Freelancer
1 tahun lalu · 67 view · 9 menit baca · Sejarah 71721_12599.jpg
adiatu.blogspot.co.id/

Si Kertas yang Bersaksi

Menyebut kata “kertas”, sontak pikiran membayang mengembara ke mana-mana. Yang pertama saya bayangkan adalah Mbok penjual sayuran didekat rumah saya dulu. Yang mana saya hampir setiap pagi selalu disuruh oleh ibu saya membeli cabai dan sayuran yang lain pada Mbok itu.

Setiap kali membeli cabai, cabainya dibungkus oleh kertas. Kertas yang digunakan untuk membungkus bervariasi, mulai dari kertas bekas koran, majalah, sampai kertas soal ulangan anak sekolahan. 

Pikiran juga membayang ke lembaga pendidikan. Pergaulan pertama hampir seluruh manusia dengan kertas saya kira dengan dunia lembaga pendidikan (bukan dunia pendidikan dalam artian universal). Sejak awal masuk sekolah, kita pasti disuruh membeli alat tulis, yang buku (yang berbahan kertas) termasuk di dalamnya. Ketika kegiatan sekolah sudah berjalan, kita disuruh membeli buku LKS dan buku paket yang tebal-tebal itu. Semuanya kertas. 

Kertas berada di mana-mana dan digunakan oleh semua orang. Dari mulai yang berpenghasilan rendah atau faqir sampai konglomerat tingkat atas. Dari orang baik sampai orang jahat pun menggunakan. Dari bayi hingga tua, bahkan hingga liang lahat. “Keuniversalan” kertas ini memang sesuatu yang menakjubkan selama satu milennium belakang sejarah manusia. 

Penggunaan kertas sangat masif. Apalagi setelah Gutenberg menemukan mesin cetak, makin tersebar luaslah si kertas ini. Setelah terlebih dahulu peradaban Islam yang mempopulerkan kertas sebagai media keilmuan dari peradaban China yang tertutup pada saat itu. Momentum perpindahan teknologi kertas dari Bangsa China (Dinasti Tang) ke Bangsa Arab (Dinasti Abbasiyah) terjadi ketika Pertempuran Talas. Pertempuran yang dimenangkan oleh Bangsa Arab itu berlangsung selama lima hari dan korban yang gugur ribuan serta ribuan lagi menjadi tawanan kedua belah pihak.

Di antara banyaknya tawanan dari Bangsa China, dua diantaranya sangat mahir dalam teknologi pembuatan kertas. Dua orang inilah yang menjadi patron transfer teknologi pembuatan kertas kepada Bangsa Arab. Waktu berselang, kertas-kertas berkumpul di Baghdad, di dalam "koordinat ruang" yang bernama Bayt Al-Hikmah.

Bayt Al-Hikmah adalah pusat literasi Bangsa Arab, di mana kegiatan penelitian, diskusi yang intens, dialektika dijalankan, penerbitan, dan penerjemahan karya-karya dari seluruh dunia dilakukan. Dan hasil akhirnya, Bangsa Arab berhasil mengembangkan keilmuwan yang luar biasa, karena kertas digunakan sebagai media tulis dan media informasi keilmuwan yang masif.

Salah seorang dari Bangsa China, Ts’ai Lun sebagai penemu kertas, saya kira adalah salah satu hulu dari tumbuhnya peradaban Islam mencapai hilir kejayaannya. Walaupun salah seorang dari Bangsa China lagi yang menghancurkannya, yakni Hulagu Khan.

Kita tahu, bahwa ia bersama pasukannya menghancurkan Kota Baghdad dan Bayt Al-Hikmah, membunuh para sarjana dan menghancurkan buku-buku, bahkan dikatakan bahwa sungai Tigris sampai menjadi hitam karena tinta dari buku-buku yang dihanyutkan olehnya. 

Kertas menjadi saksi bisu dari sejarah manusia. Ia menjadi saksi dari kemuliaan dan kebengisan manusia. Bahkan di antaranya menjadi saksi yang bisa “berbicara” jika ada pelaku sejarah yang menuliskan padanya. Kemudian pada masa yang akan datang digunakan oleh sejarawan untuk mengajaknya “berbicara” tentang sejarah peristiwa yang ditulis padanya.

