Apa perbedaan antara Dewa 19 dengan Covid-19?

Dewa 19: Kirana
Covid-19: Korona

Dewa 19: Cukup Siti Nurbaya
Covid-19: Cukup di rumah saja

Dewa 19: Separuh napas
Covid-19: Sesak napas 

Dewa 19: Hadapi dengan senyuman
Covid-19: Hadapi dengan waswas

Dewa 19: Sedang ingin bercinta
Covid-19: Sedang jaga jarak

Dewa 19: Bukan cinta biasa
Covid-i9: Bukan virus biasa

Dewa 19: Risalah hati
Covid-19: Susah hati

Aku tertawa membaca postingan tersebut di media sosial (medsos) Facebook. Bisa-bisanya mereka menyambungkan antara virus Covid-19 dengan virus cinta (lagu-lagu) ala laskar cinta Dewa 19. 

Netizen +62 di medsos yang terkadang membuat hati susah dengan berbagai macam, dan jenis posting menjadi humoris karena sesuatu yang agak menghibur dengan melihat postingan nyeleneh, lucu, dan membuat hidup hari ini tidak terlalu tegang.   

(Karena) akhir-akhir ini psikologi kita mungkin agak terganggu dengan pemberitaan si Covid (kita sebut saja Mr. David) yang terus-menerus membuat kita sport jantung, syok, dan ketakutan karena berita "kehancuran ekonomi", kesusahan yang membuat duka lara, sampai kematian yang membuat pesimis menghadapi hidup. 

Sehingga, menurutku, posting di atas bisa sedikit membuat tersenyum bahkan tertawa. Bukan cuma tulisan diatas, yang bisa membuatku tersenyum (tertawa) dan menghilangkan "kebosanan yang tak berujung".

Ada juga yang seperti ini; “Seumur hidup baru kali ini hanya tidur dan rebahan di rumah saja sudah dianggap berjasa pada Negara.” #TidurLagiAh. Atau "Lirik lagu yang melampaui masanya, bangun tidur, tidur lagi...".

"Istilah Social distancing untuk anak IPS. Physical distancing untuk anak IPA. Kalau jaga jarak untuk anak Bahasa." 

Juga seperti ini; "Efek di rumah aja, jadi gagal diet." Dan "Di rumah juga wajib pake masker, biar gak ngunyah terus."

Atau ketika ada yang bertanya di sebuah grup, "Apakah perbatasan daerah A sudah di download?" Kemudian dibalas dengan jawaban, "Iya, tinggal di instal". 

Belum lagi gambar yang dibagikan yang menyangkut dengan “Lockdown” yang aneh tapi nyata yang buat kita ngakak, karena kesalahan tulisan yang entah disengaja atau tidak seperti gambar daerah yang dilockdown.

Namun dengan tulisan: LAUKDAUN, LOCKDONT, JALAN SEDANG DI DOWNLOAD, RW … MENERAPKAN SLOWDOWN, dan sebagainya.

Daripada posting-posting yang meminta LOCKDOWN pada pemerintah yang tidak jelas, mendingan kita melihat gambar LOCKDOWN yang "lucu-lucu" ini. 

KITA INI SIAPA?

WHO AM I? WHO ARE YOU?

Dari sebuah kiriman di grup WHATSAPP (WA) terkirim gambar yang mengilustrasikan mental area kita di era Mr. David ini yang terbagi atas tiga (3) yang tertulis:

Who do I want to be during Covid-19?

1. Fear zone: I grab food, toilet paper and medications that I don’t need. I spread emotions related to fear and anger. I complain frequently. I forward messages I receive. I get mad easily.

2. Learning zone: I star to give up what I can’t control. I stop compulsively consuming what hurts me, from food to news. I identify my emotions. I became aware of the situation and think how to act. I evaluate information before spreading something false. I recognize that we are all trying to do our best.

3. Growth zone: I think of the others and see how to help them. I make my talents available to those who need them. I live in the present and focus on the future. I am empathetic with myself and with others. I keep a happy emotional state and spread hope. I look for a way to adapt to new changes. I practice quietude, patience, relationships and creativity.

Gambar ini dibagikan seorang kawan yang tidak menyertakan sumber (penulis) sehingga bisa jadi kita masih di zona ketakutan (fear zone) membagikan informasi tanpa "kejelasan" referensinya. Namun, tulisan dari gambar ini setidaknya membuka mata kita sendiri, siapakah saya? Atau bahkan,siapakah anda?

Berikut terjemahannya yang diterjemahkan oleh Annastasia Ediati.

Siapakah aku di era Covid-19?  

1. Zona ketakutan: beli stok masker, obat, dan lain-lain secara berlebihan. Menyebarkan rasa takut dan marah. Sering mengeluh. Langsung membagikan informasi apapun dari medsos. Mudah marah.

2. Zona belajar: mulai menerima kenyataan. Stop membaca berita yang membuat cemas. Stop belanja berlebihan. Mulai mengenali emosi diri sendiri. Menyadari situasi dan berpikir untuk bertindak. Stop membagikan informasi dari media sosial yang tidak jelas kebenarannya.

3. Zona bertumbuh: mulai memikirkan orang lain dan bagaimana membantunya. Menggunakan bakat/kemampuan saya untuk mereka yang membutuhkan. Hidup di saat ini dan fokus ke masa depan (tidak menyesali masa lalu / terlalu khawatir dengan masa depan). 

Penuh kasih sayang pada diri sendiri dan orang lain. berterima kasih dan mengapresiasi orang lain. Menjaga emosi tetap bahagia dan menyebarkan optimisme. Mencari cara untuk beradaptasi dengan perubahan. Mempraktikkan keheningan, kesabaran, menjalin relasi, dan kreativitas.

Hmmm... semoga, kita bisa belajar dari sini. Setelah kita dari zona ketakutan yang seharusnya kita harus keluar dari sana. Kemudian masuk di zona belajar, yang setidaknya keluar dari informasi yang membuat sakit kepala, atau bahkan anxiety. Sehingga, postingan lucu bisa bisa mengobatinya. 

Lalu ketika kita berada di zona bertumbuh, kita yang telah mengambil hikmah dan pelajaran. Jadilah manusia yang memanusiakan manusia. Manusia yang humanis yang tidak menolak mayat pasien Covid. 

Bagi pengguna medsos paling tidak, pertahankan selera humormu dengan posting yang membuat orang lain bisa tersenyum dan tertawa. 

"Percayalah kita bangsa besar, bangsa petarung, bangsa pejuang. InsyaAllah kita mampu melewati tantangan global yang berat sekarang ini." (IG. Jokowi).

Jadi, siapa kita? Indonesia! Ayo, kamu bisa. Amin.