Sepak Bola Indonesia, potensi besar, fanatisme penggemar, hingga bakat-bakat muda dari seluruh penjuru negeri yang tidak ada habisnya bermunculan namun kenapa semakin tahun prestasi timnas semakin turun?

Bagi orang Indonesia timnas Indonesia adalah sebuah kebanggaan tersendiri melebihi berbagai hal, jika timnas bermain berbagai perbedaan yang ada diantara pendukung terlupakan.

Timnas Indonesia dalam setiap laga yang dimainkan oleh kesebelasan selalu mengemban ekspektasi tinggi dari para pendukung, bagaimana tidak sejak tahun 90 an hingga kini prestasi timnas malah turun, sejak 1996 Indonesia hanya empat kali masuk piala asia, dan baru-baru ini kembali lolos.

Karena hal ini banyak pihak yang menuntut federasi untuk memperoleh pelatih dan pemain yang mampu bersaing di Asia.

Akhirnya federasi memulai pembenahan, dengan dikontraknya pelatih asal Korea Selatan Shin Tae-yong yang memiliki resume yang mumpuni. beliau adalah mantan pelatih timnas Korea Selatan yang berhasil memulangkan Jerman pada babak penyisihan piala dunia 2018.

Shin Tae-yong mulai membangun pondasi timnas Indonesia dari nol, dengan mengembangkan bakat-bakat muda yang dimiliki oleh Indonesia, dalam berbagai kesempatan pun pelatih lebih memilih menggunakan pemain muda dari pada pemain senior.

Namun hal ini tentu saja akan memakan waktu yang sangat lama, dengan kotrak yang akan habis pada 2023 apakah akan memungkinkan membangun pondasi dan menjuarai berbagai macam turnamen yang akan diikuti timnas?

Untuk mencapai prestasi yang diberikan oleh federasi kepada pelatih Shin Tae-yong, beliau memiliki beberapa rencana, pembinaan pemain muda untuk prestasi jangka panjang dan naturalisasi pemain untuk jangka pendek.

Namun hal ini mendapat opini yang beragam dari publik, banyak yang berpendapat bahwa naturalisasi pemain tidak diperlukan, pemain-pemain lokal saja sudah cukup.

Shin Tae-yong menegaskan bahwa pemain naturalisasi dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pemain Indonesia, pemain yang akan dinaturalisasi juga bukan pemain sembarangan, pemain yang dipilih sudah memiliki jam terbang tinggi di liga-liga Eropa.

Naturalisasi Pemain

Naturalisasi pemain untuk kepentingan timnas Indonesia bukanlah hal yang tabu ditelinga penggemar sepak bola tanah air, pada 1950 naturalisasi pertama kali dilakukan contoh sukses naturalisasi adalah Arnold van der Vin seorang kiper timnas indonsia setelah Tan Mo Heng.

Setelah Arnold van der Vin, naturalisasi di Indonesia seakan hilang, namun pada tahun 2000an desas desus naturalisasi kembali muncul kepermukaan untuk kepentingan timnas, banyak yang menganggap ini adalah bukti bahwa federasi telah gagal dalam pembinaan usia muda.

Pemain yang akan dinaturalisasi oleh Indonesia bukanlah pemain antah beranta, pemain yang dipilih oleh pelatih Shin Tae-yong adalah keturunan orang Indonesia dan yang pastinya kualitasnya lebih tinggi dari pemain lokal.

Sandy Wals, Jordi Amat, dan Shayne Pattynama adalah pemain yang akan dinaturalisasi oleh timnas Indonesia setelah beberapa pemain memiliki kendala.

Sandy Wals, pemain klub KV Mechelen ini pada musim 2021-22 di liga utama Belgia menyumbangkan 3 gol dan 5 assists pada 33 pertandingan, statistik ini cukup baik bagi pemain yang berposisi sebagai pemain bertahan.

Sandy Wals sendiri memiliki darah Indonesia dari kakek neneknya, motivasi Sandy membela timnas adalah cerita-cerita kakeknya mengenai sepak bola Indonesia, Sandy juga telah menanti panggilan naturalisasi timnas sejak 2018.

Jordi Amat, pemain bertahan yang memiliki resume terbaik diantara pemain-pemain naturalisasi lainnya, bagaimana tidak Jordi Amat pernah bermain diliga-liga terbaik Eropa seperti La Liga dan Premier league, Jordi telah berhadapan dengan penyerang-penyerang terbaik dunia seperti Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Jordi Amat memiliki darah Indonesia dari neneknya yang berasal dari Sulawesi Utara, namun darah Indonesia Jordi bukan darah sembarangan, Jordi adalah keturunan ke-3 raja Siau, sama dengan prestasinya ini adalah hal yang istimewa.

Shayne Pattynama, pemain termuda dalam proses naturalisasi ini bermain di liga Norwegia seorang left-back yang solid dan selalu menjadi pemain utama diklubnya Viking FK.

Shayne Pattynama memilik darah Indonesia dari ayahnya, dan ayahnya jugalah yang membuat Shayne berkeinginan untuk membela skuat garuda, ayahnya selalu bercerita tentang indahnya Indonesia, namun Shayne harus tabah karena motivasi terbesarnya tidak bisa melihatnya bermain untuk garuda karena sang ayah telah meninggal dunia.

Jika dilihat dari statistik tiga pemain yang akan membela timnas, Indonesia memiliki potensi besar untuk memberi kejutan di piala  asia 2023.

Generasi Baru

Pengembangan pemain muda di Indonesia pada masa kepelatihan Shin Tae-yong mulai menunjukkan hasil, mulai dari pemain muda yang meninggalkan zona nyaman dan mencoba liga-liga terbaik Asia, hingga pelatihan yang menciptakan pemain-pemain yang memiliki potensi besar.

Nama-nama seperti Asnawi Mangkualam, Pratama Arhan, Marselino Ferdinan dan Ronaldo Kwateh adalah beberapa nama yang bersinar di bawah komando kepelatihan Shin Tae-yong, banyak lagi pemain yang memiliki jadi potensi yang hebat seperti Cahya Supriadi.

Generasi baru timnas era Shin Tae-yong ini terlihat sangat mumpuni untuk level Asia, perpaduan antara pemain muda berpotensi dengan kepemimpinan  pemain senior serta strategi kelas dunia pelatih, era ini terlihat sangat berpotensi.

Banyak pula akhirnya pemain-pemain yang berkarir di luar negeri untuk membela timnas Indonesia contohnya Elkan Baggot, pemain divisi 3 inggris, serta tiga pemain muda asal belanda yang disiapkan untuk piala dunia U-20.

Jika dilihat dari kacamata penonton biasa seperti saya timnas era ini adalah era timnas paling menarik untuk diikuti dalam bidang perkembangannya, dengan pelatih yang tegas dan pemain yang berpotensi, Indonesia terlihat indah untuk dipandang.