“Neth, ini rangkuman-rangkuman UTBK-nya, ya,” tandas penulis sambil menyerahkan satu kantong plastik kepadanya. 

Apa isi kantong plastik tersebut? Pembaca sekalian pasti dapat menerkanya. Kantong plastik itu menampung setumpuk kertas berisi rangkuman. Bentuknya pen-and-paper summary, cara favorit penulis dalam belajar.

Melihat dari track record masa lalu, penulis menyadari betapa pentingnya peran kertas dalam kehidupan. Tidak mungkin penulis menyelesaikan pendidikan selama 12 tahun tanpa kertas. Tidak mungkin juga penulis bisa mencapai prestasi di dunia akademik dan kepenulisan tanpa kertas. Dalam kata lain, kertas adalah salah satu fundamen kehidupan penulis.

Ternyata tidak hanya penulis yang memiliki hubungan demikian. Peradaban manusia juga memiliki hubungan yang sama dengan kertas.

Pada era post-modern ini, peradaban manusia sudah menganggap kertas sebagai kebutuhan primer. Penggunaannya sangat banyak dalam kehidupan kita, mulai dari medium untuk menulis sampai bungkus gorengan. Penggunaannya begitu luas. Sampai kertas menjadi sebuah komoditas yang taken for granted. Diterima begitu saja, tanpa menyadari betapa berharganya kertas bagi peradaban kita.

Tinjaulah masa lalu peradaban manusia. Kita akan menemukan bahwa things aren’t always this way. Kertas sendiri baru ditemukan pada tahum 100 SM di Tiongkok. Setelahnya, produksi massal kertas baru dimulai pada tahun 105 M oleh seorang pejabat Dinasti Han bernama Ts’ai Lun. Kertas baru benar-benar mendunia pada abad ke 15 (Carr dalam quatr.us, 2017).

Lalu, apa yang digunakan manusia untuk menulis sebelum kertas? Peradaban Tiongkok Kuno menggunakan bambu. Sementara, peradaban Mesir Kuno menggunakan papyrus untuk tulis-menulis. Selanjutnya, peradaban Romawi Kuno menggunakan tablet dari tanah liat. Terakhir, peradaban Asia Tenggara Kuno bahkan menggunakan daun lontar untuk menulis (laserfiche.com, 2019).

Dari bambu sampai daun lontar, tidak ada dari mereka yang seunggul kertas. Kertas jauh lebih ringan untuk dibawa dibanding medium-medium yang mendahuluinya. Kertas juga jauh lebih awet untuk disimpan. Kertas juga memudahkan para penggunanya karena proses penulisan dan perbaikan yang mudah. Singkatnya, kertas adalah disrupsi yang mengguncang peradaban manusia.

Amplitudo disrupsi kertas sungguh besar. Sampai-sampai ia menjadi fundamen peradaban manusia hingga saat ini. Tanpa kertas, peradaban kita tidak mungkin semaju sekarang. Bagaimana mungkin berbagai ide-ide baru tersebar ke seluruh dunia jika tidak menggunakan kertas? Mungkinkah para industrialis Inggris-Amerika menciptakan revolusi industri tanpa keberadaan kertas?

Tentu saja tidak. Mereka memerlukan kertas untuk menuangkan ide mereka, mulai dari paparan ide abstrak sampai rancang bangun sebuah mesin. Kertas juga diperlukan untuk menyimpan dokumen administratif korporasi para industrialis. Tanpanya, semua penemuan baru dan revolusi industri dunia tidak akan pernah terjadi.

Namun, gelombang Revolusi Industri 4.0 mulai mengubah hubungan ini. Sekarang, kertas justru menjadi objek disrupsi. Perkembangan teknologi yang belum pernah terjadi sebelumnya memungkinkan fenomena ini. Berbagai inovasi dalam produksi kertas bermunculan di era ini. Akhirnya, kertas menjadi makin eco-friendly dan pulp-efficient.

Makin banyak bahan baku yang mampu dibuat menjadi kertas, mulai dari sampah konsumsi, fiber daur ulang, jerami, bahkan kotoran gajah. Inovasi ini mengurangi jumlah serat kayu yang digunakan dalam pembuatan kertas. Makin sedikit serat kayu yang diperlukan, makin sedikit pohon yang ditebang. Makin sedikit penebangan pohon, kertas menjadi makin ramah lingkungan.

Selain bahan baku, inovasi teknik produksi kertas juga bermunculan. Sudah banyak bermunculan kertas yang oxygen-free and chlorine-free. Tandanya, emisi yang dikeluarkan dalam produksi kertas tersebut lebih rendah. Selain itu, jumlah serat kayu yang diperlukan dalam produksi makin sedikit. Emisi yang lebih rendah membuat produksi kertas menjadi lebih ramah lingkungan dibanding sebelumnya.

Kedua inovasi ini baru dari sisi produksi. Lantas, bagaimana dari sisi konsumsi kertas dalam masyarakat kita? Ternyata Revolusi Industri 4.0 juga menciptakan arus inovasi dalam sektor ini. Bagaimana bentuk inovasinya?

Inovasi tersebut adalah aplikasi pengedit dokumen seperti Microsoft Word, OpenOffice, dan lain sebagainya. Sebelum keberadaan inovasi ini, peradaban manusia mengandalkan mesin tik dalam membuat dokumen. Sekali terjadi kesalahan, pengetikan diulangi lagi pada kertas baru. Mengapa? Sebab tidak ada cara untuk mengedit kesalahan dalam dokumen tanpa meninggalkan jejak.

Aplikasi pengedit dokumen menghilangkan kesulitan tersebut. Kini, kita bisa mengedit dokumen kita dalam bentuk soft copy. Semua kesalahan bisa diperbaiki sebelum proses pencetakan. Sehingga, proses perbaikan yang rawan pemborosan kertas pun bisa dihindari. Akhirnya, kertas yang digunakan sampai proses pencetakan mampu diminimalisasi.

Selain itu, aplikasi pengedit dokumen juga mempermudah pengguna untuk mengatur margin, ukuran font, jarak antarspasi, sampai jumlah kolom. Sehingga, pengguna dapat memperkecil jarak antarspasi, memperkecil ukuran font, dan lain sebagainya dengan mudah. Akhirnya, setiap lembar kertas digunakan secara optimal.

Setelah proses konsumsi, mari kita tinjau inovasi dalam post-consumption waste. Revolusi Industri 4.0 mulai menelurkan berbagai solusi akan permasalahan ini. Pada tahun 2015, mesin pendaur ulang kertas di rumah/kantor sudah muncul. Selain itu, berbagai perusahaan pendaur ulang kertas dan pusat daur ulang kertas juga muncul di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Bedanya, kedua fasilitas ini sudah banyak tersedia di negara maju. Sementara, fasilitas-fasilitas ini belum mudah ditemukan di negara berkembang seperti Indonesia. Pemerintah harus segera menyadari loophole ini dan segera melaksanakan solusi konkret untuk menyelesaikannya.

Kesimpulannya, kertas adalah fundamen peradaban manusia yang adalah disrupsi di masa lalu. Tetapi, Revolusi Industri 4.0 mengubah komoditas kertas menjadi objek disrupsi. Disrupsi ini membuat kertas menjadi makin ramah lingkungan dan efisien.

Efeknya, kertas sebagai fundamen peradaban manusia menjadi makin refined seiring perkembangan zaman. Refinement inilah yang membuat kertas bertahan di era post-modern ini.

Sumber Bacaan