Soal kawin-mawin itu biasa, semua mahluk hidup, terutama yang berstatus manusia tak kuasa menolak kebutuhan dasar itu. Tapi, sebagai mahluk berbudaya, manusia tak boleh asal kawin, mereka harus melewati prosesi menikah terlebih dahulu. Pada tahap inilah banyak manusia yang seringkali gagal melewatinya dengan baik. Maka, lahirlah istilah ‘kawin lari’, ada juga yang ‘kawin duluan nikahnya belakangan’ atau malah ‘gak nikah-nikah sampai jompo’.

Apakah menikah sepelik itu, hingga kadang banyak manusia gagal menempuhnya? Prosesi dan persyaratannya tentu dikembalikan ke budaya masing-masing serta agama yang dianutnya. Yang seringkali membuat banyak anak muda yang patah hati adalah soal budaya yang dianut di kampung dan tradisi-tradisi yang pakem dalam keluarga.

Kenyataannya, budaya kadang bergerak lelet dibanding arus globalisasi. Yang terjadi, ketika para remaja bersentuhan dengan dunia internet, terhubung dengan dunia global, aktif di media sosial, dan sejumput perangkat era millennial yang canggih, yang mencairkan budaya-budaya primordial, membuat banyak remaja terjerat dalam ruang cultural lag (kesenjangan budaya).

Cinta Nomor 17 

Dahulu di kampung, alih-alih bicara soal nikah atau lamar-melamar, berpacaran pun tak pernah benar-benar mendapat restu dari keluarga. Persoalan lain yang kerap menjadi penghalang bagi anak muda adalah budaya patriarki-primordial. Cinta terkadang menemui jalan buntu ketika berhadapan dengan status sosial tertentu. Bangsawan, orang kaya, atau pejabat adalah status sosial yang diberi nilai tinggi untuk jadi pertimbangan dalam upaya menjajaki sebuah rencana pernikahan.

Hingga kini, masih ada masyarakat yang memegang teguh pra-pemahanan bahwa bangsawan hanya untuk bangsawan, mereka mewarisi ‘darah biru’ yang berbeda dengan darah awam. Anggapan serupa akhirnya juga menjangkiti status ekonomi, bahwa orang kaya punya standar tertentu sebelum menjalin hubungan kekeluargaan, soal cinta itu nomor 17, ekonomi adalah faktor dominan.

Kelas sosial lainnya yang seringkali melahirkan pretense di tengah masyarakat adalah soal jabatan. Dahulu di era kerajaan, jabatan tentu dikaitkan dengan kelas bangsawan: hanya mereka yang keturunan bangsawan yang punya kans untuk memangku jabatan tertentu. Karenanya, untuk menjalin hubungan pernikahan, jabatan calon mertua menjadi nilai yang tak bisa ditawar, alih-alih hanya bermodal cinta.

Pernikahan dalam kaca-mata kelas sosial ini masih sering dijumpai, bahkan di kota-kota besar. Untuk menyebut beberapa kasus, ada yang berhasil meminang putri seorang yang keturunan bangsawan karena punya sederet mobil baru, atau punya jabatan penting di kampung. Mereka seringkali menyebutnya sebagai perbaikan keturunan, bukan membeli cinta, katanya.

Dalam kacamata politik pun berlaku rumus simbiosismutualisme, dikenal dengan istilah perkawinan politik. Bisa dibayangkan seorang anak Ketua DPRD dikawinkan dengan seorang anak bupati, efek politiknya pasti luar biasa. Dua keluarga besar terhimpun, potensi untuk menguatkan politik dinasti terbuka lebar.  

Kahiyang anak Millennial    

Kembali ke soal pernikahan, yang di dalamnya ada perkara lamar-melamar. Seorang yang memberanikan diri melamar, tentu punya sesuatu yang akan dintunjukkannya ke hadapan calon mertua, alih-alih hanya karena status pacaran.

Kahiyang, Putri Presiden Jokowi tampaknya sedang dilanda sumringah. Ia terang menyatakan ‘Ya’ saat ditanya soal rencana sang pacar meminangnya. Yang pasti, lelaki pujaannya itu bukan seorang pilot (seperti profesi sang mantan), juga bukan putra seorang Ketua DPR. Ia hanya lelaki yang sedang memperjuangkan keyakinannya terhadap cintanya kepada seorang perempuan.

Dan respon Kahiyang menunjukkan keduanya memang telah sampai pada tahapan menyiapkan diri untuk memasuki jenjang pernikahan. Lantas, bagaimana tanggapan Sang Ayah? Presiden Jokowi tak menampiknya, dengan nada lugas, ia berujar, “doakan saja”.

Respon Jokowi tentu bukan reaksi biasa dari seorang ayah yang hendak melepas anak gadisnya menuju kehidupannya yang baru. Sebagai seorang ayah, tentu ia telah mempelajari riwayat calon mantu, yang akan segera mengambil-alih tanggungjawabnya terhadap putrinya, Kahiyang.

Kahiyang tentu tidak kaget dengan respon Pakdhe. Apalagi, sebelumnya ia telah mengajak sang calon mantu berkunjung ke rumah, saat perayaan hari kemerdekaan tahun lalu. Sebelumnya, Kahiyang pun menunjukkan perhatiannya saat melayat kematian ayah Doi.

Siapa yang Berani Melamar Kahiyang?

Laki-laki tetaplah laki-laki, melamar gadis pujaan adalah tindakan heroik yang harus dijalani jika hendak membuktikan cintanya kepada gadis pujaan. Seorang laki-laki akan menunjukkan dirinya dan apa yang dia miliki, bukan mengandalkan riwayat keluarga atau nama besar orangtua.

Siapakah laki-laki yang berani melawan putri sang presiden? Mungkin jawaban itu tidak terlalu penting. Mereka (Kahiyang dan Doi) hanya perlu melanjutkan kehidupannya dan menjalaninya sebagaimana adanya.

Terlepas dari status sebagai keluarga presiden, pada prinsipnya mereka tetap manusia biasa yang di sekelilingnya berlaku nilai sosial. Pernikahan yang sakral, jika berhasil dilewati akan membawa keduanya menjadi pribadi yang dewasa dan bersama-sama membangun keluarga.

Respon Presiden adalah bentuk tanggungjawab selaku seorang ayah yang memahami kehidupan seorang anak yang akan segera menjajaki tahapan dewasa.

Akhinya, Kahiyang Ayu sudah dilamar, kamu kapan?

Sumber:

https://inet.detik.com/cyberlife/d-3540837/putri-jokowi-dilamar-kekasih-netizen-ikut-bahagia

http://makassar.tribunnews.com/2017/02/12/wah-kahiyang-putri-jokowi-akan-segera-menikah-sosok-calon-suaminya-mengejutkan

http://showbiz.liputan6.com/read/3002297/selamat-kahiyang-putri-jokowi-resmi-dilamar-sang-kekasih