“Jiwa muda raga jompo”, itulah kalimat yang cukup sering aku baca belakangan ini di media sosial. Terutama selama pandemi COVID-19. Dari kalimat itulah, aku mengenal istilah baru yaitu “Remaja Jompo”.  

Selama masa pandemi COVID-19 lalu, rasanya banyak remaja yang sering membagikan kisahnya atau keadaannya selama berada di rumah melalui media sosial. Salah satu hal yang dibagikan adalah kondisi kesehatannya. Banyak remaja yang merasa kondisinya selama pandemi ini mudah merasakan 5L (lemah, letih, lesu, lelah, dan lalai).

Mereka tidak sungkan membagi stok obat – obatan seperti koyo, krim pereda nyeri, dan lainnya untuk mengatasi “kejompoan” mereka sebagai starter pack. Mungkin bisa dibilang kalau sekarang para remaja berteman akrab dengan koyo, minyak kayu putih, dan starter pack lainnya. Di media sosial, istilah remaja jompo ini sudah menjadi candaan di kalangan remaja. 

Tapi sebenarnya apa sih remaja jompo itu? 

Menurut KBBI, jompo artinya tua sekali dan sudah lemah fisiknya. Sedangkan, arti remaja menurut KBBI adalah pemuda. Jadi menurutku, “Remaja Jompo” adalah pemuda pemudi yang kondisi fisiknya mudah lelah. 

Menurut penjelasan dari dokter sekaligus direktur RS PKU Muhammadiyah, Prambanan Dien Kalbu Aldy, remaja jompo merujuk pada remaja yang mudah kelelahan, pegal, sakit pinggang, lemas, dan pusing. Dalam dunia medis, apa yang dirasakan remaja sebenarnya tidak menggambarkan suatu penyakit secara spesifik. Namun, manifestasi klinis yang muncul karena beberapa kondisi tertentu.  

Remaja seharusnya berjiwa energetik dan banyak mengeksplorasi hal baru karena pada masa inilah manusia memiliki kondisi fisik yang kuat. Namun kenyataannya, muncul remaja jompo mudah kelelahan secara fisiknya. Misalnya, mudah pegal – pegal, sakit punggung, sakit leher dan lainnya.  

Selama pandemi kemarin, kegiatan banyak dilakukan secara online. Tak terkecuali sekolah. Sekolah online membuat remaja lebih banyak menghabiskan waktunya duduk menatap laptop. Selain itu, pandemi membuat remaja menjadi “mager” dan menghabiskan waktunya dengan rebahan. Hal ini yang membuat remaja menjadi tidak banyak beraktivitas sehingga mudah lelah dan pegal – pegal. 

Remaja jompo juga disebabkan karena stres. Masa remaja menjadi masa dimana manusia memiliki banyak pergulatan yang bisa membuat remaja tertekan. Mulai dari persoalan sekolah, keluarga, masa depan, hubungan cinta, dan lainnya. 

Pergulatan remaja juga muncul dari media sosial. Dimana di media sosial, banyak remaja membandingkan dirinya dengan orang lain dan bahkan terdapat perundungan. Hal ini membuat remaja mudah stres dan bila dibiarkan bisa menjadi depresi yang memicu masalah kesehatan. 

Terlebih lagi, banyak remaja sekarang ini meminum alkohol atau merokok sebagai bentuk pelarian diri dari masalahnya. Tidak dipungkiri lagi bahwa merokok dan meminum alkohol secara berlebihan sangat berbahaya bagi kesehatan baik secara fisik maupun mental.

Kejompoan remaja juga bisa disebabkan karena faktor – faktor kesehatan. Misalnya darah rendah yang adalah suatu kondisi dimana tekanan darah berada dibawah 90/60 mmHg. Sedangkan, tekanan darah normal adalah sekitar 120/80 mmHg. Darah rendah dapat menyebabkan gejala seperti pusing, mudah pingsan, keringat dingin, pandangan kabur, lemas, dan lainnya. 

Faktor kesehatan yang lain adalah anemia atau kekurangan darah yang ditandai dengan kurangnya kadar hemoglobin dalam tubuh. Hemoglobin dalam tubuh berfungsi untuk mengikat oksigen dan mengedarkannya ke seluruh sel tubuh. Oleh karena itu oksigen sangat diperlukan jaringan tubuh. Bila hemoglobin kurang, oksigen yang diedarkan juga akan berkurang sehingga jaringan tubuh tidak berfungsi dengan maksimal dan membuat tubuh mudah lelah, pusing, pegal – pegal dan lainnya.

Menurutku, kurangnya kegiatan, faktor kesehatan, dan stress adalah penyebab utama dari kejompoan para remaja ini. Bisa dibilang pola hidup yang tidak sehat (baik secara jiwa dan raga) membuat remaja zaman sekarang menjadi jompo. 

Oleh sebab itu, menurutku langkah yang tepat untuk mengatasi kejompoan para remaja adalah menghidupi pola hidup yang sehat. Olahraga adalah kegiatan yang pertama muncul di benak saya saat memikirkan pola hidup yang sehat. Melalui olahraga yang teratur dan cukup, badan kita akan banyak bergerak sehingga tidak kaku dan tidak mudah pegal – pegal. 

Selain itu, untuk hidup sehat, gizi juga perlu dipertimbangkan. Gizi yang baik dan cukup akan membuat badan lebih sehat sehingga dapat beraktivitas dengan baik dan produktif. Misalnya dengan minum air putih 8 gelas sehari (sesuai kebutuhan masing – masing) dan konsumsi makanan yang tinggi zat besi, sayuran, buah – buahan, dan makanan bergizi lainnya. 

Pola hidup yang sehat juga bisa diraih dengan merubah gaya hidup. Misalnya yang dulunya merokok atau banyak minum minuman beralkohol bisa dikurangi atau bahkan dihentikan.

Fenomena remaja jompo menurutku adalah masalah yang harus diatasi. Keadaan dimana remaja mudah merasa kelelahan harus diperbaiki. Remaja seharusnya produktif, berjiwa muda dan bersemangat tinggi, berkarya, dan mencari pengalaman sebanyak mungkin. 

Sebenarnya masalah ini tidak sulit diatasi. Solusi dari masalah “kejompoan” para remaja ini sederhana. Bila dalam diri seorang remaja mau menyayangi dirinya sendiri dan mengubah pola hidupnya baik secara jasmani maupun rohani dengan konsisten maka remaja akan terhindar dari rasa lelah. 

Dengan pola hidup yang baik dan sehat, remaja dapat menjadi pribadi yang lebih produktif. Jadi, mulai saat ini belajarlah untuk menyayangi dirimu, ubah pola pikirmu, dan perbaiki pola hidupmu sehingga kita sebagai remaja dapat menjadi terang dan garam di dunia ini yang berguna bagi sesama kita.