Kolobbus. Sang Preman. Nama ini dulu adalah sebuah sinonim untuk sebuah penghadir ketakutan. Nama ini adalah deskripsi sebuah kehebatan, tak tersentuh, bisa melakukan apa saja sesuka hati. Tidak terhentikan. Semua orang harus, mau tak mau, mengatakan iya jika si empunya nama mengatakan iya, dan sebaliknya. Dia bapak segala bandit di daerah tinggal saya ini. Itu yang saya tahu.

Sampai saat ini, saya berpikir dia punya “sesuatu” yang tidak dipunyai oleh seorangpun di jagad Kecamatan Ugalboi ini. Kudengar, Dia punya uang yang banyak dan punya senjata api di pinggang. Kudengar juga kalau Dia punya tenaga dalam turun–temurun dari nenek moyangnya. Tenaga dalam ini yang menjadikan Dia punya sembilan nyawa, bagai kucing, seperti saya dengar saban hari dari tetua di kampung.

Bahkan, bapaknya temanku si Maol Husor, bilang: "aura yang dipancarkan adalah aura mengontrol.” 

Kolobbus yang berpenampakan sederhana, seingaku.

Kombinasi jas hitam kulit membalut kaos putih polos dan celana jeans biru laut dan topi koboi hitam besar dan sebuah cincin emas polos di jemari manis kirinya. CIncin yang dibaliknya ada nama istrinya almarhum, yang meninggal di rampok di Harangan Ganjang, jalan lintas hutan dari Medan ke Ugalboi. Beredar cerita, dia memburu para rampok ke dalam hutan di malam hari dan menggelindingkan kepala mereka di jalan raya untuk dilindas oleh kendaraan yang lewat.

Si Kolobbus, sosok "penguasa” di distrik Kecamatan Ugalboi. Pusat keramaian di distrik yang mengerucut di persimpangan distrik yang menjadi barometer kemajuan atas desa–desa di kecamatan. Semua orang mengenal nama ini tanpa kecuali bahkan aparat negara.

Seorang bayi lahirpun, mungkin akan mengerti bahwa Kolobbus akan menjadi nama yang harus terpogram sebagaimana saya mengingatnya.

Persimpangan Distrik Ugalboi adalah pusat pertemuan semua generasi, strata dan segala jenis mahluk yang berdomisili dalam Distrik Ugalboi. Pusat pasar, tempat buat jual-beli segala macam kebutuhan orang, mulai dari makan hingga papan.

Tengah malam persimpangan itu lebih seram terdengar dengan sebutan “Simpang Mayat”. Konon setelah jam 00.00 tepat tengah malam di persimpangan itu akan dipenuhi bebauan bunga kamboja dan kadang bau tidak sedap khas dunia kubur. Cerita ini familiar dan diterima setiap orang tanpa kecuali.

Tapi, tetap saya lebih memilih ingat persimpangan itu adalah ikon perjuangan hidup para manusia disana. Setiap orang yang berusaha mencari makan dengan halal buat keluarganya.

Orang – orang mencari pengaruh, mencari makan dan sekedar memperkenalkan diri atau sekedar melegalisasi kewarga-distrikan-nya dengan menginjakkan kakinya di persimpangan.

Si Kolobbus ini spesial konon seperti cerita Dukun Segala Tahu di kampung. Saya pernah dengar guru SD bilang kalau "kamu tidak bisa memilih lahir dimana dan sebagai apa dan jenis kelamin apa," tapi semua itu dipatahkan oleh Si Kolobbus. 

"Kolobbus memilih hidupnya untuk menjadi seperti yang sekarang." kata si Dukun waktu itu.

Dia bercerita tentang cengkeramanya dengan Tuan Pencipta yang dipanggilnya dengan sebutan “Ompu” yang menunjukkannya pilihan tak terhingga kehidupan dan memilih untuk terlahir sebagai seorang Kolobbus. 

Tentu saja, sekarang, itu adalah fiksi hidup yang harus kami tertawakan karena itu sama saja mengatakan Kolobbus adalah seorang bodoh dengan kespesialan yang diberikan padanya dengan kesempatan memilih hidupnya dan memilih menjadi penghuni kecamatan ini. 

Kolumbus bukan orang yang bodoh, dia bisa mengontrol rasa aman disekelilingnya. Menciptakan dan membuyarkannya.

Tentu saja “rasa aman" ini yang dihadirkan Kolobbus sepadan dengan setoran setiap orang yang berjualan di sepanjang Simpang Mayat. Mereka harus menyetor "uang rasa aman" kepada Kolobbus atau suruhannya. Pemerintahpun kalah hebat dalam memberi rasa aman.

Tapi semua tinggal cerita. 

Si Kolobbus sudah menuju penciptanya pada tahun 2000 tepat pada tanggal dua puluh bulan ke dua tahun dua ribu dua. 

20.02.2002. Jajaran angka yang jika saya perhatikan sangat menarik. Bahkan dia menghadap penciptanya pada urutan angka yang demikian itu. Spesial!

Satu hal yang ditinggalkan olehnya yang saya ingat adalah perkataanya : “dengan pengaruh kamu bisa menjadi seorang Kolobbus, bahkan di luar sana."

Kolobbus mati membawa pengaruhnya dan tidak menyisakan sedikitpun kepada pewarisnya. Anak-anaknya entah kemana setelah matinya bapaknya, saya dengar cerita, kalau anaknya sudah mati diburu anak rampok yang diburu Kolobbus dahulu. Ditembak batok kepalanya dan dibuang di sungai dekat perkebunan karet Siantar.

Jika benar memang Kolobbus bisa memilih hidupnya, ternyata dia tidak pernah bisa memilih siapa yang menjadi pewarisnya dan orang–orang di dekatnya.

Kolobbus mati dengan cara yang sama dengan jutaan orang yang mati tiap hari di permukaan Bumi. Hidupnya yang spesial itu, ditutup dengan mati seperti orang kebanyakan.

Malam hari saat akan tidur, teringat suasana di persimpangan distrik, mungkin Kolobbus telah menjadi penghuni di dunia tak terlihat mata manusia, dia mungkin telah membaur bersama bau bunga kamboja atau semerbak tanah kuburan.

Tiada yang tahu.

Kolobbus bisa memilih hidupnya dan tidak bisa memilih caranya mati. Kolobbus menghembuskan nafas terakhirnya di persimpangan distrik tepat pada tengah malam ketika dia memilih merebahkan diri menghadap langit dan bermandikan cahaya bulan sabit terang setelah pertengkaran hebat dengan seorang otoritas distrik yang baru menjabat.

Pagi naas itu, tubuhnya telah tercerai-berai menghiasi persimpangan jalan distrik. Persimpangan Simpang Mayat.

Matahari masih dengan malu–malunya menyaksikannya.

Sebuah truk pengangkut kayu melindas tubuhnya.

Pada hari yang naas itu, Distrik Ugalboi ramai berkerumun di persimpangan dan bertutur cerita satu dengan yang lain tentang kisah Si Kolobbus. 

Persis seperti yang saya ingat.