Dominasi militer di Indonesia selama tiga dekade lalu cukup berpengaruh terhadap kehidupan kita hingga hari ini. Setiap Hari Pahlawan, kita kerap memperingatinya dengan atribut-atribut ala militer. Entah itu di desa atau kota hingga di sekolah maupun kantor pemerintahan.

Akan tetapi, pengaruh militer ala Orde Baru terhadap sipil rupanya tidak hanya berhenti pada lambang-lambang yang kasatmata. Bahasa mereka pun ikut merasuk menghegemoni tatanan hidup warga sipil.

Kata-kata seperti ”siap”, ”siap 86”, ”siap ndan”, ”laksanakan”, ”mohon izin”, ”lapor”, ”menunggu arahan”, dan ”siap laksanakan instruksi” telah jamak kita dengar, alami, bahkan secara tidak sadar kita praktikkan sehari-hari. Ragam cakapan seperti itu telah menggeser, bahkan menggusur, bahasa-bahasa yang lebih merepresentasikan kalangan sipil seperti ”oke”, ”baik”, ”baiklah”, ”halo”, ”hai”, dan ”menyampaikan info/informasi”.

Pola komunikasi junior-senior maupun sebaliknya di dunia militer tanpa kita sadari telah menjadi komunikasi kita sehari-hari. Tidak hanya komunikasi bawahan dan atasan, tapi juga relasi antarsejawat, antarteman, bahkan antarsaudara.

Perluasan Makna

”Siap”, ”siap ndan”, ”laksanakan”, ”mohon izin”, ”lapor”, ”menunggu arahan”, dan ”siap laksanakan instruksi” merupakan bahasa militer yang menunjukkan komunikasi atasan-bawahan, senior-junior, yang umumnya mengandung perintah atau instruksi. Setelah digunakan oleh kalangan sipil, bahasa hierarkis itu rupanya telah mengalami perluasan makna atau generalisasi sehingga menjadi lebih egaliter.

Kata siap, misalnya. Di kalangan militer siap umumnya digunakan bawahan atau junior kepada atasan atau senior manakala menerima sebuah instruksi. Biasanya dilengkapi menjadi siap laksanakan, siap ndan. Atau, yang belakangan muncul adalah siap 86.

Sewaktu sekolah tingkat dasar hingga tingkat atas dulu, saya hanya mengenal kata siap/siap laksanakan ketika menjalani upacara bendera hari Senin, upacara bendera hari-hari nasional, ataupun pada waktu latihan/lomba baris-berbaris. Pemimpin upacara selalu bilang lapor, hormat, dan siap laksanakan ketika tengah bertegur sapa dengan pembina upacara.

Di luar seremoni seperti itu, saya dan rekan siswa lain hampir tak pernah menggunakannya dalam tuturan sehari-hari. Demikian pula ketika mendapat perintah atau permintaan oleh orang yang dihormati seperti guru. Seingat saya, kami tak pernah menjawabnya dengan siap. Kata siap masih berada di ruang yang sangat eksklusif.

Makin ke sini, siap, lapor, dan hormat makin sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Baik secara langsung maupun melalui perantara seperti WhatsApp. Saya secara pribadi juga mengakui tidak jarang menggunakan bahasa-bahasa ala militer itu, terutama siap, bukan hanya dalam relasi perintah/instruksi, melainkan juga koordinasi.

Rasanya, siap kini telah mengalami perluasan makna atau generalisasi sehingga tidak hanya berfungsi sebagai bahasa hierarkis atasan-bawahan, bukan pula bahasa perantara pemberi dan penerima instruksi. Kata itu telah ”sama rata sama rasa” dengan baik, baiklah, dan oke. Bahasa itu telah pula menjadi bahasa koordinasi.

Jika merujuk pada KBBI, kata siap awalnya adalah kata kerja bermakna sudah bersedia, misalnya dalam kalimat anak-anak itu sudah siap menjalani ujian. Namun, kamus kemudian mewadahi juga yang berarti jaga baik-baik, contohnya dalam kalimat terdengar teriakan ”siap!”. Yang terakhir itu sepadan dengan oke atau iya yang berkategori partikel kata seru.

Bahasa Cakapan

Apabila siap, lapor, hormat, mohon izin di kalangan militer merupakan bentuk tertib komunikasi, tidak demikian di kalangan sipil yang justru sebaliknya: dapat memunculkan kesan akrab.

Ikhsan Yosarie (2018) yang juga pernah mengulas hal serupa menyebut gaya militer dalam komunikasi sipil terkadang cenderung mengarah pada basa-basi komunikasi semata. Pada titik ini, masih kata Ikhsan Yosarie, telah terjadi pergantian kebiasaan komunikasi di antara dua kata: siap militer dan siap sipil maupun lapor militer kontra lapor sipil.

Siap yang menyertai pola komunikasi militer, atasan-bawahan, senior-junior, misalnya dalam sebuah seremoni, berbeda dengan siap yang kita lihat, alami, dan bahkan praktikkan sehari-hari dewasa ini. Sebab, kata itu bisa muncul dalam pola komunikasi santai sekalipun, dalam bahasa cakapan, misalnya WhatsApp.

Bahkan, tanpa perintah pun orang latah menjawab dengan kata siap. Berikut ini saya petikkan bahasa-bahasa ala militer dalam sejumlah grup WhatsApp yang saya ikuti.

A: Naskah sedang diproses.

B: Alhamdulillah, siap.

C: Siap 86.

(siap menyubstitusi kata baik, bagus, oke)

A: Mudah-mudahan lancar, Kanda. Ketum kawal ketat ya...

B: Siap laksanakan, Mas.

(siap laksanakan menyubstitusi kata baik, segera dikerjakan)

A: Ngobrol...kita sudah selesai sore ini. Lancar, tidak putus-putus, tidak dibatasi waktu, dan aman terkendali. Terima kasih, Mas...

B: Siap.

(aman menggantikan kata lancar, siap menggantikan kata sama-sama)

A: Bos...Kalau saya boleh mengganggu telepon, kira-kira jam berapa sampean selo (longgar) waktunya?

B: Mas suhu, kulo (saya) siap diganggu kapan pun.

A: Siap grak, Mas Bos...

(siap grak menggantikan ucapan terima kasih)

Dari situ contoh-contoh itu bisa kita simpulkan, kata siap ternyata mengalami perluasan makna, luas sekali malah, dengan mampu mengeliminasi peran kata baik, bagus, oke,bahkan terima kasih sekaligus sama-sama.