Selain kertas yang “berbicara”, kita juga harus mengetahui tentang penulisnya. Ini akan menolong kita untuk mengetahui keadaan suatu zaman. Dikatakan dengan apik oleh Ben Okri, seorang penyair Afrika, “jika anda ingin mengetahui apa yang berlangsung di sebuah zaman, cari tahulah tentang apa yang terjadi dengan para penulisnya.”

Memang menakjubkan si kertas ini. Saya kira kalau ia diberi ruh oleh Tuhan, kemudian ia bernyawa dan bisa hidup, perannya akan sama seperti manusia. Bahkan mengalahkan manusia sendiri. Betapa tidak, kertas selama berabad telah menjadi medium transfer keilmuwan yang luar biasa dari satu generasi ke generasi setelahnya. Menjadi penyambung agar manusia tetap menjadi manusia. Sedangkan manusia bisa alpa, bisa berbuat salah dan dosa.

Sayangnya Tuhan sudah berkata bahwa ahsani taqwim atau ciptaan Tuhan yang paling mulia adalah manusia, bukan kertas. Jika ada pertanyaan, mana yang benar; kertas untuk manusia atau manusia untuk kertas?

Jawaban yang paling logis dari sisi kemanusiaan kita atau dari sisi ahsani taqwim tadi ialah keduanya. Karena hidup bukan hanya soal mana yang benar, tetapi juga mana yang baik, mana yang indah, dan mana yang pantas. Bahkan jika kita sudah merangkum dan menggunakan paradigma berpikir empat itu (benar, indah, baik, pantas), tidak ada lagi kata-kata “mana yang ... ”.

Jika kertas untuk manusia, ya memang selama inilah yang terjadi. Kertas digunakan sebagai alat untuk membantu manusia mencapai apa yang diinginkannya. Seperti kertas sebagai media tulis, kertas tisu, kertas yang digunakan untuk membungkus (seperti yang digunakan oleh Si Mbok tadi), dan lain-lain. Itu semua adalah “kertas untuk manusia”.

Sedangkan manusia untuk kertas adalah sebaliknya, yakni kegiatan-kegiatan yang mana manusia melestarikan dan bersikap peduli kepadanya. Termasuk manusia tidak boros menggunakan kertas dan sayang kepada pohon (sebagai bahan baku kertas), itu termasuk “manusia untuk kertas”.

Jika hanya memakai cara berpikir “kertas untuk manusia” tanpa “manusia untuk kertas”, maka yang terjadi adalah pemborosan kertas, penggundulan hutan (deforestasi) semakin marak. Dan itulah yang terjadi sekarang.

Tetapi kertas bukanlah satu-satunya faktor yang menjadikan manusia menjadi manusia yang mulia. Perjalanan sejarah manusia dari Adam hingga Musa, saya kira peran kertas belum mencolok, ya karena Ts’ai Lun sendiri sebagai pencipta kertas juga belum lahir. Nabi Sulaiman dan para nabi yang lain menjadi manusia yang mulia walau kertas saat itu belum ada.

Jadi tulisan ini bukan ingin mengagung-agungkan kertas atau merendah-rendahkannya. Tetapi ingin membicarakan kertas sebagaimana adanya. Kalaupun kita menganggap kertas sebagai makhluk hidup, sebagaimana orang Jawa menganggap alat musik gamelan adalah “makhluk”, sehingga ia diberi nama atau dinamai Kiai Kanjeng misalnya atau kiai-kiai yang lain, bukan berarti kita sedang mengagungkannya.

Pandangan kita terhadap apapun yang ada diluar kita, hendaknya tidak oposisi biner, tidak dikotomis, dan tidak subjek-objek –sebagaimana kebanyakan orang modern sekarang memandang. Sehingga tidak ada pandangan “mengobjek”.

