Si penyair itu bernama Irianto Ibrahim. Penyair dari Buton yang dikenal sebagai negeri para Resi. Letaknya ada di tenggara pulau Sulawesi.

Dalam KBBI, Resi adalah petapa atau orang suci. Resi juga diartikan sebagai penyair yang mendapat wahyu dalam agama Hindu. Maka tak heran ia pandai dalam bersyair atau membuat puisi-puisi.

Bertemu Lewat Puisinya

Irianto Ibrahim. Saya sudah lama mendengar namanya. Namun belum pernah sekalipun bertemu langsung dengannya.

Saya hanya pernah bertemu lewat puisinya dalam buku kumpulan puisi "Buton, Ibu dan Sekantong Luka". Kira-kira 2012 silam, buku yang saya pinjam dari teman saya. Saya tertarik dengan judulnya, karena menyebut kampung halaman saya. Dari situlah saya awal mengenalnya, sebagai seorang penyair yang berasal dari Buton dengan berbagai karya puisinya.

Selain bertemu lewat puisinya dalam buku itu, saya juga pernah berkomunikasi dalam dunia maya. Sekitar awal Februari 2020.

Saat itu saya berkomentar dalam sebuah postingan Facebooknya sekaligus meminta izin untuk men-share-nya. Ia menuliskan puisinya yang berjudul "Masih Bisakah Kita Baku Bicara?" yang membahas tentang masalah seorang jurnalis yang dilaporkan oleh pejabat di kampung halaman kami karena dianggap mencemarkan nama baik. Puisinya sangat menyentuh dan punya pesan akan nilai-nilai kekeluargaan.

Di sini saya mulai tertarik  ingin sekali ngopi dan berdiskusi langsung dengannya, khususnya bercerita mengenai kampung halaman. Apalagi banyak puisinya menyangkut kampung halaman. Lewat puisi-puisi karyanya, saya tahu ia begitu sayang dan punya perhatian besar kepada kampung halamannya.

Mengutip kalimat seorang filsuf Aristoteles, "Puisi lebih baik dan lebih filosofis dari sejarah, karena puisi mencurahkan seluruh alam semesta, di mana sejarah hanya menceritakan sebagian", maka saya yakin apa yang ditulis Irianto Ibrahim dalam setiap puisinya adalah sesuatu yang jujur dan utuh.

***

Saat berselancar di dunia maya, saya tidak sengaja membaca sebuah postingan di Facebook yang membahas mengenai sebuah buku kumpulan puisi. Judulnya adalah "Yang Berakhir dengan Pertanyaan" yang ditulis oleh Irianto Ibrahim. Itu adalah buku yang baru saja diterbitkan.

Sontak saya langsung menghubunginya via Instagram. Ingin memesan buku itu. Ia mengarahkan ke orang yang bertugas memasarkan.

Saya telah meniatkan bahwa jika dapat duit THR, saya akan sisihkan untuk bisa membeli buku itu. Tidak usah berbelanja baju lebaran, karena sekarang lagi situasi pandemi, sebisa mungkin menghindari keramaian. Stay at home, perbanyak membaca buku dan menulis.

Alhamdulillah, setelah menunggu tidak sampai seminggu, malam ini buku itu ada juga di tangan saya. Tidak sabar ingin membacanya. Bertemu lagi dengannya lewat puisinya. Menyelam dalam setiap bait-bait puisi yang ia rangkai dengan kata-kata sederhana. Mencari makna dan memetik nilai di setiap puisinya.

Ketika saya membuka halaman pertama, ternyata ia membubuhkan tanda tangannya. Menuliskan nama saya yang disapa dengan sapaan "Sahabat Falihin Barakati". Betapa bangganya saya.

Lalu ia melanjutkannya dengan menuliskan sebuah kalimat "Saya tidak sabar untuk ngopi dan diskusi tentang banyak hal denganmu".

Saya membatin, "Lebih-lebih saya, Bang."

