Kemarin malam, penulis dapat lagi berita menarik. Kali ini tentang seseorang bernama Dedy Susanto. Lagi viral katanya, entah lewat pernyataannya di Instagram yang cukup “berwarna” (soal LGBT, bipolar, dll.) atau oleh usaha pembongkaran @revinavt (yang kemudian “diledakkan seperti bom atom” di Twitter lewat cuitan @trivnity) terkait apa Dedy tercatat keanggotaannya di HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia). 

Ditelaah, ternyata Dedy tidak tercatat sebagai anggota HIMPSI, yang menunjukkan kalau dia bukan terapis resmi, alih-alih psikolog, yang diakui secara profesional. Pembelaannya? Dedy mengaku sudah mengambil S1 dan S3 Psikologi dan tidak pernah mengaku dirinya adalah psikolog. Dia lebih senang memanggil dirinya sendiri “doktor psikologi”. 

Jujur, dosen-dosen senior penulis sewaktu kuliah dulu tidak ada yang memanggil diri mereka sebagai “doktor psikologi”. Dedy yang mengaku dirinya sebagai “doktor psikologi” tersebut tidak jauh berbeda saat Patrick si Bintang Laut meminta dirinya untuk dipanggil “Tuan Doktor Profesor Patrick”. Ha!

Masalahnya di sini bukan di mana sebagai terapis Dedy menarik tarif yang cukup mahal per jamnya. Yang jadi perkara adalah Dedy tergolong seseorang yang cukup berbau “pandir”. Pernah satu kali dia bilang jika gangguan bipolar bisa sembuh, yang tentu salah karena seseorang dapat mengalami bipolar karena permasalahan kimiawi di otak.

Beberapa teman penulis yang mengalami bipolar harus rutin mengonsumsi obat yang memang dipreskripsikan oleh psikiater (catat, bukan psikolog) secara jangka panjang. Tidak pernah ada terapi, satu pun tidak ada, yang bisa menyembuhkan gangguan bipolar. Terapi obat-obatan pun hanya mengurangi gejala yang ditunjukkan, tidak menghilangkan total seperti sakit batuk atau sakit kepala.

Kemudian, janji Dedy kepada selebgram lain, Mimi Peri, bahwa ia bisa “disembuhkan” dari orientasi homoseksualnya juga membuat kita mengernyitkan alis. Memang homoseksualitas tidak lagi dianggap gangguan psikologis karena pergeseran perspektif secara universal mengenai persoalan LGBT.

Dalam masyarakat tradisional, keluarga dianggap sebagai unit terkecil suatu masyarakat, sehingga membentuk keluarga yang harus menghasilkan keturunan. Hal ini membuat homoseksualitas (serta juga biseksualitas dan aseksualitas) dianggap “abnormal”. Tapi makin kita menghargai keunikan antar-individu, pandangan “tradisional” yang kaku ini runtuh.

Memandang orientasi seksual non-heteroseksual sebagai sesuatu “gangguan” adalah kesempitan berpikir. Banyak orang yang merasakan itu “gangguan” bukan karena itu menganggu kehidupan sehari-hari, tetapi karena norma masyarakat yang menganggap hal tersebut tidak patut. 

Tekanan masyarakat itulah yang mengganggu. Hasutan serta iming-iming Dedy kepada Mimi Peri-lah yang mengganggu, bukan orientasi seksual yang dimiliki Mimi.

Dedy Susanto mengaku dia mempunyai otoritas untuk menilai “gangguan” yang dimiliki orang lain dan bertindak atas penilaian tersebut. Kami lulusan psikologi, termasuk penulis, sudah tentu ketawa kering. Mengaku memiliki gelar S1 dan S3 Psikologi tentu tidak membantu, karena syarat seseorang bisa membuka praktik psikologi adalah mengambil S2 Keprofesian. Idiot!

Yang membuat kasus ini meledak adalah bagaimana Dedy mengeksploitasi pengaruhnya atas kepentingannya, entah uang atau kepuasan seksual. Dedy juga menggunakan kedudukannya untuk kepentingan pribadinya, yakni mencoba tidur dengan kliennya, yang tentu tidak karena “hipnotis”.

Tapi apa penulis kaget? Tidak. Yang tipe macam Dedy itu lebih banyak dari mana yang kita duga. Banyak orang yang mengaku dirinya konselor, psikolog atau terapis untuk membuat orang lain sebagai pengikutnya. 

Memang, punya kemampuan menguasai psikologi satu orang jauh lebih hebat dari menjadi panglima bagi sepuluh ribu pasukan. Manipulasi psikologis jauh lebih efektif dari kekuatan fisik. Mengerikan memang.

Ada kisah sewaktu dulu penulis masih kuliah S1 Psikologi. Sebutlah orang ini sebagai “A”. Dia adalah adik tingkat penulis. Awal penulis kenal, bisa disebut kalau orang ini termasuk tipe cerdas dan cukup punya wawasan. Adalah dia potensi untuk jadi favorit dosen-dosen.

