha vegetasi alam dirusak untuk membangun areal bumi perkemahan, ditambah dengan jalur bersepeda dengan luas jalur sekitar 1,5 M sepanjang 2 Km, dan bangunan wisata kuliner dengan luas bla..bla.. bla (saya belum punya datanya).

Sedemikian ironisnya, sampai detik tulisan ini saya ketik, pemerintah setempat tetap ngotot melanjutkan niat konyolnya meski diprotes berjilid-jilid oleh masyarakat.

Di belahan bumi yang lain, masih di wonderfull Indonesia, tepatnya di Taman Nasional Komodo, rumah habitat komodo sedang diusik. Habitat hewan langka tersebut, sedang dihancurkan menjadi tempat wisata juga.

Agar anda tidak perlu repot gugling sana sini soal Komodo dan habitatnya, biar saya kutipkan dari bisnis.com tentang ini. "Komodo (Varanus komodoensis) termasuk spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo sekaligus satu-satunya di dunia (Komodo juga merupakan warisan dari zaman purbakala, karena Komodo termasuk dalam Hewan Purba yang telah hidup jutaan tahun lalu di Indonesia). Habitat aslinya di Taman Nasional Komodo termasuk di Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara Timur".

"Selama ribuan tahun Ata Modo & Komodo Dragon hidup bersama di kawasan konservasi itu, yang oleh para antropolog, disebut interspecies companionship (kekerabatan antar-spesies)".

Mereka hidup lestari dan berkembang di benteng pertahanan mereka yang terakhir, sampai ketika muncul ide briliant manusia untuk membuat tempat wisata sejenis Jurrasic park di sana, pemirsa, tepat di habitat mereka.

Lantas, herankah saya melihat fakta akan tindakan menyulap area konservasi, menjadi tujuan wisata, Tidak. Kenapa? Karena yah itu tadi, kita adalah species pilihan, satu-satunya makhluk yang dianugerahi akal untuk menjadi penguasa atas segala yang ada di muka bumi ini.