Gejala mengobjek ini bisa kita lihat pada perilaku sebagian pejabat kita, setiap hari berpidato dengan menyebut kata “rakyat” beribu kali, tetapi “rakyat” hanya dianggap objek, bukan subjek. Rakyat adalah the others dari pejabat. Sehingga korupsi merajalela dan tak apa-apa menyakiti rakyat. Tak apa perut buncit, walaupun rakyat menjerit. Inilah gejala mengobjek.

Termasuk pandangan manusia kepada kertas. Hendaknya ia kita anggap sebagai subjek. Dengan pandangan yang demikian, kertas adalah juga diri kita. Sehingga kita tidak akan berlaku semena-mena, sebagaimana berlaku dengan diri kita sendiri. Bukan berarti menjadi maniak anti kertas dan over “ngirit” dengan dalih menghemat dan cinta pepohonan. Ya sewajarnya saja menggunakannya. Batas kewajaran ini yang harus menjadi sikap kita bersama.

Tetapi peran kertas selama satu milenium terakhir ini memang harus kita syukuri betul. Kita patut berterima kasih kepada Ts’ai Lun dan Gutenberg, karena atas jasanya, kertas bisa mewarnai kita hari ini. Walaupun kedua tokoh ini diakhir perjalanan hidupnya mengalami nasib yang bisa dibilang “ngenes”. Putut Widjanarko dalam bukunya Elegi Gutenberg: Memposisikan Buku Di Era Cyberspace menggambarkan dengan sangat baik ke-“ngenes”-an dua tokoh ini:

“Ts’ai Lun melakukan bunuh diri. Sebelum bunuh diri, ia mandi bersih-bersih, mengenakan baju yang indah, kemudian meminum racun yang mematikan. Mulanya Ts’ai Lun hanyalah pegawai biasa pada pengadilan Kerajaan China. Kurang lebih pada tahun 105 M, dia mempersembahkan contoh kertas yang dia buat dari pohon murbei kepada Kaisar Ho Ti.

Bahkan kertas ini belum pernah ada sebelumnya. Karena menyadari betapa besar manfaatnya, Kaisar girang sekali. Ketimbang media tulis sebelumnya, kertas mudah dilipat dan tentu saja lebih enak dipakai. Karena atas ciptaannya itu, Ts’ai Lun dinaikkan pangkatnya, dihadiahi gelar bangsawan, dan dengan sendirinya dia menjadi cukong.

Akan tetapi, belakangan Ts’ai Lun, yang orang kebirian itu, terlibat politik praktis anti-istana yang membuatnya didepak. Belakangan ia bunuh diri dengan meminum racun”.

“Ngenes” bukan? Seperti Socrates ya? Kemudian nasib yang dialami oleh Gutenberg, yang nama lengkapnya sepanjang gerbong kereta api (Johannes Gensleich Zur Laden Zum Gutenberg):

“Gutenberg, begitu diriwayatkan dalam The Encyclopaedia Britannica (edisi ke-15), adalah seorang anak ningrat dari kota Mainz, Jerman. Menjelang dewasa dia telah menguasai keterampilan pengelolaan emas dan logam. Pada 1430 dia pindah ke Strasbourg, Prancis. Berkongsi dengan beberapa orang, Gutenberg terjun berbisnis di bidang pemotongan batu-batu mulia dan pembuatan cermin.

Tampaknya saat itu dia mulai mengerjakan beberapa percobaan pembuatan mesin cetak, yang dia rahasiakan dari kawan-kawan sekongsinya. Kawan-kawan Gutenberg, mengendus adanya rahasia itu, menuntut disertakan. Seterusnya dibuatlah perjanjian yang juga berisi kesepakatan bahwa jika salah seorang dari mereka meninggal, maka ahli warisnya tidak boleh masuk perusahaan, tetapi mendapat imbalan sejumlah uang.

Akan tetapi, ketika Andrean Dritzehn, salah seorang kongsi meninggal pada 1438, sang ahli waris bersikeras ikut dalam perusahaan. Walau sang ahli waris kalah dalam pengadilan, terbuka bukti bahwa Gutenberg sedang menyempurnakan penemuannya. 

