Tiap manusia memiliki sidik jari yang berbeda. Itulah titik kecil yang membuktikan keberagaman kita. Selain beragam suku dan adat istiadat, sifat-sifat individu pun berbeda.

Segala aspek dalam diri tidak bisa disamakan dan dibandingkan dengan orang lain. Kita dengan keunikan masing-masing, dengan satu-satunya wujud di dunia ini yang tidak mungkin menjadi "cermin" kita. Bahkan kembar identik pun pasti ada perbedaannya.

Rambut boleh sama berwarna hitam, darah sama berwarna merah, tapi sifat-sifat siapa yang tahu? Beraneka sifat melekat di dalam diri, salah satunya sifat 'mengharapkan segala sesuatu tanpa cela'.

Bagaimana ada sesuatu yang tanpa cela? Sedangkan di dunia ini wadahnya ketidaksempurnaan dan kefanaan. 

Tapi, itulah uniknya. Meski sadar dengan keadaan tersebut, sifat itu masih saja melekat pada diri seseorang yang kerap dijuluki si perfeksionis.

Kedudukan sifat perfeksionis sama saja seperti sifat-sifat lain, sama-sama ada positif dan negatifnya. Sifat tersebut hanyalah satu ragam lain yang ikut mewarnai keberagaman sifat manusia di bumi ini.

Pernahkah melihat seseorang terlalu insecure dengan ujung buku yang tak sengaja terlipat? Itulah si perfeksionis.

Ya, mungkin pernah menjumpai sebagian orang yang meminjamkan bukunya, lalu berkata, "Hati-hati, ya. Jangan sampai lecek!" Mungkin bagi si peminjam buku, kata-kata itu terdengar sarkas. Tapi, memang begitulah karakter si orang perfeksionis.

Jangan salah paham dahulu, tidak ada niat mereka menyakiti hati orang lain dengan kata-katanya. Karena aku salah satu dari mereka yang dianugerahi sifat perfeksionis dan tidak berniat sama sekali menyakiti hati orang lain.

Aku yang mengharapkan serbabaik dalam segala hal, tidak tahu kenapa semua ini bisa terjadi. Semua terasa mengalir begitu saja seperti aliran air dan arusnya. Tanpa sebab-musabab yang diketahui.

Biasanya, orang-orang perfeksionis sudah punya rancangan rencana yang akan dilakukannya beberapa saat kemudian. Jadi, jangan heran jika orang ini penuh dengan segudang rencana yang ingin diwujudkannya.

Mereka juga punya folder barang masing-masing dan wajib meletakkannya di tempat tersebut. Misalnya, buku-buku yang selalu tertata rapi di rak sesuai kategori; baju-baju tersusun berdasarkan warna atau bahan yang sama; dan perkakas-perkakas lain sesuai tempat yang sudah diaturnya.

Sifat manusia bak warna-warni bunga yang bermacam-macam. Keanekaragaman itu akan menghasilkan keindahan. Seperti bunga-bunga di taman.

Dampak Positif

Jika berdekatan dengan si perfeksionis, hampir keseluruhan tampilannya rapi dan bersih. Hal ini dikarenakan dia memang suka dengan kerapian dan kebersihan.

Jika menemui sedikit saja noda di bajunya, dia bisa berubah insecure dan tidak tenang sebelum noda itu dibersihkan. Juga, "pandangan"-nya akan terganggu saat melihat ketidakrapian dan ketidakbersihan. 

Kemungkinan positifnya, dia akan menularkan efek tersebut kepada lingkungan sekitar dengan komentar dan sarannya. Sebab, mereka juga ingin melihat apa yang dilihatnya sama seperti dirinya.

Dengan segudang rencana, biasanya mereka akan berusaha keras mencapai impiannya. Tak heran jika teman-teman mereka berdecak kagum terhadap ambisi dan aksinya.

Karakternya yang "harus" serbabisa, sedikit-banyak pasti memotivasi teman-temannya untuk menggapai mimpi masing-masing. Sehingga dia bisa menularkan semangat aksi kepada orang lain.

Orang-orang perfeksionis ialah individu yang mandiri. Mereka jarang meminta bantuan orang lain jika tidak benar-benar terpaksa. Bagi mereka, mengerjakan apa-apa sendiri lebih membuktikan tanggung jawabnya.

Mereka tidak mau manja dan merepotkan orang lain. Jadi, santai saja berteman dengan mereka yang perfeksionis, karena tidak terlalu dipusingkan dengan 'sedikit-sedikit minta tolong'.

Dampak Negatif

Positif dan negatif tak dapat dipisahkan bak dua sisi mata uang logam. Selalu melengkapi keberadaan segala sesuatu. Pun bagi si perfeksionis.

Meskipun mereka dianugerahi hal-hal positif yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain, mereka juga memiliki kekurangan. Mereka rawan terkena stres.

Dengan ketelitian dan insecure yang berlebihan, mereka terlalu kaku. Jika segalanya tidak berlaku seperti yang diharapkan, mereka cenderung terlalu dalam menyalah diri sendiri.

Misalnya, noda di sepatu putih baginya adalah suatu kesalahan dan bisa membuat mood-nya hancur, meski bagi orang lain itu hal sepele.

Orang-orang perfeksionis kerap kali didiskriminasi karena dianggap bertele-tele dengan semua harapan "kesempurnaannya". Mereka kerap diidentikkan dengan 'lebay'.

Padahal, memang seperti itulah karakter si perfeksionis. Anggapan orang lain sering menyakiti hatinya, karena dia sendiri tidak tahu mengapa bisa berkarakter begitu.

Aku dan orang-orang perfeksionis tidak pernah ingin menyakiti orang lain, apalagi berkata sarkas. Bahkan sering tersiksa oleh sifat sendiri.

Aku sadar, aku terlalu kaku dan teliti. Hingga apa-apa yang tidak teratur sering membuatku jengkel. Tapi, aku lebih jengkel lagi kenapa aku tidak bisa sedikit saja fleksibel.

Apa pun yang terjadi, semua hal pasti ada positif-negatif; baik-buruk; pro-kontranya masing-masing. Solusinya, menerima dan mencintai diri sendiri adalah kewajiban, baru kita bisa menghargai perbedaan.

Kita dengan beragam sifat sebaiknya penuh dengan kemakluman. Jangan sampai perbedaan malah meretakkan. Ya, perbedaan itu indah, seindah warna-warni pelangi setelah hujan reda.