Mungkin ada beberapa atau mungkin banyak yang suka dengan makanan cepat saji, alias junk food. Terutama bagi Anda yang super sibuk, tidak punya waktu cukup untuk sekedar memasak makanan.

Mungkin juga Anda yang tinggal di kos sendiri, ataupun Anda yang belum berkeluarga, biasanya akan lebih suka dengan makanan tipe cepat saji ini. Makanan cepat saji dinilai sebagian orang lebih efektif terhadap waktu dan mudah ditemukan.

Tak hanya itu saja, makanan cepat saji juga memiliki cita rasa yang lezat ditambah lagi dengan harganya yang terjangkau. Kalau mungkin itu Anda salah satunya, sebaiknya perlahan dikurangi atau bahkan dihentikan mulai dari sekarang.

Kenapa? Karena jelas itu bukan merupakan hal baik dan bahkan berbahaya. Makanan cepat saji atau biasa dikenal dengan junk food merupakan suatu produk makanan yang sudah umum dan telah mendunia di abad ini.

Junk food pada umumnya mengacu pada makanan yang dapat disajikan dengan cepat serta makanan yang mengandung banyak kalori tetapi memiliki nilai gizi yang sedikit jumlahnya, terkadang makanan ini disebut dengan “kalori kosong”.

Dengan mengkonsumsi jenis makanan yang tergolong junk food, justru orang tidak akan merasa kenyang, sehingga hal itu justru akan menyebabkan seseorang makan dengan berlebihan, yang nantinya akan membuat seseorang bermasalah dengan berat badan dan juga kesehatannya.

Selain itu, terlalu sering makan junk food dapat menyebabkan peningkatan risiko terkena sejumlah penyakit pencernaan dan kardiovaskuler. Diantaranya diabetes, kolesterol tinggi, jantung, kanker, serta penyakit lainnya.

Makanan merupakan bahan bakar bagi tubuh yang memiliki dampak langsung pada kesehatan tubuh secara keseluruhan. Junk food kebanyakan merupakan makanan cepat saji yang di dalamnya mengandung karbohidrat, gula, lemak sehat, dan garam.

Sebuah studi 2013 yang diterbitkan di JAMA Pediatrics menunjukkan bahwa banyak anak-anak dan remaja yang lebih memilih mengambil resiko mendapatkan kalori lebih dalam makanan cepat saji dan restoran daripada makanan yang disajikan di rumah.

Menurut National Institutes of Health, beberapa makanan cepat saji secara keseluruhan hanya mengandung kalori dalam jumlah yang tinggi, di mana hal tersebut sangat berdampak pada kelebihan berat badan yang merupakan salah satu faktor peningkatan risiko untuk berbagai masalah kesehatan kronis.

Terlalu sering mengkonsumsi makanan cepat saji untuk menggantikan makanan bergizi dapat menyebabkan gizi buruk serta kesehatan yang buruk bagi kita. Bagi para pecandu junk food, mereka akan lebih berisiko mengalami gangguan pencernaan seperti penyakit gastroesophageal reflux (GERD) dan sindrom iritasi usus (IBS).

Seperti yang kita ketahui bahwa junk food lebih banyak mengandung kalori daripada nilai nutrisi. Saat kita mengkonsumsi junk food yang digoreng, kandungan minyaknya akan tersimpan dalam dinding lapisan perut. Hal ini dapat meningkatkan produksi asam.

Lalu rempah-rempah yang ada di dalamnya dapat mengiritasi lapisan lambung, sehingga dapat memperburuk risiko GERD dan gangguan pencernaan. Kurangnya serat dalam kandungan junk food dapat menghambat pencernaan, meningkatkan masalah seperti sembelit dan wasir.

Selain itu, mengkonsumsi junk food secara berlebihan juga dapat mempengaruhi kinerja otak. Dalam sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Brain, Behavior, and Immunity menunjukkan bahwa satu minggu makan junk food sudah cukup untuk memicu gangguan memori pada tikus.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa lemak jahat (lemak trans) dari junk food cenderung menggantikan lemak sehat di otak dan mengganggu mekanisme sinyal normal dalam otak. Studi pada hewan juga menunjukkan bahwa lemak dari junk food memperlambat kemampuan untuk belajar keterampilan baru.

