Ketika saya diberi amanah untuk menjadi operator pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UN-BK), saya sudah yakin bahwa tidak sepenuhnya ujian ini ‘hanya’ menggunakan komputer semata. Pemerintah ingin lebih maju dalam pelaksanaan ujian akhir sekolah, di sisi lain untuk memudahkan pelaksanaan ujian, dan mungkin juga untuk menghemat biaya dalam pencetakan lembar soal dan lembar jawaban ujian.

Budget yang sangat besar dikeluarkan oleh pemerintah melalui Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tiap tahunnya. Sebut saja untuk tingkat SMA/MA/SMK ada pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, IPA (pilih antara Kimia, Biologi dan Fisika) dan IPS (pilih antara Geografi, Sosiologi dan Ekonomi), dan SMK sesuai jurusan. Tingkat SMP/MTs adalah pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dan IPA.

Dalam satu tahun, pemerintah harus mencetak banyak sekali ‘kertas’ soal dan jawaban. Di tahun 2019 saja, tingkat SMP dan MTs terdapat 43.834 sekolah dengan total siswa peserta ujian 3.580.846 orang. Tingkat SMA dan MA ada 20.902 sekolah dengan total siswa 1.975.602 orang. Dan, tingkat SMK 13.305 sekolah dengan siswa 1.515.994 orang. (unbk.kemdikbud.go.id, akses 9/5/2019).

Dengan total siswa yang mengikuti ujian mencapai angka 7.072.442 dari 78.041 sekolah, wajar jika pemerintah tidak mau ambil pusing lagi dengan pelaksanaan ujian berbasis kertas dan pensil. Kita bisa memprediksi berapa banyak kertas soal yang harus dicetak untuk sekali ujian nasional dalam setahun.

Maka, pelaksanaan ujian nasional kemudian diubah strategi dengan menggunakan komputer. Penegasan pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UN-BK) tahun 2019 terdapat dalam Surat Edaran BSNP dengan Nomor 0101/SDAR/BSNP/XI/2018 tentang Penetapan POS Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) dan Ujian Nasional (UN) tahun 2019.

Mulailah kegaduhan masalah teknis dan lain-lain di lapangan seperti yang kami rasakan. Saya coba utarakan keunggulan dari UN-BK ini; simpel, mudah, dan hemat. Anak-anak cuma login ke aplikasi melalui browser, mengeklik pilihan jawaban pilihan ganda (A sampai E untuk SMA/MA dan A sampai D untuk SMP/MTs), log-out dan selesai.

Tugas kami sebagai operator kemudian adalah mengirim hasil ujian anak-anak ke server pusat Kemdikbud, persesi pelaksanaan ujian. Hasil akhir adalah mutlak dari BSNP yang kemudian dikirimkan ke satuan pendidikan masing-masing.

Orang berpikir, oh demikian enaknya ujian komputer. Benar. Saya akui itu. Peserta ujian masuk ke ruangan, duduk manis, berdoa, login, jawab soal, log-out, lalu pulang. Ada anak-anak yang datang dengan membawa diri saja padahal ujian hari itu adalah Matematika atau IPA.

“Siapkan pensil dan kertas kosong!” berulangkali saya menganjurkan anak-anak yang masuk ke ruangan dengan tangan kosong. Sekolah memang sudah lepas tangan dalam menyediakan pensil maupun kertas; karena semua sudah berbasis komputer. Tetapi, Matematika tetaplah pelajaran menghitung, membagi, mengali, dan IPA tetaplah memiliki soal dengan macam-macam rumus yang kemudian juga mengarah kepada tambah, bagi, kurang maupun kali.

Sah. Kertas dan pensil kemudian menjadi alat bantu yang sama sekali tidak bisa dilupakan. Saya sadar betul bahwa anak-anak tidak semuanya memiliki tingkat kecerdasan serupa. Bahkan, untuk anak-anak yang IQ tinggi sekalipun pasti membutuhkan kertas dan pensil untuk mencari sebuah benda dilemparkan ke atas dengan kecepatan 5 m/s lalu jatuh kembali ke tanah dengan kecepatan 3 kali lipat dari kecepatan semula, dan seterusnya sampai muncul pertanyaan konkret.

Perkalian, 1x1, misalnya masih bisa dikerjakan dengan mudah namun aturan main pemerintah saat ini dengan membakukan standar soal HOTS (High Order Thingking Skill), memadukan antara cara berpikir dan nalar dalam menyelesaikan soal. Apa yang dimaksud dengan besaran pokok? wajib dilupakan soal demikian karena yang akan muncul adalah; berapa jumlah besaran fisika pada tabel di bawah ini?

