Mahasiswa
4 bulan lalu · 49 view · 3 menit baca · Ekonomi 64526_87316.jpg
nusanews.com

Siapa Dalang Penundaan Kenaikan Harga Premium?
Polemik Penundaan Kenaikan BBM, Langkah Strategi Penyesuaian

Sejumlah pihak menilai keputusan yang dikeluarkan oleh Menteri ESDM, Ignasius Jonan terkait BBM merupakan hal yang kurang tepat. Namun, pemerintah secara cepat mengambil langkah untuk melakukan penundaan terhadap kenaikan harga BBM, terkhusus premium. Meski terlihat plinplan pemerintah tentunya tidak akan serta-merta melakukan penaikan terhadap BBM, tentu terdapat sebuah bentuk strategi penyesuaian yang telah disusun.

Keputusan kenaikan harga BBM pada premium memang bertujuan untuk mengimbangi harga minyak dunia dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah yang sudah menyentuh angka Rp15.200. Akan tetapi, jika keputusan tersebut langsung ditetapkan para pelaku ekonomi, khususnya konsumen, akan semakin tertekan dengan permasalahan minyak dunia dan nilai tukar rupiah yang makin melemah. 

Tidak tanggung-tanggung jika kenaikan tersebut terlaksana, maka untuk daerah Jamali (Jawa, Sumatera, dan Bali), harga menjadi Rp7.000, sementara di luar Jamali harga menjadi Rp6.900 sehingga kenaikan tersebut bersekitar 7% untuk BBM jenis premium.

Perlu untuk diketahui bahwa ketika Menteri ESDM menyatakan pengumuman terkait kenaikan harga BBM jenis premium, dengan seketika rencana tersebut ditunda sesuai arahan Presiden Joko Widodo. Dan selanjutnya rencana kenaikan tersebut akan dibahas ulang sambil menunggu kesiapan PT Pertamina.

Arahan tersebut merupakan masukan dari peran Menteri BUMN Rini Soemarno yang perlu diacungkan jempol karena tidak gegabah menyetujui kenaikan harga BBM jenis premium. Berdasarkan hasil diskusi sebelumnya dengan PT Pertamina, Rini menyatakan kenaikan harga BBM premium belum siap dilaksanakan. Oleh karena itu, perlu dilaksanakan penundaan kenaikan harga BBM jenis premium dan akan dibahas ulang.

Menurut Deputi Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementrian BUMN Fajar Harry Sampurno, terdapat tiga alasan yang mendasari kenaikan harga BBM jenis premium, yakni kondisi keuangan negara, kemampuan daya beli masyarakat, dan kondisi riil ekonomi.

Hal tersebut membuktikan bahwa pemerintah, yakni Presiden RI beserta jajaran kementerian harus terus berpikir untuk memberikan kebijakan yang terbaik kepada masyarakat Indonesia, di samping banyaknya cobaan ekonomi yang menyerang hampir semua negara, seperti nilai tukar rupiah dan mata uang lain yang terus melemah dan harga minyak dunia yang tidak stabil. Sehingga tidak bisa kita katakan pemerintah ini bersifat plinplan karena keputusan yang instan. 

Pemerintah telah memikirkan strategi penyesuaian terhadap permasalahan ekonomi dunia. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan Direktur Pelaksana IMF Christine Legarde yang mengatakan bahwa Indonesia jauh dari krisis karena Indonesia sebagai negara emerging market masih sangat jauh dari krisis keuangan. Selain itu, indikator perekonomian Indonesia juga baik; seperti saat ini, krisis finansial terjadi di mana-mana, akan tetapi Indonesia memberikan rekaman sejarah yang bagus.

Sekali lagi, mari kita terus mendukung segala kebijakan ekonomi pemerintah karena pemerintah tidak akan mengambil keputusan dengan instan terkhusus masalah kenaikan harga BBM jenis premium. Mengingat bahwa BBM jenis premium masih banyak digunakan masyarakat tentunya akan berujung pada meningkatnya harga-harga produksi lain. 

Pemerintah telah berpikir sekuat tenaga untuk menyejahterakan rakyatnya. Sebaiknya kita tidak perlu terlalu kritis terhadap kebijakan yang telah diambil. Kita boleh kritis namun secara akademis dan teoritis. 

Jangan mudah terpancing oleh tagar-tagar yang dengan mudah dibuat untuk mengadu domba kita satu sama lain. Negeri kita masih membutuhkan pemikiran-pemikiran cerdas yang disajikan dalam bentuk data dan fakta sebagai bahan bertukar pikiran, sehingga menumbuhkan prinsip membiasakan sesuatu yang benar dan bukan membenarkan sesuatu yang biasa.

Terakhir, menurut saya, keputusan presiden merupakan bentuk strategi penyesuaian dan bentuk kepedulian Presiden RI beserta jajaran karena tidak langsung melaksanakan kenaikan harga BBM jenis premium yang dianggap mematikan. 

Maka dari itu, sebagai manusia yang mencintai hal-hal yang menguntungkan kita, berhentilah mengkaji sesuatu hal yang tidak kita kuasai, berhentilah mengonsumsi informasi yang tidak pasti, dan berhentilah untuk membagikan tagar-tagar yang tidak sesuai dengan realitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sesungguhnya pemerintah kita telah peduli terhadap kita sampai sedetail ini; kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan sampai hal ini.