"Apa itu pemberontak? Seseorang yang mengatakan tidak." -Albert Camus


Sepanjang sejarah "per-filsafat-an", Camus adalah salah satu atau mungkin satu-satunya filsuf absurd. Ia juga sering dilabeli sebagai penulis, pemikir eksistensialis, hingga anarko-sindikalis. Namun Camus dengan tegas menolak sebutan penulis atau filsuf eksistensialis, apalagi seorang absurdis. Dan pada kenyataanya, sepertinya ia lebih suka untuk tidak diberi julukan apa pun, kecuali "Pemberontak".

Satu yang jelas darinya adalah fakta bahwa ia berdarah Prancis dan Spanyol, juga dilahirkan di Aljazair.  Dalam konteks pemikiran, ia juga agaknya berbeda dari para filsuf lain, bahkan dengan filsuf seperti Soren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche hingga Jean-Paul Sartre yang bertopang pada aliran eksistensialis.

Distingsi yang jelas antara Camus dengan para filsuf eksistensialis adalah perkara makna. Sebab, beberapa filsuf eksistensialis seperti Kierkegaard dan Nietzsche, menekankan makna pada setiap individu.

Pendek kata, keduanya mengharuskan manusia agar lekas memaknai hidupnya. Dengan kata lain, kita sebagai manusia diharuskan untuk menjalani kehidupan dengan penuh makna atau esensi.

Layaknya Kierkegaard yang mentransfigurasi makna segala eksistensi (meski ironi) pada dimensi ilahi, dan Nietzsche yang meledakan setiap tragedi dengan makna Amorfati-nya yang melegenda.

Tapi Camus adalah anomali. Ia adalah jalan lain, tepatnya jalan pintas pemikiran filosofis. Di antara bumi yang terus berputar cepat, roda-roda pemikiran yang mengharuskan manusia untuk hidup dengan penuh makna dan beberapa manusia yang lari dari absurditas, Camus menghadapi hari dengan tangan kosong.

Camus juga berkata bahwa kehidupan sudah cukup ganjil, pandir, aneh, abnormal juga absurd. Secara tidak langsung, Camus menganggap bahwa setiap manusia tetap dapat hidup dengan nirmakna, alias nirguna pun tetap tidak masalah dan tidak apa-apa. Dan Camus seakan menjadi oase bagi beberapa manusia yang terlunta-lunta, yang kehausan oleh sebab tiada air (makna) untuk diminum

"Jangan berjalan di depanku, aku mungkin tidak akan mengikutimu. Jangan berjalan di belakangku, aku mungkin tidak akan memimpinmu. Berjalanlah di sampingku, cukup jadilah temanku." -Albert Camus

Mitos Sisifus

Sejatinya, esai filsafat berjudul Le Mythe de Sisyphe / The Myth of Sisyphus (Mitos Sisifus) adalah pernyataan dari Camus atas pertanyaan manusia tentang kebermaknaan. Dalam esai itu, Camus menyoal perihal masalah klasik atas eksistensi setiap individu, yang niscaya digerogoti dunia absurd.

Camus menunjukan bahwa manusia (sebagai bagian absurditas itu sendiri) tidak mungkin dapat menghindar, atau lari dari mimpi buruk kesia-siaan kehidupan, juga ketidakbermaknaan kematian.

Mitos Sisifus, menggambarkan bahwa hidup memanglah absurd dan itu tergambar jelas dari seseorang bernama Sisifus. Menurut mitos dari Yunani Kuno, Sisifus dulunya adalah seorang raja. Namun karena ia menjadi raja yang terlampau tiran, bengis nan kejam, ia mendapat hukuman dari Dewa di Gunung Olympus.

Sisifus dihukum, atau tepatnya dikutuk untuk mendorong batu raksasa ke puncak gunung, ketika batu itu sampai di atas, maka batu itu akan menggelinding kembali ke bawah dan Sisifus harus mengulanginya lagi dari awal, hingga ditelan masa.

Sehingga, hanya itu kehidupan yang dimilikinya. Pada taraf kesadaran yang umum, kutukan abadi untuk terus mendorong batu ke puncak lalu mengulanginya lagi dari dasar adalah kutukan yang menyedihkan, suram, tanpa harapan, juga tidak berguna. Namun Camus melihat kutukan ini justru hampir sama dengan nasib manusia di dunia.

Persis seperti manusia yang lahir, lalu berkutat dalam pengulangan suka dan duka tiada akhir, sia-sia, tidak bermakna, tidak jelas, singkatnya absurd.