Pertemuan yang Berakhir dengan Pertanyaan

Tidak perlu menunggu waktu lama untuk bisa bertemu langsung dengannya. Tidak berminggu-minggu. Tidak berbulan-bulan. Apalagi bertahun-tahun. Hanya dua hari sejak saya bertemu lewat puisi-puisinya dalam buku "Yang Berakhir dengan Pertanyaan".

Itu pun saya belum selesai membaca seluruh puisi dalam buku itu. Masih beberapa saja. Padahal hanya 37 puisi. Hanya 69 halaman saja. Kalau hanya dibaca, mestinya sejam pun selesai.

Tapi puisi beda. Membacanya tidak bisa seperti membaca karya tulis lainnya. Entah novel, esai atau buku nonfiksi. Memang puisi itu sedikit, hanya berisi bait-bait. Tidak panjang kali lebar. Tapi di dalamnya terkandung makna yang dalam. Juga banyak nilai-nilai yang tersirat yang menjadi pesan penulisnya.

Semisal saya, jika menulis opini atau esai butuh dua sampai tiga halaman penuh untuk menggambarkan suatu peristiwa. Harus jelas apa yang menjadi gagasan dan pokok pikiran yang ingin disampaikan.

Sementara puisi bisa jadi cukup hanya satu, dua, tiga atau beberapa bait saja untuk menggambarkan suatu peristiwa. Makna dan nilai-nilainya tersirat, butuh perenungan yang dalam bagi siapa yang membacanya. Bukan hanya melibatkan pikiran tapi juga perasaan. Butuh perenungan. Butuh penghayatan. Butuh ketenangan. Hingga kita bisa memetik makna, nilai atau pesan dalam puisi.

Itulah hebatnya puisi. Ibarat angin, membacanya seperti angin sepoi-sepoi. Bukan angin topan atau badai.

***

Malam ini kami bertemu. Di sebuah kedai kopi. Kedai Ratu Alam, kedai yang tidak hanya menyediakan kopi tapi juga makanan tradisional khas Muna. Nuansanya juga menarik, serasa di kampung halaman.

Tapat malam Jumat, yang menurut banyak orang malam keramat. Malam yang menyeramkan. Seseram keadaan dalam puisi "Reportase Kematian" yang ada dalam bukunya - kebetulan saya membacanya sudah sampai di puisi ini.

Tapi malam Jumat ini berubah menjadi malam damai. Tenang dan menyenangkan. Menjadi malam yang bersejarah bagi saya. Bisa bertemu langsung penyair yang selama ini hanya saya temui lewat puisi-puisinya.

Ia datang dengan kaos oblong berwarna putih. Dengan celana selutut dan sandal jepitnya. Begitu sederhana. Sesederhana kata-kata dalam puisi-puisinya.

Padahal selain seorang penyair, ia juga adalah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi negeri. Ia dikenal juga dekat dengan para pejabat di daerah. Tapi memang para penyair kebanyakan berpenampilan sederhana.

Suatu kebanggaan bisa duduk semeja, ngopi dan bercerita dengannya. Begitu santai. Sesekali juga tawa dan canda hadir di tengah-tengah cerita.

Banyak hal yang kami ceritakan. Tentang masa depan. Tentang rencana-rencana yang akan dilakukan.

Bahasan menjadi sedikit serius ketika bercerita tentang kampung halaman, Buton Tengah. Membuat kopi hitam makin kencang diseruput. Rokok pun berantai, putus sambung.

Banyak hal yang harus dikabarkan di sana. Kepada masyarakatnya. Kepada generasi mudanya. Lebih-lebih kepada pemerintahannya.

"Entah kapan ia akan pulang ke kampung halaman. Menyusul puisi-puisinya yang lebih dulu sampai di sana. Turun tangan, menjamah langsung mereka di sana. Besok kah? Lusa kah? Atau Kapan?" Masih berakhir dengan pertanyaan.