Seperti yang kita ketahui, bakteri merupakan makhluk hidup tidak kasat mata yang mempunyai banyak peranan dalam kehidupan. Baik itu peranan positif maupun negatif. 

Untuk peran positif, bakteri diketahui ikut berkontribusi dalam mengatasi permasalahan lingkungan seabagai agen biremediasi, pupuk pertanian, antibiotik kesehatan dan bahkan dalam proses industri makanan.

Namun di sisi lain, bakteri juga ada yang bersifat patogen yang umumnya menyebabkan penyakit pada berbagai organisme, baik itu pada tumbuhan, hewan dan manusia.

Potensi bakteri dalam berbagai bidang terus mengalami peningkatan. Salah satu yang menjadi pusat perhatian yaitu potensi bakteri dalam bidang pertanian sebagai agen pengendalian hayati.

Saat ini masalah terbesar dalam bidang pertanian ada hama. Salah satu kelompok hama yang menjadi sorotan yaitu kelompok serangga. Berbagai produk pestisida sintetik telah digunakan untuk memberantas serangga-serangga tersebut. 

Akan tetapi, penggunaan pertisida sintetik tersebut tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Bahan kimia yang terkandung dalam pestisida sintetik justru dapat merusak struktur tanah lahan pertanian. Selain itu, penggunaan pestisida sintetik terus-menerus menyebabkan resistensi pada serangga hama.

Nah, salah satu alternatif yang bisa dilakukan sebagai solusi dari masalah tersebut yaitu penggunaan organisme sebagai agen pengendalian hayati.

Pengendalian hayati tersebut merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan menggunkan musuh alami atau bisa disebut agen pengendali hayati. 

Berbagai kelompok organisme seperti bakteri, jamur dan serangga parasitoid dapat dijadikan sebagai agen pengendalian hayati. Namun ada satu organisme dari kelompok bakteri yang memiliki keunikan dalam melakukan pengendalian hayati yaitu bakteri Bacillus thuringiensis.

Ada apa dengan bakteri Bacillus thuringiensis?

Bakteri yang lebih dikenal dengan sebutan Bt ini merupakan entomopatogen yang diketahui memiliki kristal bersifat toksik terhadap hama tumbuhan seperti serangga. 

Toksik Bacillus thuringiensis  mampu membunuh  serangga dari kelompok Lepidoptera, Coleoptera dan Diptera. Kristal yang dimiliki oleh Bacillus thuringiensis ini sering disebut dengan parasporal body.

Loh, kok bakteri bisa memiliki kristal?

Secara teori, dalam siklus hidup Bacillus thuringiensis akan membentuk kristal bersamaan dengan pembentukan endospora atau dikenal dengan fase sporulasi sel. Pembentukan endospora ini dipicu oleh faktor lingkungan seperti suhu dan ketersediaan nutrisi, yang tidak mendukung Bacillus thuringiensis untuk melakukan pertumbuhan fase vegetatif.

Bagaimana kristal ini bekerja?

Saat host (serangga ataupun larva serangga) memakan tumbuhan yang sudah disemprot dengan kristal Bacillus thuringiensis, maka sistem pencernaan dari host tersebut akan mengalami gangguan ketidak seimbangan osmotik. 

Hal ini dikarenakan saat kristal masuk dalam saluran pencernaan, enzim protease pencernaan akan mengubah struktur kristal dari protoksik menjadi toksik. Toksik akan berinteraksi degan reseptor epitel usus sehingga terbentuk pori-pori. 

Pori-pori akan mengganggu keseimbangan osmotik saluran pencernaan yang menyebabkan host kehilangan nafsu makan. Dan pada akhirnya host tersebut akan mati dalam jangka waktu 3 sampai 5 hari

Faktanya, tidak semua host akan mati dalam jangka waktu tersebut. Hal ini ini disebabkan konsentrasi kristal Bacillus thuringiensis yang diberikan terlalu rendah. 

Namun demikian, jika saat fase larva host telah memakan kristal Bacillus thuringiensis dan tetap survive hingga dewasa, maka host akan mengalami beberapa bentuk obnormal pada bagian-bagian tubuhnya. Kondisi ini tidak mendukung host tersebut untuk beraktivitas normal dan cepat atau lambat host tersebut akan mati.

Sejarah Bakteri Bacillus thuringiensis

Sejarah awal ditemukannya bakteri Bacillus thuringiensis yaitu pada tahun 1901 di Jepang oleh Ishiwata Shigetane. Ishiwata Shigetane mengisolasi Bacillus thuringiensis dari ulat sutera Bombyx moril yang sakit dan bakteri Bacillus thuringiensis hasil isolasi tersebut kemudian diberi nama Satta bacillus

Tahun 1915 di Jerman, Berliner mengisolasi Bacillus thuringiensis dari ngengat tepung Mediterania Ephestia kuehniella (Zell.) yang mati dan meresmikan nama bakteri Bacillus thuringiensis.

Selanjutnya, pada tahun 1929 di Eropa, Husz pertama kali mengaplikasikan Bacillus thuringiensis ke hama jagung Ostrinia nubilalis. Di Prancis tahun 1938 dilakukan komersial produk dari bakteri Bacillus thuringiensis yang diberi nama “Sporeine”. Disusul oleh Swiss tahun 1940 melakukan komersial produk “Thuricide". 

Produk komersial dari bakteri Bacillus thuringiensis terus berkembang dengan berbagai merek dagang seperti Bactospeine dan Dipel.

Pada Tahun 1970, De Barjac dan Lemille melakukan identifikasi subspesies berdasarkan serotipe flagella bakteri Bacillus thuringiensis. Hasil identifikasi tersebut diberi nama Bacillus thuringiensis subsp. Kurstaki. 

Dan tahun 1986, Hernstadt menemukan strain spesifik dari bakteri Bacillus thuringiensis. Strain tersebut diberi nama Bacillus thuringiensis subsp. San Diego.

Saat ini, diketahui terdapat lebih dari  60.000 kultur isolat Bacillus thuringiensis telah dikoleksi di seluruh dunia. Potensi dari kristal Bacillus thuringiensis terus dikembangakan untuk menghasilkan berbagai produk yang mampu mengendalikan hama tumbuhan di bidang pertanian. Sehingga dapat menunjang hasil panen yang maksimal.

Jadi, "si kecil musuh serangga" sudah terjawab, kan?