Pembuka: Penilaian

Penilaian seseorang terhadap orang lain didasari oleh sebuah motif tertentu, apakah benar?

Setiap manusia di dunia ini pada dasarnya pasti berhubungan dengan orang lain. Bagaimana tidak, sejak awal kita lahir pastilah ada seseorang yang mengasuh kita, entah ibu, bapak, ataupun suster.

Namun, saat seseorang mulai memiliki kesadaran akan dirinya, seseorang mulai menilai orang-orang yang ada di sekitarnya secara sadar. Seperti dulu saat aku masih kecil, kalau ada teman yang menjahiliku, pasti aku akan merasa jengkel dan mbatin, "nakal banget, sih".

Sebenarnya jika kita menilai orang lain adalah hal yang wajar dan manusiawi. Namun sayangnya, tanpa kita sadari, penilaian kita terhadap yang-bukan-aku itu didasari oleh motif tertentu. Semisal pada cerita masa kecilku tadi, aku menilai temanku nakal itu mungkin bukan karena dia benar-benar nakal, namun ada motif tersembunyi pada diriku.

Apakah motif tersembunyi itu? Pada tulisan ini, aku akan berusaha membongkar motif tersebut. Namun, jika ada teman-teman yang kurang atau tidak setuju, boleh sekali untuk mengkritik tulisan ini.

Pada tulisan kali ini, aku akan menggunakan pemikiran Sullivan sebagai metode analisa. Siapa Sullivan? Orang dengan nama lengkap Harry Stack Sullivan ini adalah seorang psikiater asal New York, lahir pada tanggal 21 Februari 1892. Sullivan dikenal melalui teorinya tentang interpersonal theory of psychiatry.

Personifikasi

Personifikasi adalah suatu gambaran tentang diri sendiri atau orang lain. Personifikasi hadir melalui perasaan, sikap, dan konsepsi kompleks yang timbul karena adanya rasa kepuasan atau kecemasan pada diri seseorang. 

Personifikasi ini ada dalam struktur kepribadian manusia sebagai mekanisme untuk melawan kecemasan, namun juga dapat menyebabkan kecemasan.

Ada tiga tipe personifikasi, Good Me, Bad Me, dan Not Me. Good Me adalah aspek yang kita sukai (kepuasan). Bad Me adalah aspek yang tidak kita sukai (kecemasan), yang membawa feedback negatif. Not Me adalah aspek ketidaksadaran yang membawa ketakutan. Ketiga tipe personifikasi ini bukan hanya untuk memberi gambaran pada diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.

Misalnya seperti ini, aku punya teman, sebut saja namanya Ana, Ana ini punya kekasih yang bernama Al. Biasanya saat Al pulang dari ngejob, Al pasti menawarkan makanan pada Ana dan kemudian nanti diantarkan ke kosnya. Kebiasaan Al tersebut membuat hati Ana senang dan menilai Al sebagai orang yang baik pada momen tersebut.

Menurut teman-teman, kenapa Ana menilai Al orang baik? Jawabannya, karena perlakuan tersebut membuat hati Ana senang. Akibat dari kesenangan hati Ana, personifikasi yang hadir dalam diri Ana adalah personifikasi Good Me. Perasaan senang Ana pun timbul karena ia menyukai akan hal tersebut.

Jadi, apa yang disukai dan apa yang tidak disukai oleh individu akan mempengaruhi sebuah penilaian yang akan diberikan pada diri sendiri atau orang lain. Sehingga, penilaian kita terhadap orang lain mungkin saja tidak akan pernah mencapai pada diri yang sebenarnya, pun juga pada diri kita sendiri. Karena kita terjebak pada situasi psikis kita sendiri, singkatnya adalah subjektif.

Maka dari itu, personifikasi yang kita miliki ini, juga dapat menghalangi kita untuk mengevaluasi diri secara objektif.

Ada juga personifikasi yang dimiliki secara umum, sebuah gambaran yang tersebar di dalam masyarakat. Istilah yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita, yaitu stereotip. Contoh stereotip yang tersebar di Indonesia adalah, orang barat itu jenius, wanita itu makhluk yang perasa, orang timur itu religius, laki-laki yang melambai itu homo, dan sebagainya.

Namun, akibat dari adanya stereotip ini, menyebabkan individu secara tidak sadar dapat membekukan diri seseorang. Maksudnya adalah, individu secara tidak sadar dapat menggolongkan seseorang yang sesuai dengan ciri atau struktur gambaran tertentu dengan stereotip tertentu, yang mungkin orang tersebut sebenarnya tidak sama dengan stereotip yang ada.

Stereotip bisa berubah-ubah setiap jamannya, tergantung narasi besar apa yang tersebar pada masa itu.

Penutup: Kesimpulan, Keresahan, dan Harapan

Sekarang kita tahu, bahwa motif dibalik dari penilaian atau gambaran kita terhadap orang lain itu adalah keadaan psikis kita. Penilaian kita terjebak pada perasaan puas atau cemas pada diri kita.

Selama kita menyukainya, kita akan puas dan menilai orang tersebut baik, begitupun sebaliknya.

Hal yang sering terjadi, saat kita tidak menyukai suatu hal dari seseorang, kita mungkin bisa benar-benar benci pada orang tersebut dan menganggap dia jahat. Hingga kita lupa, bahwa personifikasi jahat pada orang tersebut bukan berasal dari orang tersebut, tapi dari kita sendiri.

Saat kita sedang membuka Instagram misalnya, lalu ada foto Young Lex, kemudian mbatin, "apaan sih, ndeso," Padahal, karena kita tidak menyukainya saja makanya kita menilai seperti itu.

Penilaian-penilaian yang begitu cepat ini begitu meresahkan, seakan-akan kita benar-benar paham siapa orang itu sebenarnya. Padahal, ironisnya kita sendiri mungkin tidak tahu siapa diri kita sebenarnya.

Sungguh menyedihkan, di mana kita berlagak sebagai Tuhan yang mampu menghakimi seseorang dengan mudahnya.

Aku menyadari, bahwa kita manusia tidak mungkin terlepas dari sebuah personifikasi. Namun harapanku, setidaknya mulai saat ini kita mampu lebih bijak dalam menilai seseorang.

Aku berharap, dunia ini dihujani oleh perasaan saling memahami, kasih sayang, dan keadilan.