Mengkonsumsi junk food secara berlebihan dapat menggantikannya dengan lemak trans yang lebih sulit untuk dicerna sehingga pengkonsumsi tidak akan kenyak dalam waktu yang lama. Karena hal itu, pengkonsumsi akan sulit untuk mengontrol nafsu makannya, maka jika dibiarkan terus menerus pengonsumsi dapat obesitas.

Junk food sangat mempengaruhi sistem metabolisme tubuh. Sistim metabolisme tubuh yang tidak baik akan menyebabkan nutrisi makanan tidak terserap dengan baik. Selain itu, makanan cepat saji juga menyebabkan kadar gula darah meningkat. Insulin juga tidak bekerja dengan sempurna.

Padahal insulin sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk mengolah glukosa menjadi energi. Hal tersebut dapat memicu penyakit diabetes. Tidak hanya itu junk food memiliki kandungan lemak jahat yang tinggi. Hal ini juga yang membuat kolesterol di dalam tubuh meningkat.

Lemak jahat yang menumpuk di dalam tubuh akan sangat mempengaruhi kerja jantung. Selain itu, lemak juga bisa menumpuk di dalam pembuluh darah sehingga dapat menyebabkan penyumbatan.

Maka dari itu, resiko serangan jantung pun juga akan meningkat. Dalam makanan cepat saji terkandung banyak sekali zat-zat yang berbahaya dan dapat menimbulkan penyakit bagi tubuh bilamana dikonsumsi secara berlebihan.

Bukan hanya penyakit yang ditimbulkan tetapi juga gangguan fungsi persarafan yang dapat memperlambat kinerja otak. Tidak hanya itu, perubahan psikologis juga dapat terjadi karena berlebihan mengonsumsi junk food.

Nah, untuk menghindari bahaya mengerikan dari junk food diatas, adapun cara jitu untuk menghindarinya. Yang pertama adalah dengan selalu menyediakan makanan sehat, cegah keinginan untuk membeli junk food dengan cara selalu menyediakan makanan sehat di dekat Anda.

Pastikan Anda selalu memiliki stok makanan sehat seperti daging ayam segar dan sayuran, bukan sosis ataupun nugget. Selain itu, Anda bisa menyiapkan camilan sehat seperti kacang panggang, buah-buahan, dan yogurt. Anda juga disarankan untuk membawa bekal sehat dari rumah agar tidak tergoda untuk jajan junk food di jam makan siang.

Yang kedua, mencari tahu bahan yang digunakan untuk membuat junk food. Beberapa junk food mengandung jenis pengawet BHA (Butylated hydroxyanisole) yang mana biasa dipakai untuk mengawetkan kentang dan daging kemasan. Pengawet jenis ini tergolong karsinogen atau penyebab kanker.

Maka dari itu, semakin banyak Anda mencari tahu, semakin jauh pula keinginan Anda untuk makan junk food. Cara ketiga adalah dengan menghindari informasi promo makanan junk food, sebagai pengguna internet dan media sosial, Anda adalah target empuk para pengusaha junk food.

Dengan buka akun media sosial, Anda bisa disuguhkan info promo menarik dari restoran cepat saji. Lalu muncullah dorongan beli junk food tersebut. Maka, batasi penggunaan media sosial sehari-hari dan usahakan untuk tidak follow akun-akun restoran cepat saji.

Yang terakhir dengan tidak tertipu oleh kata-kata iklan, Anda bisa perlahan-lahan berhenti makan junk food kalau tahu bahwa selama ini Anda ditipu iklan. Perusahaan junk food akan menggunakan kata-kata yang terdengar meyakinkan seperti “daging premium” dan “kaya akan nutrisi”. Kata-kata ini belum tentu benar lho.

Menurut Brian Wansink, seorang peneliti perilaku konsumen dari Cornell University, orang-orang memang mudah terjebak kata-kata iklan seperti itu.  "Tiga modal pertama yang harus disiapkan oleh anak muda untuk masa tuanya: 1. Kesehatan, 2. Kesehatan, dan 3. Kesehatan. - Mario Teguh