Agama Islam yang bisa kita nikmati sekarang ini tak perlah lepas dari perjuangan ulama-ulama terdahulu. Merekalah yang telah berupaya untuk menyebarkan ajaran Islam sampai ke pelosok-pelosok negeri. Mereka berdakwah siang dan malam untuk menyebarluaskan ajaran yang dibawa oleh Nabi akhir zaman tersebut.

Setiap daerah memiliki para ulama yang bertugas menjadi penyebar dakwah kepada masyarakat setempat. Jika di tanah Jawa kita mengenal Walisongo, maka di daerah Sumatera Barat ada pula seorang penyebar dakwah Islam yang tak kalah luar biasanya dibandingkan dengan sembilan wali itu.

Ia bernama Kunun, akan tetapi teman sebayanya biasa memanggil dengan sebutan “Si Pono”. Kunun atau Pono ini dibesarkan dalam lingkungan keluarga miskin di desa kelahirannya di Guguk Sikaladi, Nagari Pariangan, Padang Panjang. Sekarang daerah itu termasuk bagian dari Kabupaten Tanah Datar.

Oleh karena beberapa alasan, Pono beserta keluarganya berangkat meninggalkan kampung halamannya untuk mengadu nasib di negeri orang. Daerah itu bernama Sintuak, berjarak lebih kurang 20 Km dari Ulakan.

Daerah terakhir merupakan tempat pertama Pono menuntut ilmu dan di sana pula kelak ia akan disemayamkan untuk terakhir kalinya. Baik Sintuak maupun Ulakan, keduanya merupakan daerah yang berada pada wilayah Kabupaten Padang Pariaman.

Di Ulakan, ia berguru kepada salah seorang ulama yang bernama Tuanku Madinah. Sesuai namanya, ia merupakan ulama yang berasal dari daerah Madinah. Dengannya Pono mulai belajar berbagai macam ajaran-ajaran Islam. Mulai dari tauhid, praktek ibadah, mengaji al-qur’an dan tafsirnya, serta pelajaran-pelajaran keislaman lainnya.

Malang tak dapat ditolak,  mujur tak dapat diraih, belum sempurna keilmuan Pono, Tuanku Madinah dipanggil oleh Allah s.w.t. menuju keharibaan-Nya. Betapa sedih dan duka menyelimuti hati Si Pono. Maka untuk sementara waktu ia kembali dulu menemui keluarganya di Sintuak.

Di rumah, Pono teringat akan pesan dari Tuanku Madinah yang menganjurkannya untuk menuntut ilmu ke negeri Aceh. Di samping untuk menyempurnakan keilmuannya, ia pun sudah lama ingin menuntut ilmu dari seorang ulama besar yang tinggal di daerah Aceh tersebut. Ulama itu bernama Syekh Abdur Rauf As-Singkili.

Maka berangkatlah Pono ke negeri Aceh meninggalkan sanak keluarga serta kampung halaman guna untuk menuntut ilmu bekal mengarungi samudra kehidupan yang begitu luas. Setibanya di Aceh, Pono langsung menuju tempat kediaman Syekh Abdur Rauf dan tinggal bersama dengannya.

Selama menuntut ilmu bersama gurunya itu, ada beberapa kejadian luar biasa yang dialami oleh Pono. Meskipun cerita itu masih belum bisa dipastikan kebenaran dan kesahihannya, tetapi sebagai pelajaran ada baiknya pula untuk dinukilkan.

Suatu hari, Syekh Abdur Rauf ingin menguji kesetiaan dan kepatuhan murid-muridnya. Di hadapan murid-muridnya ia memberitahukan, bahwa cincinnya (ada yang mengatakan botol kapur) terjatuh ke dalam kolam jamban miliknya. “Siapa di antara kalian yang bersedia membantu untuk menemukannya?”

Semua diam. Tak seorang pun yang menyanggupinya, kecuali seseorang menunjuk menyatakan kesediaannnya. Dialah Pono, murid dari Minangkabau. Seraya bergerak menghampiri gurunya, ia dengan sikap hormat mula-mula mencium tangan gurunya itu.

Dengan keyakinan yang penuh dan berserah diri kepada Allah s.w.t. ia menuju lokasi yang dimaksud dengan diiringi Syekh Abdur Rauf beserta kawan-kawannya. Tanpa terlebih dahulu membuka pakaiannya, Pono langsung mencebur ke dalam  kolam yang penuh dengan kotoran itu.

Cukup lama juga ia tidak muncul-muncul ke permukaan, sehingga teman-temannya bertanya-tanya. Namun tak lama kemudian, Pono tiba-tiba muncul sambil mengacungkan tangannya ke atas. Di ujung jari telunjuknya terlihat sepotong cincin menempel, sambil berkayuh ke tepi dengan sebelah tangan untuk mencapai pinggir kolam jamban tersebut.

Itulah salah satu peristiwa luar biasa yang dialami oleh Pono selama menuntut ilmu dengan Syekh Abdur Rauf. Persitiwa itu sekaligus juga  merupakan ujian baginya. Alhasil, Pono berhasil melalui dan melewatinya.

Setelah Pono selesai menimba ilmu di Aceh, ia pun hendak kembali ke kampung halamannya untuk menyebarkan dan mengajarkan apa yang telah ia dapat selama belajar bersama gurunya itu.

Sebelum kembali, Syekh Abdur Rauf menyematkan gelar Syekh kepadanya dengan bergelarkan burhan ad-din, yang berarti petunjuk agama. Supaya kelak ia menjadi seseorang yang memberikan petunjuk melalui agama ini kepada semua orang.

Demikianlah sekelumit kisah Pono yang hari ini ramai orang berziarah ke makamnya. Dia tak lain dan tak bukan adalah Syekh Burhanuddin Ulakan, salah seorang ahli tarekat yang sangat terkenal di seluruh penjuru Minangkabau. Setiap saat ada saja orang yang datang ke makamnya untuk berziarah.

Untuknya, semoga Allah ampuni dosanya, ditempatkan di taman di antara taman-taman surga. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari kisah Si Pono, Ulama yang tanamo tersebut.