Sudah lima tahun berlalu, desa kami, Nurkalata, belum juga punya kepala desa. Sudah berbagai cara, sudah berbagai rayu, sudah berbagai tata cara, tapi belum juga ada kepala desa. Apa kurangnya Nurkalata, hingga belum juga ada kepala desanya?

Marli, pria paruh baya yang belum juga kawin-kawin, adalah pencari yang pantang menyerah untuk menemukan kepala desa. Sejak dulu dia bertekad, Desa Nurkalata harus ada kepalanya. Seperti desa-desa tetangga yang kini kian makmur. Marli iri, Marli dengki, Marli sangat ingin Nurkalata ada kepalanya.

Marli selalu membicarakan tentang kepala desa yang belum juga ditemukan itu padaku. Tidak saja padaku, di warung kopi, Marli berkoar hingga berbuih ludah di sudut bibirnya agar Nurkalata punya kepala. Warga tak terlalu peduli ocehan Marli. Punya atau tak punya kepala, sama saja. Nurkalata juga tak akan berubah. Tapi Marli tak jua berhenti. Pokoknya kepala desa harus ditemukan. Begitu tekadnya.

Marli selalu berkata, tidak mungkin Nurkalata tak punya kepala. Setiap tempat harus ada kepalanya, kalau tidak ada kepala, bagaimana desa kita bisa maju, begitu katanya. Dan masalahnya, tidak ada satupun yang angkat bicara, apalagi mengajukan diri untuk jadi kepala. Tidak ada yang mau, tidak ada yang berminat, tidak ada yang tertarik, dan semua warga menghindar untuk jadi kepala. Seolah jadi kepala desa adalah tumbal.

Begitulah Desa Nurkalata. Desa tanpa kepala. Kenapa? Aku akan ceritakan detilnya.

***

Dulu semuanya biasa saja. Memilih kepala desa menjadi pesta. Banyak yang berebut untuk jadi kepala. Bagaimana lagi, Nurkalata memang desa yang kaya. Di sini ada tambang emas, tambang berlian, tambang permata, dan tambang-tambang lainnya yang berkilauan. Jadi kepala, otomatis jadi kaya. Tapi itu bukan alasan yang membuat warga Nurkalata berebut posisi jadi kepala desa. 

Di sini, menjadi kepala desa kemudian menjadi momok menakutkan. Setiap yang terpilih menjadi kepala desa, seratus hari kemudian, kepala desa kehilangan kepalanya. Sudah enam kepala desa yang bernasib demikian naas. Mereka ditemukan warga dengan tanpa kepala. Mengerikan. Selalu setelah seratus hari menjabat, kepala mereka hilang.

Kejadian ini masih menjadi misteri. Apa sebabnya, kenapa kepala desa yang terpilih selalu kehilangan kepala? Siapa yang tidak bergidik ngeri menatap jasad kepala desa yang dikubur tanpa kepala? Satupun warga tiada pernah menemukan kepalanya kepala desa. Entah hilang kemana, entah siapa pelakunya. Kepala selalu hilang dari tubuh si kepala desa.

Sudah enam kepala desa yang dimakamkan tanpa kepala. Kuburannya berderet di pemakaman yang terletak di tengah desa. Setiap warga melintas di sana, setiap itu pula mereka kian menolak untuk melanjutkan kisah kepala desa yang mati tanpa kepala.

Kali pertama terjadi, nasib naas itu dialami Muklison, kepala desa pertama yang mati tanpa kepala. Waktu itu warga sedih, hanya sedih dan sedikit ngeri karena matinya kepala desa sungguh tak wajar. Hanya tiga hari warga bersedih, setelah itu, bangkit lagi mencari kepala desa yang baru. 

Waktu itu terpilih Jukifli jadi kepala desa baru. Setelah seratus hari berlalu, Jukifli bernasib sama dengan Muklison, dia mati tanpa kepala. Semua warga turun menyisiri desa, tapi tak ditemukan kepalanya kepala desa. Entah kemana raibnya. Saat itu, warga mulai cemas. 

Cerita-cerita aneh mulai menyebar, persepsi-persepsi mulai terbentuk, tapi belum terlalu disepakati. Setelah Jukifli, masih banyak yang berminat untuk jadi kepala desa.

Kepala desa yang ketiga bernama Sanusi. Orangnya berani, mantan jawara desa, dan punya seribu jurus mematikan. Saking tingginya ilmu silat Sanusi, konon dia juga lihai mengeluarkan jurus kunyuk melempar buah. Warga juga yakin, Sanusi tak akan mampu dipenggal oleh siapapun. 

Dari dulu mana ada yang berani melawan Sanusi. Jago Silat, punya tenaga dalam dan kabarnya juga ahli taekwondo, karate hingga kungfu. Warga percaya, apalagi melihat foto Sanusi bersama Bruce Lee yang dipajang di dinding ruang kerjanya.

Tapi, sama saja ternyata. Sanusi juga mati tanpa kepala.

Tiga kepala desa yang mati tanpa kepala membuat warga percaya kalau kejadian ini adalah kutukan. Saat itu mencari kandidat untuk maju jadi kepala desa pun mulai sukar. Saat itu Marli muncul menyemangati warga, mencari-cari calon yang mau maju dan berusaha mematahkan kisah kepala desa yang mati tanpa kepala.

Selanjutnya ada Kartono. Kepala desa yang satu ini sungguh cerdik. Dia mengangkat ratusan warga untuk jadi penjaga rumah dinasnya. Warga mau saja, gaji tinggi soalnya. Setiap malam rumah dinasnya ramai. Persis pasar malam. 

