Pandemi Covid-19 membuat banyak orang terpaksa berdiam di rumah. Menyisakan sedikit banyak waktu luang untuk dikelola.

Di tengah-tengah waktu luang, saya kerap memikirkan apa yang harus dilakukan esok hari. Berjanji pada diri sendiri. Misal, besok pagi-pagi harus push up dan sit up 20 kali atau sekadar membaca buku atau mungkin menulis.

Nyatanya, bangun tidur langsung mencari HP dan tenggelam berjam-jam lamanya. Scroll lini masa media sosial, larut bersama YouTube dan dibius halus oleh game. Akhirnya agenda yang sudah direncanakan di hari kemarin sama sekali tidak tersentuh hari ini. Manusia memang paling pandai mengkhianati kata-katanya sendiri.

Ide untuk menuliskan gagasan ini sebetulnya sudah mengorbit dalam batok kepala dari dua minggu lalu. Sejak itu pula saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk menuliskannya. Waktu sedang melamun mengisap rokok atau sedang nyetir, sering kali terpikir apa saja kegiatan yang harus dilakukan. “Oh harus begini, begitu. Ntar bikin ini ah, ntar ngobrol sama si ini ah, dan lain sebagainya.”

Berencana itu sangat mudah, tetapi eksekusi lain soal. Apa saya mengalami kelainan? Apa cuma saya saja yang begini? Ah, rasanya tidak juga.

Setelah dipikir-pikir, sepertinya dalam tubuh kita ada dua kuasa yang bekerja. Agama menyebut kuasa ini dengan analogi setan dan malaikat. Baik dan buruk. Psikoanalis Sigmund Freud menamakan dorongan sebagai id yang penuh hasrat dengan kecenderungan buruk dan super ego yang menjadi rem dengan norma-norma dalam masyarakat. Banyak sekali penjelasan dari para pemikir tentang dua kuasa dalam diri.

Saya merasa dua kuasa ini adalah dua karakter yang terdapat dalam diri. Mereka berdua tidak datang dari dunia gaib seperti setan dan malaikat. Toh, di bulan puasa kemarin yang katanya setan dibelenggu tetap saja manusia banyak yang berlaku seperti setan. Dua kuasa ini adalah diri sendiri.

Kita beri nama kuasa yang pertama sebagai si perencana. Nah, dia ini bertugas untuk menjaga citra diri. Si perencana ini punya ego yang tinggi sehingga ia tidak mau dipandang rendah oleh orang lain. Atas dasar itulah dia berupaya keras merencanakan segala sesuatu untuk diri ini. Kalau diri ini berhasil, citra diri akan baik dan diakui banyak orang. Selesailah tugas si perencana.

Kalau kita sedang bercerita pada orang lain, biasanya si perencanalah yang memegang kendali. Dia sama sekali tidak memberikan ruang pada kuasa lain untuk mencederai citranya. Si pencerita ini punya kendali penuh dalam kehidupan sosial.

Nyaris segala hal-hal yang kita impikan direncanakan dengan baik oleh si perencana. Eits, jangan kira si perencana ini selalu baik seperti malaikat. Tidak juga. Si perencana merupakan pihak yang paling getol untuk mengajak kita berbohong dan menghindar dari kesalahan yang kita perbuat. Ia terlampau gengsi untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf.

Saya berani sumpah saat menuliskan kata-kata ini sekarang, ada kuasa lain yang mendorong saya untuk cepat-cepat mengambil HP. Dorongannya begitu besar, tangan saya seakan-akan tidak tahan lagi untuk terus memijat tuts keyboard dan ingin beralih ke HP. Tentu bukan salah HP, meskipun ia didesain sedemikian rupa untuk membuat kita nyaman dan kecanduan.

Mari kita namakan kuasa kedua ini sebagai si penyayang. Kuasa ini bertugas untuk memberikan kenyamanan pada diri. Si penyayang ini akan berupaya melancarkan dorongan yang membuat diri nyaman.

Saking sayangnya, kuasa ini tidak tega melihat kita susah. Ia tidak mau diri ini bekerja keras apalagi sampai menguras tenaga dan pikiran. Kuasa ini yang memaksa kita tidak perlu repot-repot push up dan sit up. “Nanti kamu capek,” katanya. “Mending main HP aja. Seru, fun, dan nikmat.” Si penyayang ini menyayangi diri dengan sepenuh hati, dia akan menawarkan segala jenis kenyamanan.

Si penyayang adalah pemalu yang romantis. Dia hanya akan mengajak kita bermesraan saat sedang sendiri. Layaknya bermesraan penuh cinta yang membuat diri lupa waktu, si penyayang ini tidak peduli dengan hari esok. Yang penting diri harus nyaman saat ini dan detik ini. Kalau ada orang lain, dia malu dan bersembunyi dalam-dalam di dasar hati.

Saya tidak tahu dari mana asalnya dua kuasa ini. Basis ilmiahnya pun tidak ada. Tetapi, saya yakin betul dua kuasa ini bekerja untuk mencapai visinya masing-masing. Bagaimana bisa ada dua karakter berbeda visi dalam satu diri? Ini masih membingungkan.

Kedekatan dengan si penyayang ini yang sering kali kita kenal dengan kemalasan. Untuk penganggur dan semua pengusaha, masalah terbesarnya adalah menjaga jarak dengan si penyayang. Ini benar-benar sulit, kasih sayang dan kenyamanannya membutakan.

Kalau sudah bekerja, biasanya kita diberikan deadline. Inilah yang memaksa si perencana bekerja ekstra dalam mendorong diri. Kalau kita tidak mengerjakan tugas, ini urusannya dengan citra diri. Si perencana bisa malu setengah mampus. Apalagi kalau sampai lewat deadline, bisa-bisa kena hukuman bahkan dipecat. “Mau ditaruh mana citra diri?!” kata si perencana.

Yang jelas, mengidentifikasi masalah adalah satu langkah lebih dekat untuk menemukan solusi. Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan lebih seksama duel di dalam kepala antara si perencana dan si penyayang. Karena keduanya bekerja untuk kebaikan diri ini dari perspektif masing-masing.

Hanya saja kita perlu melihat waktu yang tepat untuk mendukung dua kuasa tersebut. Ada kalanya menuruti si perencana, ada kalanya juga bermesraan dengan si penyayang. Kalau kata Pramoedya Ananta Toer, “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran.”

Dalam konteks ini, adil sejak dalam pikiran berarti membagi porsi yang tepat untuk dua kuasa tersebut. Keseimbangan adalah koentji.