"Jangan menunggu hari penghakiman di hari akhir. Itu terjadi setiap hari." -Albert Camus

Satu sisi dari Sisifus, yang jarang kita sadari adalah perihal penerimaan yang tanpa syarat, sekaligus pemberontakan pada saat yang sama. Dengan lapang dada, ia menerima kutukannya meskipun menyebalkan, kala harus mengulang lagi dari awal. Namun berbekal api pemberontakan yang terus menyala, ia tetap membakar gairah untuk menjalani kutukannya tanpa pernah sejenak pun mengeluh, menyerah apalagi bunuh diri.

Lagipula, pada hakikatnya, kehidupan adalah satu paket dengan kematian. Kita semua akan mati, dan andaikata Sisifus dapat mati agar terhindar dari kutukannya, maka ia tidak akan melakukannya. Plot twist-nya adalah Sisifus tahu bahwa bunuh diri, baik secara ragawi maupun filosofi adalah bunuh diri, yang hanya dilakukan seorang eskapis. Oleh karena hatinya sudah merasa cukup, ia bahagia bersama kutukannya yang absurd.

Maka pantaslah bila Sisifus dianugerahkan gelar pahlawan absurd. Bagaimana tidak? Sisifus sudah melebur dengan segala yang absurd, bahkan manunggal dengan batu (beban, masalah, konflik) yang bersetia ia dorong terus menerus (menerima dan memberontak).

Secara filosofi, Sisifus memberi pelajaran bermakna pada manusia. Pelajaran itu adalah bahwa se-berengsek, se-bangsat, se-bajingan, se-bengis, se-sadis, se-brutal, se-suram, se-sulit, se-kacau, se-absurd apapun hidup kita, kita tetap dapat bahagia, sehingga menyerah (bunuh diri) bukanlah pilihan yang tepat.

"Seseorang harus membayangkan Sisifus bahagia." -Albert Camus

Bunuh Diri

"Hanya ada satu problem filsafat yang benar-benar serius, dan itu adalah bunuh diri" demikian pernyataan Camus dalam esainya The Myth of Sisyphus (Mitos Sisifus).
 
Jadi, apakah hidup yang absurd ini layak untuk dijalani? Tergantung. Tergantung dari apa yang kita cari. Bila kita mencari kepastian, kejelasan dan keteraturan maka hidup sepertinya tidak akan pernah membuat kita nyaman, betah apalagi bahagia.

Bagi kebanyakan orang, kehidupan tanpa makna bukanlah kehidupan yang layak dijalani. Inilah mengapa banyak dari kita, mengakhiri hidup secara sengaja alias bunuh diri. Dan Camus memahami hal ini, lalu menanggapinya secara langsung. Ia menyarankan kita agar bertanya pada diri kita sendiri, apakah kehidupan ini layak untuk dijalani atau tidak. Namun Camus menyimpulkan, bahwa bunuh diri sebenarnya tidak banyak membantu kita.

Oleh sebab tidak ada lagi makna kematian dalam kehidupan. Bunuh diri hanya peralihan, dari pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang membuat kehidupan layak dijalani. Akan tetapi, sehubungan dengan makna apa yang mungkin kita temukan, itu juga pada kenyataannya tidak banyak membantu.

Sekali lagi, hidup memang absurd, tetapi keberanian kita untuk menghidupi keabsurdan tentu sudah lebih dari cukup. Kita dan Sisifus, mungkin memang dikutuk untuk hidup dalam dunia yang absurd, namun pencarian makna yang lazim membuat kita sulit bahagia, niscaya lebih menyedihkan dan mengerikan dari keabsurdan itu sendiri.

Lagipula, bunuh diri (ragawi) tidak akan pernah mengisi kekosongan hati kita. Perihal baik-buruk dan benar-salah, agaknya kita harus setuju pada Sartre, bahwa baik-buruk dan benar-salah tindakan bunuh diri, hanya dapat dinilai oleh si pelaku sendiri.

"Mungkin banyak dari kita bermimpi buruk kala tertidur. Namun sialnya, beberapa dari kita bermimpi buruk kala terjaga."

Leap of Faith

"Kau tak akan pernah bahagia, bila terus menerus mencari apa itu bahagia. Kau tak akan pernah merasa hidup, bila terus menerus mencari arti hidup."
-Albert Camus

Sejatinya, tulisan-tulisan dan filosofi Camus dipenuhi dengan ide absurdisme, yang memiliki plot tentang pencarian manusia akan makna. Juga tentang kepastian dalam dunia yang tidak pasti, kepastian bahwa tidak ada satu pun yang pasti, di dalam realitas yang tidak pernah menawarkan penjelasan.