Tulis angka yang diketahui dalam soal, jabarkan rumus dasar, ubah rumus sesuai pertanyaan. Dan, itu tidak mudah dihapalkan di dalam kepala anak-anak kita. Mereka wajib mencoret; entah itu menggambar gunung atau kapal selam, deretan angka di jawaban tidaklah langsung keluar hanya dengan menambah, mengurangi, membagi maupun mengali. Semua soal yang terlihat telah melewati proses panjang oleh pakar dan ahli. Tiap jawaban sangat menipu sehingga anak-anak yang tidak mencari dengan rumus mudah saja terjebak jawaban.

Seorang anak dari kota A ke kota B menempuh waktu sekian menit. Selang waktu kota C dengan kota D sama dengan kota A ke kota B. Maka...., maka anak-anak akan mencari kertas dan mencoret pertanyaan sebelum menemukan jawaban benar atau keliru. Sekecil apapun pertanyaan menghitung itu, bagi anak-anak tingkat SMP tetaplah ‘meradang’ sepanjang 2 jam pelaksanaan UN-BK.

Di sebagian anak mudah sekali mendapatkan jawaban dari ½ x ½ namun di sebagian yang lain wajib mencari di kertas. Layar monitor yang menyala dengan soal-soal HOTS maupun semi HOTS – sesuai mau pemerintah – tidak sebanding dalam lamanya anak-anak mencari jawaban di kertas buram.

Sekali baca soal di layar monitor, atau dua kali, lalu dilupakan begitu saja. Rumus maupun angka-angka tetaplah di kertas buram dengan pensil tak pernah berhenti untuk menulisnya. Benar; langsung dapat jawaban. Keliru; ulangi lagi. Salah; pening kepala!

Sudah 2 tahun kami melaksanakan UN-BK dan saya menemukan beberapa anak tidak cukup selembar kertas dalam mencari jawaban. Matematika yang selalu disebut sulit oleh anak-anak; mungkin mereka lupa membawa kertas ataupun pensil selama ujian berlangsung. Tidak ada apa dan mengapa di soal Matematika; semuanya harus kalian hitung.

Kertas di sekitar kita tidak akan pernah pudar. Secanggih apapun teknologi terbarukan, kertas tetaplah kertas. Lihatlah apa yang dilakukan anak-anak sewaktu UN-BK. ‘Pekerjaan’ yang semula disebut aman dan terkendali tetapi juga harus menyiapkan kertas. UN-BK itu tak lain akhir dari semua untuk masa depan anak-anak kita.

Larangan membawa kertas dengan pensil terutama saat ujian Matematika maupun IPA, bentuk pemikiran bodoh dari pengawas dan pelaksana ujian. Ke manapun kita berangkat, ujung dunia manapun, Matematika dan IPA tetaplah pelajaran mencari angka. Dan, angka itu ditulis, dicatat, kemudian dapat hasil yang sebanding dengan pertanyaan.

Kertas di lingkungan sekolah sampai akhir zaman tetaplah ada. Ujian akhir memang telah mengandalkan komputer, guru mengajar menggunakan slideshow, tugas anak-anak dikirim menggunakan e-mail. Toh, ini hanya berlaku dalam jangka tak ditentukan. Di mana, anak-anak masih membutuhkan buku cetak, buku tulis, pensil dan kertas untuk mencoret kehidupan mereka.

Jikalau kita memikirkan fungsi kertas yang bersifat ‘ekslusif’ maka kita melupakan kegunaan kertas yang sepele. Apa yang saya sampaikan memang ah biasa saja tetapi sebuah pembenaran hakiki adalah saat anak-anak mendapatkan nilai bagus atau kurang dari harapan.

Makanya pelajaran Matematika dicari bukan dikhayal. Satu pendapat untuk anak-anak yang tidak mencari jawaban dengan menulis di kertas. Sekolah setinggi apapun, pandangan ini akan tetap berlaku.

Albert Einstein dalam merumuskan Teori Relativitas atau dikenal E=mc2 tentu saja mencoret secara terus-menerus sampai menemukan keseimbangan. Demikian pula dengan alQuran yang diturunkan berangsur-angsur, kemudian dianjurkan untuk menulis di batu-batu, pelepah kayu, di mana-mana, saat penghafal ayat-ayat suci ini makin berkurang.

Sebabnya apa? Karena semua yang tidak ditulis adalah bersifat fana. Saya acungi jempol untuk teknologi UN-BK yang sangat canggih. Sistem yang begitu modern sampai dipuji oleh banyak kalangan. Namun, begitu server utama rusak maka hancurlah semua yang telah dikerjakan. Tak ada yang memprediksi, jaringan internet putus, maka ujian ulang pakai kertas bisa menjadi solusi.

Komposisi kertas tetaplah ‘kertas’ sebagaimana yang kita ketahui. Sebagai guru dan pelaksana UN-BK, saya masih membutuhkan kertas meskipun hanya untuk menulis TOKEN ujian agar anak-anak bisa masuk ke menu soal. Cuma 5 huruf saja memang, tetapi 5 huruf ini akan mengubah dunia mereka!