Para pembaca ialah orang-orang paling sombong sedunia. Semuanya, entah ia seorang pembaca buku, undang-undang, banner besar di pinggir tol, peristiwa, bahkan sekedar berita yang isi nya mempercayai bahwa Flu Babi merupakan penyakit turunan bangsa Maya yang ditularkan makhluk luar angkasa. Para pembaca ialah entitas yang mengira diri mereka paling mengerti setiap senti dari dunia.

Aku selalu sangsi, sungguh, ketika ada seorang mengelu-elukan berapa juta lembar kertas yang telah ia baca, lalu diperdengarkan hasil-hasil bacaannya pada orang-orang yang padahal tidak mengerti makna kata-kata yang entah muncul dari planet mana. Biasanya, setelah mendengar kata-kata itu, mereka berbisik-bisik sambil membincang betapa pintar sang empunya mulut yang beruntung bisa mengucapkan kata dari planet entah-mana itu.

Aku membenci sastra, atau literasi, atau tetek-bengek yang berhubungan dengan mata. Persetan urusan para orang-orang sombong itu. Mereka berpikir negara ini bakal maju jika dan hanya jika orang-orangnya pintar membaca. Mereka—para pembaca itu—tidak sadar, orang-orang yang memimpin kita adalah mereka yang pintar membaca. Lantas, apa negara ini maju? Pelototi dengan mata kalian!

Ayahku sarjana sastra, dan karena nya, aku sangat membenci sastra. Ia sarjana sastra yang gagal karena tidak bisa membaca. Ya, ayahku buta, begitu pula aku. Entahlah, mungkin itu faktor genetik dan aku tidak pernah menyesalinya sama sekali. Entah pikiran bodoh apa yang merasuki ayah sehingga repot-repot masuk ke sarang orang-orang sombong itu. Ia pernah diberi tugas oleh dosennya untuk menggambar suasana di pinggir sungai yang sejuk. Saat ia hendak meminta tolong temannya untuk menggambarkan hal itu padanya, temannya justru menghardiknya dan membentak;

“Bodoh, hal itulah yang akan kutulis. Lalu kau enak saja mendengarkannya tanpa repot-repot melihatnya”.

Ayahku juga pernah hampir dihabisi oleh teman-teman jurusannya karena menabrak seorang wanita di pelataran Fakultas. Jelas, orang buta mana yang sengaja menabrakkan dirinya? Namun justru perempuan itu memekik “Orang ini melecehkanku”, lalu tanpa tedeng aling-aling, beberapa lelaki—dengan menebak jumlah bunyi langkahnya—menerjang tubuh mungil ayahku dan hampir membuatnya tuli.

Apa orang-orang itu tidak pernah membayangkan, bagaimana rasanya seorang tunanetra ketika kehilangan pendengaran? Apa di tumpukan kertas yang mereka baca dan elu-elukan itu, tidak pernah menemukan cara bagaimana kami, para orang buta, berjalan menerawang kegelapan? Apa di kamus-kamus mereka, tidak ada entri makna kata “Ketidaksengajaan”?

Tetapi ayah sama sekali tidak membenci sastra. Baginya, sastra adalah bahan bakar yang selalu, sampai sekarang, membuatnya bersemangat untuk hidup. Ayahku selalu merekam sebuah puisi di sebuah alat merekam jadul; ia menyebutnya sebagai puisi yang berbicara. Dahulu, ia pernah bercerita tentang pertemuannya dengan almarhum ibu. 

Dan di satu sisi sudut pandang lain, almarhum ibu menceritakan kisahnya dengan sang ayah. Ibu adalah teman ayah dulu saat sama-sama di jurusan sastra, tapi ibu bukan seseorang yang sombong karena berhasil menemukan kata-kata dari planet lain, beradu mulut tentang mana novel pop atau adiluhung, saling menuding tentang pelecehan, dan kegiatan-kegiatan tolol lainnya.

Ibu adalah seorang sastrawati yang lebih menggunakan telinga ketimbang mata, dan karena itu, ayah menjadi suka padanya. Ibu yang menggambarkan suasana sungai mengalir dan menjelaskannya pada ayah, ibu pula yang membela ayah ketika hendak disidang oleh senat mahasiswa atas kasus pelecehan yang ayah sendiri tidak tahu jika yang ditabraknya ialah seorang perempuan.

Ibu pertama bertemu dengan ayah ketika ayah sedang berjongkok menghadap selokan yang mengalir deras di samping gedung fakultas. Ibu memperhatikan ayah yang hanya duduk termenung dan tidak bergerak sama sekali. Ibu menepuk pundak ayah dan serta merta ayah langsung melompat kaget. Nahasnya, dan lucunya, arah lompatan ayah mengarah ke selokan itu.