Lalu bagaimana jika kita berharap pada sesuatu, misal hari esok? Ini justru lebih absurd.

Letak absurditasnya adalah fakta bahwa garis kehidupan itu selalu menuju pada masa depan. Sementara di sisi lain, masa depan itu semakin mendekatkan manusia pada kematian. Sederhananya, masa lalu mengantarkan kita ke masa sekarang dan masa sekarang akan mengantarkan kita ke masa depan.

Apa yang ada di masa depan atau hari esok? Ya keabsurdan, mungkin juga kematian yang tidak pernah dapat diterka.

Oleh sebab itu kita harus berani menolak Leap of Faith. Singkatnya Leap of Faith adalah sama dengan bunuh diri secara filosofi (berpegang pada Agama, Sains, Ideologi dan lain sebagainya), juga bunuh diri ragawi (termasuk Euthanasia). Bukan berlagak sok paling kuat, namun sekali lagi, Leap Of Faith sepertinya bukan solusi yang tepat.

Alangkah lebih baik bila kita melakukan Insureksi atau Revolt, alias melakukan pemberontakan atas hidup yang tidak pernah jelas. Menjerang kehidupan yang ganjil dengan genap. Mempecundangi kemapanan dengan penerimaan kesuraman. Tidak berguna, tidak masalah, yang paling penting kita tetap menghidupinya.

Secara tidak langsung, Camus menginginkan kita menjaga gelora Carpe Diem agar tetap menyala. Dan Carpe Diem adalah perihal menghidupi hari ini, dengan berani tanpa perlu takut. Takut pada hari esok yang mungkin mengandung dan mengundang kematian.

Jadi, apakah kita sebaiknya berharap? Mungkin tidak.

"Harapan, bagi seorang absurdis (orang yang berani menghadapi absurditas) adalah metode pengecut untuk lari dari absurditas." -Albert Camus

Keabsurdan yang Tulus

Camus adalah seorang pemberontak, ia dengan berani menghidupi hidup yang absurd dengan tulus. Ia tidak bunuh diri, secara ragawi ataupun filosofis. Ia mungkin memang absurd, hidup secara absurd dan mati secara absurd.

Apakah akhir hidupnya kurang absurd? Tentu tidak. Ia bahkan mati dalam kecelakaan mobil, tepatnya menabrak pohon. Jauh sebelum itu, absurdnya, Camus pernah mengatakan bahwa cara paling absurd untuk mati adalah tewas dalam kecelakaan mobil.

Camus berputih tulang tiga tahun setelah menerima salah satu penghargaan paling bergengsi dalam dunia manusia, yaitu Nobel Kesusastraan. Namun Camus tidak berhenti  sampai di situ, ia akan abadi selamanya. Oleh sebab ia adalah kunci dari keabsurdan dunia. Selama dunia ini absurd, Camus akan tetap hidup. Ia akan tetap hidup dalam hati, kita yang kebingungan di dalam labirin dunia.

Camus dan Sisifus adalah satu kesatuan. Mereka berdua mengajarkan bahwa absurditas kehidupan yang dialami hampir setiap saat, tidak seharusnya membuat kita tidak bahagia. Bahkan Sisifus yang dikutuk pun masih dapat bahagia, meskipun dengan hukuman absurd yang membuat hidupnya tidak lagi memiliki makna.

"Haruskah aku membunuh diriku sendiri, atau meminum beberapa cangkir kopi?"
-Albert Camus


Terkadang, kita lupa untuk menghargai, hal-hal kecil yang membuat hidup ini layak untuk dijalani

Terakhir, manusia pun seharusnya belajar dari Sisifus, dalam menjalani kehidupan dengan penerimaan tulus nan total, alias tanpa syarat atas absurditasnya. Sebab, hidup yang nirmakna bukan berarti tidak memiliki sisi bahagia. Jalani, nikmati dan revolt. Persetan dengan hari esok, yang belum terjadi dan mungkin tidak pernah ada. Proses adalah kunci, hasil hanya bonus. Jalan adalah yang utama, tujuan hanya kombinasi awal yang dinamakan akhir.

"Sebab pada akhirnya, kita akan memerlukan keberanian lebih untuk hidup ketimbang bunuh diri." -Albert Camus

Sekian, semoga semua makhluk berbahagia!