Salah satu misteri terbesar sejarah Indonesia modern adalah siapakah dalang dari peristiwa Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965? Suatu peristiwa maha dahsyat, yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar (diperkirakan antara 500 ribu hingga 3 juta jiwa), dan perubahan kepemimpinan dari Soekarno ke Soeharto.

Sebuah peristiwa yang sayangnya belum terjawab dengan tuntas hingga saat ini, dan malahan semakin menimbulkan banyak pertanyaan bagi generasi saat ini.

Hermawan Sulistyo, dalam buku "Palu Arit di Ladang Tebu - Sejarah pembantaian massal yang terlupakan (1965-1966)", menyebutkan adanya lima skenario yang berusaha mengungkap siapa dalang peristiwa tersebut. Kelimanya secara ringkas adalah: 1. Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalang. Ini merupakan versi sejarah resmi; 2. Masalah internal angkatan darat: pendukung versi ini adalah Cornell Paper (sekilas mengenai Cornell Paper);

3. Soeharto sebagai dalang: skenario ini muncul ketika Soeharto membuat cerita yang tidak konsisten mengenai perjumpaannya dengan Latif); 4. Jaringan intelijen dan CIA; dan 5. Soekarno yang bertanggung jawab. Skenario ini didasarkan pada laporan interogasi terhadap ajudan Soekarno, Kol. Bambang Widjanarko.

Masing-masing skenario memiliki pendukungnya. Hanya saja, ada yang berpendapat bahwa tudingan Soekarno sebagai dalang G30S adalah paling absurd. Kenapa? Karena seakan Soekarno melakukan kup kepada dirinya sendiri yang masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia!

Apa jawaban Soekarno atas tuduhan bahwa dirinya yang bertanggung jawab terhadap G30S? Siapa dalang G30S menurut Soekarno? Jawaban Soekarno ada dalam pelengkap pidato Nawaksara, yang disampaikan kepada pimpinan MPRS tanggal 10 Januari 1967. Soekarno menyatakan bahwa peristiwa G30S ditimbulkan oleh "pertemuannya" tiga sebab, yaitu: kebelingeran pimpinan PKI, kelihaian subversi Nekolim, dan adanya oknum-oknum yang "tidak benar".

Sayangnya, Soekarno tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai ketiga pihak yang disebutnya. Barangkali ini memang khas Soekarno yang selalu berpikir dalam "garis besar", dan tidak jatuh dalam detil yang mendalam. Mungkin juga Soekarno enggan menunjuk secara gamblang nama-nama yang terlibat karena situasi politik saat itu sudah semakin membuat hilangnya kekuasaan dirinya.

Saat itu Soekarno berulang kali menyatakan bahwa dirinya merupakan Presiden Republik Indonesia yang sah, dan segala perintahnya harus dipatuhi. Tapi sejarah menunjukkan seruan Soekarno bagaikan suara sayup-sayup yang kehilangan otoritasnya.

Untuk penyebab pertama, "kebelingeran pimpinan PKI", sepertinya Soekarno sepakat bahwa memang ada unsur pimpinan PKI yang terlibat. Hal ini juga diakui oleh Sudisman, satu-satunya tokoh dari lima pemimpin PKI yang diadili.

Di persidangan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), Sudisman mengatakan, "Saya tidak bermaksud menyangkal bahwa beberapa pemimpin PKI terlibat dalam G30S...Seperti yang saya jelaskan, ada beberapa tokoh PKI, termasuk saya sendiri, terlibat dalam G30S...Tindakan para pemimpin PKI yang terlibat dalam G30S harus secara tegas dipisahkan dari PKI sebagai partai, yang sama sekali tidak tahu menahu mengenai G30S."

Pemisahan sebagaimana dimohonkan Sudisman tidak pernah terjadi, dan akibatnya jiwa melayang di banyak daerah di Indonesia, darah tertumpah tanpa terbukti bersalah, dan ribuan keluarga tercerai berai, serta anak cucu (bahkan mantu) korban menanggung penderitaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh mereka.

Mengenai penyebab kedua, yaitu "kelihaian subversi Nekolim (Neokolonialisme)", Soekarno sepertinya tidak salah ucap. Jejak keterlibatan pihak asing, khususnya Amerika Serikat (AS), melalui CIA, dalam usaha penggulingan Soekarno, nyata di tahun-tahun sebelumnya.

Buku karangan Audrey dan George Kahin,"Subversion as Foreign Policy - The secret Eisenhower and Dulles debacle in Indonesia", menunjukkan keterlibatan CIA atas pemberontakan PRRI/Permesta di tahun 1950-an. Bukan hal aneh bila AS ingin Soekarno segera jatuh karena suasana cold war saat itu. Buku terbitan Hasta Mitra tahun 2002, berjudul "Dokumen CIA: Melacak Penggulingan Soekarno dan Konspirasi G30S 1965", yang merupakan unduhan dari data CIA, bisa jadi rujukan.

Yang paling tidak jelas, ialah penyebab ketiga :"adanya oknum-oknum yang tidak benar". Siapa yang dimaksud Soekarno sebagai "oknum yang tidak benar"? Apakah Soekarno merujuk kepada beberapa perwira angkatan darat?

Cornell Paper memang menyebutkan masalah internal angkatan darat sebagai pencetus G30S. Pernyataan pertama Ketua Dewan Revolusi, Letkol Untung, yang disiarkan lewat RRI Pusat memang menegaskan seluruh kejadian itu merupakan masalah internal angkatan darat. Tapi sejujurnya, kita hanya bisa menebak-nebak. Entah sampai kapan.

Soekarno sudah menjawab tuduhan pada dirinya dan menyebutkan tiga hal penyebab G30S. Sekian generasi telah lewat, namun sampai sekarang misteri mengenai siapa yang menjadi dalang G30S toh tak juga terungkap. Rasanya, untuk waktu yang masih lama, misteri ini masih akan terus menghantui kita sebagai sebuah bangsa, dan menjadi pemanas isu politik menjelang situasi tertentu, untuk kepentingan sesaat para politisi haus kekuasaan.

Sampai kapan wahai para pemimpin negeri?