Ayahku basah, beserta fotokopian yang ia tenteng di tas lusuhnya itu. ia meracau dan mengutuki seseorang yang mengagetkannya. Ibu panik, bingung apa yang harus dilakukannya, dan berlari menjauh. Namun, selang beberapa menit kemudian, ibu kembali lagi ke tempat itu untuk menolong ayah. Ia kembali setelah beberapa saat setelah mengambil langkah seribu, ia sadar bahwa ayah seorang tunanetra.

Saat ia kembali, ayah telah dikelilingi oleh teman-teman (atau musuhnya) jurusannya sambil mengolok-ngoloknya. Ibu melihat ayah sedang menunduk malu, celananya dan setengah bajunya kuyup, bau busuk selokan pun menjadi aromanya. Ibu lantas menarik ayah dan menjauhinya dari gerombolan orang-orang sombong itu. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar makian-makian “Si Buta Dari Selokan Hantu” bersahut-sahutan di belakang ayah dan ibu.

Saat ayah sadar suara-suara bengis itu telah hilang, dan ada seseorang yang menuntunnya berjalan menjauh dari suara-suara itu, ayah mulai menangis. Ia membenci mimpinya sendiri. Ia berterima kasih pada penolongnya itu sambil memohon maaf telah repot-repot membantunya keluar dari neraka tadi. Ibu ku hening, masih merasa bersalah atas perbuatan yang tidak ia sengaja tadi. Ibu meminta ayah menunggu sebentar, dan membeli 2 es jeruk.

Ibu membawa es jeruk itu dan memberikannya pada ayah. Lalu, mereka berdua mulai bercakap-cakap. Ayah menceritakan pada ibu tentang mimpinya menjadi seorang penyair, dan masuk jurusan sastra mungkin bisa membantunya meraih itu. 

Ayah bercerita asal mula mimpinya itu saat melihat seorang penyair keliling yang membaca kata-kata yang enak didengar keras-keras. Selain merdu, penyair itu pintar mengatur huruf agar setiap akhir kata selalu mempunyai mempunyai bunyi yang sama di akhir. Ayah selalu meminta ibunya dulu mengantarnya ke—orang-orang menyebutnya pengamen kata-kata—tempat penyair itu membacakan puisinya.

Ibu mendengar segala ocehan ayah, memandang wajahnya lekat-lekat, sambil sesekali terngiang peristiwa di selokan dekat fakultas tadi, ibu tertawa lirih. Lalu mereka berkenalan, dan ayah kaget sekali ketika tahu orang yang diajaknya bicara adalah seorang perempuan. 

Jadi, ia menangis pun di hadapan perempuan ini. Perempuan ini pula yang membantu membersihkan celana dan bajunya dari kotoran-kotoran selokan dengan daun. Perempuan ini pula yang menariknya menjauh dari gerombolan orang-orang sombong itu.

Ibu menahan ayah yang hendak berdiri dan pergi dari situ, dan mengatakan padanya apa yang salah dengan menangis di hadapan perempuan? Apakah seorang laki-laki dilarang menangis karena ia laki-laki, sedang dalam dirinya diciptakan benda paling rapuh yakni hati? Bukankah seorang penyair membutuhkan hati, disamping logika untuk menyusun kata? Lalu, setelah mendengar pertanyaan-pertanyaan ibu, ayahku duduk kembali.

Ayah tidak pernah mau menceritakan bagaimana bisa ia menjadikan ibu sebagai kekasihnya, lalu membuat almarhum mau menikahinya. Setiap kusodorkan pertanyaan itu, ia selalu tersenyum dan menitikkan air mata. Lalu ia akan berucap, setiap orang buta akan mempunyai kisah ajaibnya sendiri.

Ia hanya selalu memperdengarkanku puisi yang bebicara miliknya itu. Puisi yang ia karang untuk ibu itulah yang selalu menjadikannya mencintai hidup, mencintai matanya yang buta dan telinganya yang peka serta mencintai wanita yang mempersilahkannya menangisi nasib dihadapannya. Baginya, ibu adalah sastra, dan begitu pula sebaliknya.

Tapi sejak ayah bercerita tentang kisahnya, dan mendengar bagaimana orang lain memperlakukan ayah karena ia tidak bisa membaca kertas-kertas berjilid itu dan tidak bisa menulis karena ia buta, aku membenci hal-hal yang berkaitan dengan mata dan membaca. Pikir mereka, manusia tidak akan bisa hidup tanpa melihat. Padahal, kehancuran mereka dimulai ketika mereka enggan mendengar.