Untuk kalian yang anak tunggal pasti sering mendengar “Enak ya jadi anak tunggal pasti dimanja terus”. Pasti kalian sering mendengar kata-kata ini baik di lingkup keluarga besar maupun di lingkungan sekitarmu.

Bagaimana perasaan kalian setiap kali mendengar kalimat itu terlontarkan dari mulut orang-orang yang sok tahu dengan kehidupan kita? Saya sebagai anak tunggal jujur sangat muak jika mendengar kalimat seperti itu.

Saya selalu berusaha untuk tidak berkata, “Kamu enak ya punya kakak” atau “Seru ya bisa punya adik”. Karena saya tahu, itu hanya penilaian saya semata, bukan yang sesungguhnya.

Dimanja? Saya akui iya. Dimanja di sini memiliki arti semua fasilitas yang dibutuhkan akan dipenuhi karena orang tua berharap dengan seperti itu dapat membantu anak meraih mimpinya.

Berbeda dengan anak yang memiliki kakak atau adik. Kasih sayang dan fasilitas yang didapatkan harus terbagi dengan saudara kandungnya yang lain.

Terlepas dari itu, anak tunggal secara tidak langsung dituntut untuk menjadi sempurna dalam berbagai hal. Harus bisa menjadi orang sukses dengan tolak ukur orang tua bukan keinginan kita sendiri.

Memang benar orang tua sangat berharap kepada saya agar menjadi lebih sukses daripada orang tua saya. Pernyataan seperti, “Anak tunggal nggak boleh gagal” atau “Anak tunggal nggak boleh malu-maluin keluarga” pasti sering menghantui kalian.

Seakan-akan persepsi anak tunggal itu tidak boleh gagal, tidak boleh malu-maluin keluarga, tidak boleh menangis. Padahal anak tunggal juga manusia sama seperti anak-anak yang lain.

Mungkin pernyataan seperti itu mampu memotivasi atau bisa menjadi penyemangat untuk mewujudkan mimpi. Namun lain halnya jika pernyataan itu dikatakan berulang kali, justru akan menjadi beban tersendiri.

Mengapa demikian? Coba deh dipikirkan baik-baik. Anak tunggal merupakan satu-satunya harapan keluarga. Mereka dituntut untuk bisa memenuhi harapan keluarga yang terkadang membuatnya kelelahan sendiri.

Dengan keluarga maupun orang-orang sekitar yang sering melontarkan pernyataan tersebut kepada kita, justru sering kali membuat kita menjadi tertekan dan memikirkan banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Namun, apa yang saya lakukan? Ya benar, bersikap sok kuat di depan orang-orang sekitar. Sekuat tenaga menahan rasa sakit dan juga kesal dalam diri ini.

Saya sebagai anak tungal sering kali kesepian karena tidak mempunyai kakak maupun adik. Terlebih lagi jika orang tua bekerja semua. Alhasil sendirian di rumah.

Cara mengatasi hal tersebut saya biasanya mendengar musik atau menonton TV jika tidak ada orang di rumah. Sering saya mengajak teman saya untuk sekadar jalan-jalan mengelilingi kota Solo atau sekadar mengerjakan tugas bersama di rumah saya.

Namun, setelah sampai di rumah atau ketika teman-teman saya pulang, saya merasa sendirian lagi. Bosan, jenuh, sepi itu yang sering kali saya rasakan.

Terkadang juga saya bisa tiba-tiba menangis sendiri. Sering terlintas pernyataan seperti ini di otak saya ketika saya lelah dan banyak pikiran, “Tuhan, saya capek. Saya bingung harus gimana lagi. Andai saya punya kakak atau adik pasti beban ini bisa sedikit lebih ringan”.

Saya takut jika tidak bisa memenuhi harapan keluarga, saya takut jika saya gagal. Ketakutan-ketakutan yang sering kali menghantui saya ketika berdiam diri.

Bodoh memang, seharusnya saya bersyukur sudah diberikan hidup dan nikmat sebanyak ini. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa manusia punya titik lelahnya masing-masing.

Orang tua saya sering bertanya, “Kamu mau adik nggak?”. Mayoritas anak tunggal pasti akan dengan senang hati mengiyakan. Namun, berbeda dengan saya. Saya justru tidak mau mempunyai adik.

Kadang juga saya menjawab seperti ini, “Saya nggak mau adik, saya maunya kakak”. Jawaban saya yang sering kali membuat orang tua saya tertegun.

Aneh memang, mana ada anak tunggal yang mempunyai kakak kandung jika tidak mengadopsi dari panti asuhan atau orang lain. Di samping itu, saya juga takut kasih sayang orang tua saya terbagi.

Menjadi anak tunggal itu tidak semudah yang orang-orang katakan. Orang tua saya sering kali kasihan dengan saya karena semua beban dan harapan dilimpahkan semua kepada saya. Namun, mau bagaimana lagi, saya kan nggak mau punya adik.

Saya sering sedih ketika orang tua saya sudah berkata, “Nanti kalau cari suami jangan jauh-jauh, ayah sama mama bakal ikut kamu terus”. Padahal saya tidak akan meninggalkan mereka karena mau bagaimana pun saya anak satu-satunya yang menjadi rumah untuk mereka pulang. Saya juga takut jika berpisah dengan mereka dan tidak akan pernah siap.

Terima kasih sudah menjadi orang tua terbaik yang saya miliki. Terima kasih untuk segala kasih sayang yang kalian berikan tanpa pamrih. Maaf jika terkadang masih sering menangis dan tidak sekuat anak-anak yang lain. Aku sayang mama dan ayah, selalu.