Mahasiswa
1 bulan lalu · 79 view · 3 min baca menit baca · Politik 97929_57271.jpg

Siapa Pemenangnya?

Keadaan masyarakat yang makin terpolarisasi akibat pemilu serentak, khususnya akibat Pilpres yang begitu menyita perhatian semua kalangan. Tapi cobalah kita kontemplasikan atau renungkan beberapa kejadian yang sudah mulai memakan nyawa rakyat Indonesia dan yang terakhir adalah aksi unjuk rasa di depan kantor Bawalu RI.

Kita saling claim bahwa kitalah paling benar dan merekalah yang bersalah. Tapi coba lihat dari sudut pandang sebaliknya. Mereka pun melihat kita adalah yang paling salah. Teori tentang kebenaran, ayat-ayat kitab suci akan kita gunakan demi membenarkan apa yang kita lakukan dan menyalahkan apa yang mereka kerjakan. 

Pada dasarnya kita cuma sebatas melakukan justifikasi atau pembenaran terhadap ego diri sendiri atau golongan kita! Harus kita ketahui, semua orang punya kebenarannya masing-masing, begitu pun dengan agama, memiliki kebenarannya masing-masing. Tapi ketika kita hidup bernegara dan berbangsa, yang kita cari adalah suatu kebaikan bersama, tanpa mengatakan siapa yang paling benar.

Ternyata sebenarnya kita hanya mencari siapa yang salah, bukan apa yang salah. Ketika kita mencari siapa yang salah, kita cuma akan berkutat pada sebuah kompetisi siapa yang menang siapa yang kalah, yang mana itu tidak akan berkesudahan dan akan kontra pada pendewasaan politik. 

Terkadang kita terfokus pada mencari siapa yang salah, agar kita dianggap pemenang. Maka coba tenangkan hati dan pikiran, untuk melihat apa yang salah. Bisa jadi yang salah ada pada diri kita sendiri. 


Pada hakikatnya, pemilu kita untuk mencari orang yang pantas memimpin negara berdasarkan keinginan rakyat banyak atau suara terbanyak. Kalaupun ada kecurangan, buktikan melalui jalur konstitusional yang sudah disediakan. 

Kalaupun ditolak, berarti ada yang tidak memenuhi persyaratan bahwa ada kecurangan. Itu adalah sebuah pertanda kemajuan berpikir, karena kita menggunakan ilmu pengetahuan dalam menyelesaikan masalah. 

Bukannya memaksakan kemauan golongan dengan cara brutal, dan memanaskan situasi dengan hasutan-hasutan. Apa bedanya kita dengan binatang ketika kita cuma menggunakan emosi dalam menyelesaikan masalah?

Kita lupa bahwa pemilu bukan bicara siapa yg menang, siapa yang kalah. Pemilu adalah milik rakyat Indonesia, pemilu bukan milik partai politik atau golongan tertentu, bukan milik Joko Widodo atau Prabowo Subianto, apalagi salah satu agama. Seusai pemilu, pemenangnya adalah seluruh rakyat Indonesia. 

Ingatlah bahwa kita lahir di rahim yang sama, yaitu rahim Ibu Pertiwi. Belajarlah dari kedewasaan para bapak pendiri bangsa kita dahulu. Mereka mengubah sila ke-1 Pancasila yang awalnya Ketuhanan yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya menjadi hanya Ketuhanan Yang Maha Esa, hanya dalam waktu 15 menit saja.

Tidak sampai menimbulkan konflik yang berkepanjangan dan memakan korban nyawa manusia, mereka sadar, mayoritas bukan berarti selalu benar, minoritas bukan berarti selalu salah. Perlu bagi kita merefleksikan sejarah perjalanan terbentuknya negara kita.

Sejatinya demokrasi Indonesia berpegang teguh pada musyawarah mufakat yang selalu mengindahkan persatuan dan menghindari perpecahan. Betapa bijaknya sikap para pendahulu kita. Maka warisilah sikap-sikap itu agar tidak ada lagi perpecahan atau polarisasi di masyarakat. 

Maaf beribu maaf, kita seakan kembali pada formalisme keagamaan, yang mana kembalinya doktrin-doktrin kaku tentang kehidupan beragama. Agama bukan lagi menjadi sebuah prinsip kehidupan spiritualitas. Tapi agama digunakan untuk menyalahkan orang lain dan menghakimi orang lain, bahkan lebih parahnya digunakan sebagai dasar pegangan untuk membunuh nyawa manusia. 

Padahal tidak satu pun agama diturunkan oleh Tuhan untuk menciptakan kekacauan, tapi agama diciptakan untuk membuat manusia hidup dalam keteraturan yang baik. Dengan kata lain, agama menginginkan manusia hidup dengan damai. 

Seingat saya, dalam agama yang saya yakini, yaitu Islam, sangat cinta pada perdamaian dan sangat menjauhkan diri pada kekerasan. 


Kita juga sebagai rakyat Indonesia yang masih memiliki ideologi Pancasila, selayaknya mengamini sila ke-3, yaitu Persatuan Indonesia. Indonesia bukan negara agama, tapi Indonesia mengakui adanya agama yang harus dianut oleh seluruh rakyat Indonesia. Negara Indonesia didirikan bukan pada dasar suatu golongan, tapi dibangun atas dasar kebangsaan dan juga atas dasar kesamaan nasib.

Maka dari itu, kita adalah orang yang beragama, orang yang berbangsa satu, yaitu Indonesia dengan ideologinya Pancasila yang mana pada sila ke-3 mengatakan Persatuan Indonesia, yang kita cari adalah nilai kebaikan, bukan siapa pemenangnya. Harus kita sadari, yang dapat menghentikan kekacauan ini diri kita sendiri, dengan tidak menghasut, tidak terpancing atas hasutan orang lain, dan tidak memperkeruh suasana. 

Selain itu juga, para elite politik harus segera melakukan rekonsiliasi pasca pemilu agar masyarakat kembali sadar bahwa kita masih satu bangsa dan negara walaupun pemenang pemilu sudah ditetapkan oleh KPU. 

Sekali lagi, ingat, kita semua saudara. Kita hidup bersama dalam sebuah negara, yaitu Indonesia. Tidak perlu mengakui kita yang paling benar. Cukup akui, kita semua satu nusa satu bangsa.

Artikel Terkait