Kata “sialan” itu saya tambahkan dari kalimat teman saya, kalau mau mati jangan ngajak-ngajak. Benar saja, dalam bus yang jendelanya cuma sedikit terbuka itu, ia merokok dengan lepas. Wajahnya yang semringah, tampak egois. Ia tak memedulikan sekitar.

Seperti berada di dalam kotak yang berisi gas beracun. Menghirup gas itu jelas tanpa sesal baginya. Kalau saya hanya bisa pasrah menutup hidup. Kepala saya pusing, lalu saya hanya berkeluh kesah dalam hati. Berbeda dengan teman saya, yang menegur salah seorang bapak yang sedang merokok di depan kami. Saya kagum dengan keberaniannya. Dan memang hal itu yang harus dilakukan.

Kenapa orang merokok di bus? Karena kurang ketatnya aturan merokok di dalam transportasi ini. Tidak tegas, tidak ada disiplin. Mungkin berbeda dengan bus AC, tapi tetap saja ada yang merokok. Meski sudah disediakan ruangan khusus untuk merokok, bau rokok akan tetap tercium, dan hal inilah yang paling saya benci.

Berbeda dengan di kereta api. Di kereta api, orang yang merokok akan diturunkan di stasiun berikutnya. Sebab adanya aturan yang baku dan cermat, adanya petugas di kereta api yang menegakkan aturan. Sementara di bus, hanya segilintir orang yang bisa menegakkan aturan.

Sebab aturan kadang tak dipatuhi. Bahkan polisi di lalu lintas, misalnya, memerintahkan aturan pun kadang digubris serta dilanggar. Aturan akan dipatuhi jika ia dilengkapi dengan Undang-Undang, adanya penegak hukum, dan juga kedisiplinan dalam menegakkan aturan.

Teman saya berhasil mengingatkan orang yang merokok. Karena orang itu pasti takut dengan perkataan teman saya. Ia perempuan dan berani mengungkapkan hal itu. Sebab pengalaman menuntunnya. Ketika ada yang merokok di depan perempuan yang sedang menggendong bayi. Katanya, apakah orang itu nggak punya otak? Masa merokok di depan bayi.

Saya hanya bisa mendengarkan dan membayangkan. Memang mengherankan orang merokok tanpa tahu apa yang dilakukannya.

Sebenarnya ia tahu, mungkin karena egonya yang ingin terlihat keren. Sehingga ia tetap berada di dekat bayi. Atau ia menggendong bayi itu sambil merokok. Mungkin karena ia menganggap kalau itu anaknya, jadi boleh-boleh saja, wajar anaknya tak akan protes. Kalau anaknya tahu, mungkin anaknya akan protes, dan bertanya mengapa bapaknya merokok?

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan bahwa merokok di smooking room menganggu aspek keamanan, kenyamanan, dan keselamatan penumpang. Pasal 115 UU No. 26 Tahun 2009 tentang Keselamatan mengaklamasi bahwa angkutan umum adalah Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Sehingga kita sebagai masyarakat diperbolehkan untuk protes kalau ada orang yang tidak menegakkan peraturan ini.

KTR masih belum efektif mengurangi perokok yang hadir menyempatkan diri merokok di setiap perjalanan kita. Baik di jalanan saat berjalan kaki maupun di kendaraan umum. Sebabnya tentu karena kurangnya kepatuhan dalam penegakan hukum, kurangnya kesadaran akan tindakan dirinya sendiri, dan pasti telah lenyapnya kedisiplinan.

Ada yang membawa bayi, dan ada orang yang merokok di bus. Padahal busnya ber-AC. Dengan ruangan yang banyak tertutup, dan jendela sedikit terbuka. Atau bahkan tidak ada jendela yang terbuka sama sekali. Sebagai orang tua, bagaimana sikap kita? Atau saya ganti pertanyaannya, bagaimana perasaan kita? Apakah kita ingin bayi dan anak kita terkena asap rokok?

Surat Edaran Nomor 29 Tahun 2014 tentang Larangan Merokok di dalam Sarana Angkutan Umum. Hal ini makin mempertegas bahwa orang dilarang merokok di dalam kendaraan umum. Kendaraan umum merupakan kendaraan yang menampung banyak penumpang dan untuk kepentingan orang banyak. Mungkinkah perokok tidak tahu? Says rasa perokok bukan orang bodoh, ia pun pasti juga bisa berpikir.

Perokok tidak memikirkan dampak dari rokok yang diiisapnya. Ia tak peduli dengan orang yang non-merokok. Ia pun tidak peduli pada orang yang perjalanannya sedemikian jauh, dan bagaimana orang itu ditemani bau rokok di sepanjang perjalanannya, berjam-jam lamanya. Bau rokok yang tak disukainya, dan sekaligus membahayakan kelangsungan hidupnya.

Ia enggan peduli pada ibu hamil, yang kemungkinan tepat berada dalam bus bersama dengannya. Ia tak menghiraukan semua hal itu. Yang diindahkannya ialah kenikmatan merokok, menghilangkan stres dengan merokok, dan beban hidup yang seakan amblas.

Merokok bisa menyebabkan kematian bagi orang lain. Yohana Magdalena dalam tulisannya berjudul “Merokok di Tempat Umum” di Kompasiana menyebutkan bahwa selama 2,5 jam setelah asap rokok diembuskan, udara tercemar itu tidak akan pergi meski baunya tak tercium lagi. Jadi asap rokok itu akan tetap berputar-putar di dalam bus tanpa kita sadari.

Efek dari perokok aktif memang berbahaya, tetapi efek perokok pasif juga tak kalah berbahaya. Padahal tidak merokok, tapi terkena dampak dari merokok. Sebab asap rokok menyebar ke mana-mana, apalagi jika kita dekat sekali dengan perokok. Sudah pasti baju, rambut kita akan langsung ikut bau rokok.

Menurut Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan 2013 dikutip dari Katadata Penulis Viva Budy Kusnandar bahwa jumlah perokok pasif di Indonesia mencapai 96,9 juta. Menurut pakar kesehatan, tulisnya, dari 100% bahaya asap rokok, 25% untuk perokok aktif dan 75% untuk perokok pasif. Artinya, rokok memang berpihak pada orang yang merokok, sedangkan yang kontra merokok akan mendapat celaka.

Pak Sutopo bukan perokok, tetapi merupakan perokok pasif yang menderita kanker paru-paru stadium empat. Dr. Sutopo Purwo Nugroho yang saya lihat di TV merupakan seorang yang bekerja di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Beliau telah wafat akibat penyakit yang bermula dari asap rokok.

Meski menggunakan masker, menutup hidung dengan baju, bau rokok akan tetap tercium. Asapnya tetap berkeliaran. Orangnya tetap santai, juga apatis. Saya yang sensitif terhadap bau rokok, akan lekas menjauh. Kalau tak bisa, akan marah dalam hati.

Sebab saya benci jika baju saya bau rokok. Rambut saya bau rokok. Paru-paru saya penuh asap rokok. Saya menganggap perokok adalah orang yang egoistis, yang hanya mementingkan dirinya.

Kalau Anda merupakan perokok, kemudian pernah merokok di dalam bus, atau merokok di kendaraan umum, atau merokok dekat dengan orang yang bukan perokok, atau merokok di dekat bayi, atau merokok berseberangan dengan ibu hamil, lalu membaca tulisan ini, saya harap Anda tersinggung dengan tulisan saya. Dan menyadari kekhilafan kepalsuan Anda. Terima kasih.