Pada 1448 Gutenberg kembali ke Mainz, dan meminjam uang lagi dari Johan Fust –seorang investor yang kaya. Karena percaya, dua tahun kemudian Fust meminjamkan uang lagi. Akan tetapi, seperti lazimnya investor, rupanya Fust ingin segera meraup untung dari investasinya itu, sedang Gutenberg lebih suka menyempurnakan teknik ketimbang segera menambang untung.

Gutenberg berangan-angan bisa mencetak manuskrip-manuskrip Abad Pertengahan, yang penuh dengan iluminasi warna-warni yang bisa dikerjakan dengan tangan, secara mekanik dan massal dengan menggunakan mesin cetak. Akan tetapi, angan-angannya punah ketika Fust, pada November 1455, memenangkan gugatan pengadilan yang memaksa Gutenberg membayar pinjaman beserta bunganya. Tak punya fulus yang cukup, Gutenberg pun bangkrut. Alhasil Fust berhak atas seluruh perangkat mesin cetak beserta beberapa hasil cetakan, diantaranya Injil yang dicetak Gutenberg.

Untunglah salah seorang pegawai kotapraja, Konrad Humery, meminjaminya perangkat mesin cetaknya. Akan tetapi tidak diketahui apa yang dilakukan oleh Gutenberg setelah itu. Menjelang akhir hayatnya ada yang mengatakan dia setengah buta atau malah buta sama sekali. Merasa kasihan, Adolph von Nassau, salah seorang pemuka masyarakat menjadikannya pegawai dengan tugas ringan tetapi imbalan yang cukup untuk sekadar hidup.”

Kisah Gutenberg, walau tak se-ngenes Ts’ai Lun sang penemu kertas, memang tak berakhir manis. Ironis ketika mendengar kisah dua penemu besar ini, padahal beliau berdua inilah salah dua dari tokoh peradaban umat manusia.

Tampaknya, nasib memperihatinkan yang dialami dua tokoh ini merupakan ongkos dari nama harum yang akan mereka dapat kemudian hari. Kata orang Jawa, jer basuki mawa bea, segala sesuatu yang diharap dan dicita-citakan pasti memerlukan biaya. Ts’ai Lun dan Gutenberg sudah mengeluarkan biaya. Nama beliau berdua disebut dimana-mana ketika orang membicarakan sejarah kertas dan buku.

Nama harum yang didapatkan bukanlah bentuk penghakiman terpuji, melainkan hanya sebatas timbal balik akibat dari sebab yang telah beliau berdua lakukan. Kita tak boleh menghakimi bunuh diri yang dilakukan oleh Ts’ai Lun itu sebagai perbuatan tercela atau terpuji. Kita hanya harus bersikap seperti kertasnya Ts’ai Lun ketika si kertas ini bersaksi atas aksi bunuh diri yang dilakukan majikannya. Biarlah Tuhan yang menilai.

Mungkin sampai akhir kelak kertas akan tetap mewarnai dan menjadi saksi atas hidup kita. Kendatipun sekarang banyak yang beralih ke “mode maya”, cyberspace, seperti yang dilakukan oleh beberapa penerbit majalah yang “tidak kuat” lagi “mencetak kertas”. Karena pasarannya kurang alias tidak laku, kertas tetap menjadi barang terdekat kita. 

Karena peran kertas yang begitu masif dan “universal” ini, selama beberapa abad ke depan, jika Tuhan masih memperpanjang umur dunia, saya kira kertas tetap tak akan punah. Ia tetap akan dijadikan buku. Ia tetap akan dijadikan bungkus rokok walaupun rokok elektrik sudah muncul. Ia tetap akan dijadikan sepotong surat cinta yang romantis oleh seorang yang melamar sang kekasih. Ia tetap akan dijadikan bungkus cabai oleh Mbok penjual sayur.

***

Referensi:

Widjanarko, Putut. 2000. Elegi Gutenberg: Memposisikan Buku Di Era Cyberspace. Bandung: Penerbit Mizan.

Artikel Terkait