Jakarta merupakan impian orang daerah. Semua ingin ke Jakarta. Dari rumah masing-masing, orang bertekad mencari uang di Jakarta. Tak terkecuali dengan orang-orang daerah yang sudah kaya sengaja datang ke Jakarta untuk sekadar menghamburkan uangnya. Ada juga bandit-bandit daerah datang ke Jakarta untuk menangguk duit. Demi duit pula Jakarta berdiri tegak.

Di sebuah desa kecil di Pemalang, daerah yang kutinggali hampir seperempat dari jumlah penduduknya merantau ke Jakarta. Angka ini relatif tinggi bahkan tertinggi dibanding desa-desa lain yang masih satu kecamatan. Ada semacam dogma klasik di daerahku: kau takkan jadi warga negara yang 100% sebelum melihat Jakarta dengan mata-kepala sendiri.

Karenanya, begitu banyak orang, terutama anak-anak muda, yang mengumpulkan tekad segumpil demi segumpil agar bisa datang ke Jakarta. Mereka membawa impian dan harapan dengan penuh keyakinan akan keindahan nasib baik di ibu kota.

Dulu, era 80-an, menurut cerita orang-orang, mereka yang berduyun-duyun mengadu nasib ke Jakarta, mayoritas adalah anak-anak remaja yang masih belia, bahkan tak jarang yang baru lulus sekolah dasar (SD). 

Tujuan terbesar mereka merantau ke Jakarta utamanya adalah karena faktor ekonomi. Imbasnya, anak-anak yang masih sangat belia ketika itu menjadi terlampau cepat dewasa. 

Mereka ikut menanggung beban hidup keluarganya. Masalah orang tua tak ada yang tabu lagi bagi mereka. Tak jarang menyebabkan hubungan antara orang tua dan anak menjadi tumpul. Kewibawaan orang tua menjadi hilang.

Kini, kondisi itu mulai berubah. Meski jumlah perantau relatif masih banyak, namun kesadaran para orang tua akan pentingnya pendidikan perlahan mulai tumbuh. 

Jakarta tidak lagi sekadar menjadi tujuan untuk memperbaiki ekonomi, tapi juga menjadi magnet orang-orang yang hendak belajar. Ada anggapan umum di masyarakat bahwa pusat belajar daerah adalah Jakarta.

Kendati demikian, timbul masalah baru lagi. Kebanyakan dari mereka yang sudah menyelesaikan pendidikan di ibu kota enggan untuk kembali ke daerahnya. Mereka yang berpendidikan tinggi selalu berasumsi bahwa peluang dan kesempatan untuk mengembangkan ilmu dan kariernya lebih terbuka di Jakarta dibanding tetap bertahan di daerah. 

Mereka terlalu takut akan arus ketidakpastian masa depan. Mereka beranggapan bahwa penyesalan merupakan akibat dari ketidakmampuan dalam berurusan dengan ketidakpastian. Ya, mereka takut menyesal atas ketidaksuksesan di masa depan, ditambah tekanan budaya atas ekspektasi tinggi seorang sarjana.

Adalah benar ketika kaum sarjana memikirkan masa depan, namun menjadi salah ketika terlalu memikirkan masa depan seketika jadi lupa untuk hidup di masa sekarang, lupa membuka mata terhadap keadaan sekitar. 

Orientasinya sebatas pada dunia kerja; bertengger di nama-nama perusahaan besar, memupuk kekayaan kemudian. Walhasil, para sarjana yang demikian itu absen terhadap isu-isu sosial. 

Tak ada dialog, tak ada antitesa, tak ada suara-suara minor, kosong, hampa, mereka teralienasi dari jeritan berbagai ketidakadilan di daerah. Jika sudah begitu, pupus sudah harapan daerah terhadap putra-putri terbaiknya.

Berkaca dari realita tersebut, aku pun mulai paham bahwa ibu kota bukanlah pusat belajar yang mampu menjadikan para lulusan sarjana sadar akan fungsi dan tanggung jawab moral kesarjanaannya: kembali ke masyarakat dengan segala sumber keilmuannya, dan diharapkan mampu memecahkan problem-problem sosial di masyarakat. 

Justru gemerlap ibu kota kerap membutakan mata para sarjana yang terbuai oleh mimpi indahnya akan hari depan. Hanya sedikit di antara mereka itu yang benar-benar bekerja produktif-kreatif. Yang lain lebih banyak berkutat dengan rutinitas pekerjaan sebatas agar tak tumbang di medan penghidupan.

Jadi, sekaranglah waktunya, kawan. kembali ke daerah asalmu. Jangan biarkan titel akademik yang kau peroleh membeku di kantor-kantor, dan daerahmu tetap gersang menginginkan bimbingan. Dan bimbingan itu masih tergantung jauh di angkasa biru.

Bangunkan petani-petani di daerahmu yang masih tetap menjadi hamba-hamba di zaman Majapahit, Sriwijaya, atau Mataram. Siang kepunyaan raja, malam kepunyaan durjana! Dan raja di zaman merdeka kita ini adalah naik-turunnya harga hasil pertaniannya sendiri. Sedang durjananya tetap juga durjana Majapahit, Sriwijaya, dan Mataram yang dahulu: perampok, pencuri, gerombolan, pembunuh, pembegal.

Percayalah, kawan. Apa yang kau cari di Ibu kota? Sejak masuknya kompeni ke Jakarta, Jakarta hingga kini belum juga merupakan kota, mengutip istilah Pram, hanya kelompokan besar dusun. 

Tidak ada tumbuh kebudayaan kota yang spesifik, semua dari daerah atau didatangkan dan diimpor dari luar negeri: mall, bioskop, pelesiran, minuman keras dan bahkan agama, berbagai macam agama.

Selagi kau belum jadi penduduk Jakarta, alangkah baiknya kau merenungkan kembali nasihat sang penyair A.S Dharta, orang-orang datang dan berkumpul ke Jakarta, menjadi warga Jakarta, adalah untuk mempercepat keruntuhan kota ini. Makin banyak yang datang makin cepat lagi.

Sekali lagi, tulisan ini tidak bermaksud menggeneralisasi bahwa para sarjana jebolan kampus-kampus ternama sama sekali tidak ada yang berbuat sesuatu untuk daerahnya. Pasti ada sarjana yang benar-benar berbuat, namun mereka terlalu kabur dan tidak menarik untuk diliput.

Pandanganku ini semata-mata kutujukan untuk orang-orang daerah, wabilkhusus para lulusan sarjana yang masih bertahan di daerahnya masing-masing, mereka yang jauh dari kegalauan kota Jakarta, kumpulan besar dusun itu. 

Tetap tinggallah di daerahmu. Setidaknya engkau akan berjasa bila bisa membendung tiap orang yang hendak melarikan diri dari daerahmu yang hendak memadatkan Jakarta.

Terakhir, barangkali kau menyesalkan pikiran-pikiranku yang pesimistis ini, aku pun mengerti keberatanmu. Tapi jika kau keberatan dengan tanggung jawab moral dan intelektual atas kesarjanaanmu, siapa suruh jadi sarjana!