Kemudian, ia bersentuhan dengan forum-forum terkait psikologi di Facebook dan menjadi dihormati di situ karena notabenenya sebagai mahasiswa Psikologi. Di situlah ia menemukan bahwa cukup banyak orang-orang yang membutuhkan saluran untuk menyampaikan keresahan hati dan mencari apa masalah diri yang dihadapi.

Mungkin (penulis hanya berasumsi secara pribadi saja di sini) setelah lama-kelamaan menjadi saluran keluh kesah itu, si A merasakan bahwa dia menjadi dihormati di forum-forum tersebut. Dia melihat banyaknya mereka yang resah tersebut makin bergantung dengan nasihat dan wawasannya. 

Tulisan-tulisannya mulai dibumbui istilah-istilah ilmiah, namun tidak ada hakikat berarti. A yang pintar telah menjadi tukang obat, seorang pandir di dunia maya.

Sampai detik ini, si A tidak juga menyelesaikan tugas akhirnya. Dia sedang tenggelam dalam momen-momen kegemilangannya sebagai penipu kelas kakap. Hilang di kampus selama beberapa tahun, sampai-sampai kakak tingkat dan teman-teman seangkatan tidak ada yang peduli dia lagi. 

Tapi baginya, peduli setan, sudah banyak orang di dunia maya yang jatuh ke pangkuannya, karena kata-kata manisnya, wawasan-wawasan sempitnya, dan persona cerdas yang ditampilkan.

Sempat dulu sampai seorang perempuan yang curhat ke dia sampai jatuh hati dan menjadi pacarnya. Memang saat kita didengarkan oleh orang lain, kita cenderung untuk menyukai atau, setidaknya, memiliki perasaan positif oleh orang yang mendengarkan kita. Makin sering kita menjadi tempat sampah seseorang terkait keluh kesahnya, makin mudah orang itu bergantung kepada kita.

Itu trik psikologi klasik, yang cukup berguna kalau kita mau pendekatan dengan orang yang kita taksir (sejauh ini masih belum berhasil untuk penulis pribadi dalam, uhuk, mencari pasangan). Akan tetapi, itu tentu berbahaya jika digunakan untuk meraup keuntungan pribadi.

Baik Dedy atau si A, adik tingkat penulis, tadi menunjukkan jika siapa saja bisa menjadi psikolog di negeri kita. Tentu itu alarm peringatan bahwa kesadaran masyarakat kita terkait kesehatan mental saat ini masih terlalu rendah dan akses kepada tenaga profesional untuk konseling dan terapi masih sangat sukar.

Kesehatan mental masih merupakan hak istimewa (privilege) bagi segelintir orang dan usaha untuk membangun kesadaran atasnya masih dipandang sebelah mata. Hal ini yang membuka jalan bagi tukang-tukang obat, pandir-pandir banyak omong berkeliaran, membangun pemahaman keliru terkait persoalan kesehatan mental. 

Alih-alih teratasi, banyak dari mereka yang mengalami permasalahan mental dieksploitasi sampai kering oleh para pandir ini.

Saat ini, Dedy adalah contoh terdepan bagaimana seberapa mudahnya orang-orang dimanipulasi secara psikologis. Mereka yang membutuhkan uluran tangan bantuan secara klinis adalah target yang paling mudah. Demagog, tukang obat, dan artis-artis dunia maya kadang memosisikan mereka sebagai “juru selamat” bagi orang-orang tersebut.

Terkadang kita bisa bergantung dengan orang yang salah karena seakan-akan cuma orang tersebut yang bisa menyelamatkan kita atau mendengarkan kita. 

Ingatlah Rasputin, ingatlah Hitler. Sejarah sudah mengajarkan bagaimana mereka yang memiliki kemampuan manipulasi berkuasa. Mereka adalah mulut berjalan dan parasit sosial yang nyata. Dedy dan kenalan penulis, si A, yang sudah diceritakan di atas juga termasuk dalam kelompok parasit ini.

Kesehatan mental adalah isu yang delicate, yang harus didekati secara hati-hati. Jika kita berkata bahwa setiap psikolog, konselor atau lulusan psikologi punya hak untuk beropini secara pribadi terkait suatu isu, itu betul. Tapi, dalam kapasitas sebagai seorang profesional, opini harus disampaikan secara hati-hati.

Seorang yang terdidik dan dalam kapasitas untuk menyembuhkan atau mendidik orang lain tentu tidak akan menyampaikan suatu pendapat secara tergesa-gesa. Ia harus berpikir dua kali, tiga kali, empat kali atau mungkin ribuan kali sebelum membicarakan tertentu, termasuk soal gangguan psikologis atau isu-isu kesehatan mental lainnya.

Mungkin belum terlambat bagi Dedy untuk berpikir dua kali, tiga kali atau ribuan kali tersebut. Tentunya, dalam konteks ini bukan dalam bagaimana ia menyampaikan “wawasan”-nya di dunia maya, tapi dalam mempertimbangkan untuk menyerahkan diri ke pihak berwajib. 

Tenang saja, belum terlambat untuk menyerahkan diri saat ini, Ded. Setidaknya itu mungkin bermanfaat untuk pengurangan masa tahanan. Haha...