Pintu kamar tidur Kartono dijaga sepuluh orang jawara desa. Pengamanan sangat ketat. Hingga bagi warga yang ingin menemui Kartono pun harus menjalani proses yang rumit dan panjang. Warga kesal, tapi mau bagaimana lagi, demi keamanan kepala desa juga.

Dan, sama saja. Kartono ditemukan mati tanpa kepala. Setelah seratus hari kerja.

Setelah itu, lima bulan lamanya Desa Nurkalata tanpa kepala. Marli berusaha keras mencari warga yang mau jadi kepala desa. Berbagai iming-iming, rayuan dan segala macam kemewahan yang siap diberikan pada kepala desa terpilih, tapi belum ada warga yang mau.

Kemudian, Zainal muncul menjadi satu-satunya kandidat yang berani menjabat sebagai kepala desa. Dia baru pulang dari kota. Marli lega. Warga pun bahagia. Zainal tak percaya kisah-kisah yang dialami kepala desa sebelumnya. Zaman modern, keamanan super canggih bisa diterapkan di rumah dinas kepala desa, begitu kata Zainal.

Sebelum resmi menjabat, rumah dinas dipugar habis-habisan. Sistem keamanan sangat canggih. Untuk masuk ke rumah dinas, harus pakai kata sandi. Setiap pintu berbahan baja. Pengamanan juga ditingkatkan. 

Warga pun rela menyumbang uangnya agar rumah dinas kepala desa terjamin keamanannya. Butuh dua ratus miliar untuk renovasi. Tapi tidak apa-apa, asalkan memang kepala desa bisa terjaga dan tidak mati tanpa kepala.

Warga yakin, sumbangan yang sudah dikeluarkan tak akan sia-sia. Kepala desa yang terpilih tak akan bernasib sama dengan kepala desa sebelumnya. TAPI, sama saja. Zainal mati tanpa kepala. Semua orang bingung, dengan sistem keamanan yang super canggih, Zainal ditemukan mati di ruang kerjanya. Ruang yang begitu ketat pengamanannya, kenapa Zainal masih juga mati tanpa kepala? Kemana kepalanya?

Setelah kejadian itu warga sepakat untuk sementara membiarkan desa tanpa kepala. Satu hal yang sekarang harus ditemukan jawabannya, siapa yang membunuh kepala desa? Apa motifnya? Jika misteri ini terpecahkan, warga yakin, Desa Nurkalata akan dipimpin kembali oleh kepala desa yang tanpa khawatir lagi ditemukan mati tanpa kepala.

Siapa-siapa yang dekat dengan kepala desa pun dijadikan tersangka. Karena hanya orang terdekatlah yang bisa masuk ke ruang kerja kepala desa. Ada lima orang yang dicurigai. Juki, Rahmono, Gogon, Latif dan Marli. Sebenarnya dari lima orang ini tak ada yang pasti terbukti sebagai pelaku pembunuhan kepala desa. 

Cuma saja, karena orang terdekat diyakini adalah pelakunya, Juki, Rahmono dan Gogon pun dibuang dari desa. Sedangkan Latif dan Marli dianggap tak bersalah, karena mereka hanya penggerak dan jarang berhubungan dekat dengan kepala desa.

Setelah dirasa aman, pemilihan kepala desa kembali dilakukan. Waktu itu cukup banyak yang mencalonkan diri. Ada tiga orang. Burhanusi, Syafruddin MZ dan Dulkolak. Setelah dilakukan pemilihan, Burhanusi terpilih. 

Dari dulu memang dia punya impian untuk menjadi kepala desa. Sekarang setelah dia rasa kondisi sudah cukup aman, dan orang-orang yang dicurigai telah membunuh kepala desa juga telah dibuang dari desa, dia pun lega.

Sama saja ternyata. Burhanusi juga mati. Mati tanpa kepala. Setelah itu, selama lima tahun, tak ada lagi kepala desa. Tak ada yang berani menjadi kepala desa. Mereka lebih sayang kepala mereka sendiri, daripada menjadi kepala desa tapi kehilangan kepala. Marli masih berusaha merayu, tapi tak ada warga yang mau.

***

Cerita harus usai, dan rasa penasaran memang harus dituntaskan. Hari ini aku menemui Marli. Aku katakan padanya biar aku saja yang jadi kepala desa.

“Kamu serius?”

Aku mengangguk pasti.

“Okelah kalau begitu. Tapi apa kamu tidak takut jadi tumbal? Mati tanpa kepala seperti kepala desa kita sebelumnya?” tanya Marli. Matanya menatapku tajam.

Aku menggeleng.

“Baiklah kalau begitu. Sudah sangat lama desa kita tanpa kepala. Aku berharap kamu tidak ikut mati tanpa kepala.”

“Tenang saja, Bang.”

*****

Begitulah ceritanya. Sekarang, sudah lebih 40 tahun aku menjadi Kepala Desa Nurkalata. Tak ada yang berani menjadi kepala. Setiap kali pemilihan, setiap kali juga hanya aku satu-satunya kandidat untuk memimpin desa yang kaya raya ini.

Sambil bersantai di kursi empuk di ruang kerjaku, aku tersenyum senang. Aku begitu menikmati menjadi kepala desa, tanpa ada yang menganggu. Aku beranjak menuju lemari, mengambil kotak brangkas yang tersembunyi di bagian bawahnya. 

Aku membukanya perlahan. Sebuah kenangan untuk sebuah keabadian, pikirku. Di dalamnya ada tujuh tengkorak. Enam tengkorak adalah kepala desa sebelumku, dan satunya lagi adalah tengkorak Marli.