Saya jarang peduli tentang isu atau berita seleb Indonesia, kecuali yang berhubungan dengan orientasi seksual. Karena topik ini sedikit kukuasai. Yang terakhir menarik perhatianku adalah berita seputar Sheila Marcia Joseph. 

Di timeline Twitter-ku sekitar tiga atau empat hari lalu, ada yang retweet berita kehidupan miring Sheila. Isunya adalah hubungan sesama jenis yang dibuktikan dengan foto-foto Sheila sedang berciuman dengan seorang wanita.

Bagiku, foto itu biasa saja. Yang menarik perhatianku justru reaksi dari pembaca atau pengunjung pada akun instagramnya, dan juga komentar para pengguna Twitter. Kurang lebih seperti ini komentar-komentarnya.

“Oooo… jadi dia sudah belok ya?”

“Ya ampunnn… ternyata dia jeruk makan jeruk juga!”

“Kasian ya anak-anaknya, emaknya belok gitu.”

“Senakal-nakalnya lu, jangan gak bermoral jadi lesbi…. Bla, bla, blaaa…”

Dan banyak lagi komentar yang mungkin menyakitkan buat Sheila. Ok. Ada beberapa beberapa hal yang menggerakkan aku menulis artikel ini;

1. Tentang istilah belok

Aku mengerti maksud belok di sini adalah berubah dari straight menjadi lesbian atau gay. Karena straight itu artinya lurus, maka lesbian diartikan sebagai belok atau bengkok. 

Istilah ini sudah dipahami secara luas di masyarakat. Bahkan tokoh masyarakat pun pernah kudengar mengunakan istilah tersebut.

Tapi bagiku, istilah ini tidak tepat dan membuat telingaku gatal mendengarnya. Karena istilah itu semacam merendahkan satu atau beberapa orientasi seksual dibanding satu jenis orientasi seksual yang dominan. Dalam hal ini, posisi heteroseksual di atas orientasi seksual lainnya. 

Oh iya, bagi yang belum tahu, orientasi seksual itu sangat banyak macamnya. Dan seiring perkembangan ilmu pengetahuan, variannya pun senantiasa bertambah. Yang dikenal secara umum saat ini adalah orientasi seksual itu di antaranya: heteroseksual, biseksual, homoseksual, panseksual, poliseksual, aseksual, dan lain-lain.

Secara sains, tidak ada orientasi seksual yang lebih unggul dari yang lain, karena semua normal di mata ilmu pengetahuan. Tapi bila memakai mata sosial budaya dan agama, memang ada orientasi seksual yang lebih unggul dari yang lain, yaitu heteroseksual. Selebihnya adalah kehinaan dan cacat.

Itu yang tergambar dalam komentar foto-foto Sheila tersebut. Bahwa masyarakat Indonesia masih lebih banyak menggunakan mata agama dan budaya dalam melihat kehidupan sesamanya. Kita masih melihat bahwa apa yang benar menurut budaya dan agama itu adalah kebenaran mutlak dan sulit menerima sesuatu yang menyalahi norma. 

Sehingga muncullah istilah belok tersebut. Artinya, berbelok dari jalan yang lurus. Tentu maksudnya ke jalan yang tidak lurus alias jalan yang salah. Karena bagiku semua orientasi seksual itu sama kedudukannya, maka istilah belok ini membuat telingaku gatal.

2. Sheila itu lesbian

Hal pertama, kok bisa langsung mengatakan Sheila itu lesbian? Tahu artinya lesbian, kan? OK, lesbian adalah perempuan yang memiliki ketertarikan secara seksual, fisik, romantisme, dan emosional HANYA terhadap perempuan. 

Memang kamu tahu seberapa suka Sheila terhadap perempuan? Aku pun tidak bisa menebak. Hanya dia yang tahu hal tersebut. Karena persahabatan dua perempuan sering sangat-sangat dekat, baik secara emosi maupun fisik. 

Ok, sebutlah Sheila terlihat terlalu intim dengan teman wanitanya. Tahu dong kalau sebelumnya Sheila sudah pernah menikah dan punya anak dari dua lelaki? Dia tidak dijodohkan, yang artinya dia memiliki kehendak bebas untuk berhubungan dengan lelaki tersebut. Berarti Sheila tidak hanya tertarik pada perempuan dong? Artinya dia bukan lesbian.

Jadi apa orientasi seksualnya? Kalau ada orang yang tertarik pada lawan jenis dan sejenisnya, itu biseksual. Tapi aku tidak berani mengatakan Sheila itu biseksual sebelum dia sendiri yang mengucapkannya. Kalau dia sudah coming out, baru kita bisa sebutkan orientasi seksualnya seperti yang dia katakan.

Taukah Anda, menurut survei Dr. Alfred Kinsey tahun 1950-an, bahwa dalam sebuah populasi, jumlah heteroseksual itu 71%, biseksual 23% dan homoseksual 6%? Angka ini masih dianggap valid hingga sekarang. Anda bisa membayangkan berapa banyak jumlahnya, bukan?

Bayangkan saja bila teman sekelasmu jumlahnya 100 orang, maka ada 6 orang yang homoseksual, 23 orang yang biseksual dan sisanya heteroseksual. Hanya saja pada masyarakat yang masih tradisional seperti Indonesia, biseksual sering lebih menekan rasa sukanya terhadap sejenis, dan homoseksual pun berusaha menjadi heteroseksual.

3. Lesbian itu tak bermoral

Moral itu apa sih? Kalau kita cari artinya via Google, arti moral dibahas panjang lebar dari nilai positif hingga etika. 

Kalau menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), moral itu adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Bermoral artinya mempunyai akhlak baik atau perbuatan baik.

Nah, ukuran moral di sini menjadi abu-abu, karena setiap orang punya standarnya masing-masing. Standar moral seseorang sangat dipengaruhi oleh latar belakangnya seperti pendidikan, lingkungan keluarga/masyarakat, agama (fanatik/tidak). 

Standar moral orang Amerika pasti berbeda dengan orang Indonesia. Tidak ada yang lebih baik karena masing-masing punya value yang sesuai dengan pandangan masyarakatnya.

Ada orang yang melihat gay dan lesbian tidak bermoral. Tapi ada juga yang melihat bahwa gay dan lesbian itu bukan masalah moral. Bagi beberapa orang, yang tidak bermoral itu seperti koruptor, pembunuh, menyakiti sesama manusia, dan lain-lain. Lihat, dalam masyarakat kita sendiri pun ukuran atau batasan moral itu sangat luas.

Itulah sebabnya mengapa terdapat komentar yang sangat beragam dalam menanggapi hal-hal seperti LGBT. Banyak yang menghujat Shiela, tapi banyak juga yang membelanya dan bisa menerima walaupun seandainya Sheila berpacaran dengan perempuan. Cukup banyak yang bisa membedakan mana ranah pribadi orang lain, mana ranah umum yang bisa kita masuki.

Kembali ke kata bermoral, apakah gay atau lesbian tidak bermoral? Itu sangat tergantung pada nilai yang dianut seseorang. Bagi yang orang fanatik beragama, lesbian dan gay itu sangat tidak bermoral. Tapi banyak pula orang yang menganggap gay dan lesbian bukan masalah moral, tapi masalah preferensi seksual saja.

Aku tidak mengenal Sheila Marcia secara pribadi selain dari berita tentang dirinya di layar kaca dan media cetak yang lebih banyak berita kurang baiknya. Tapi apa pun masa lalunya, who am I to judge her? Aku tidak pernah memakai sepatu yang dia pakai. Aku tidak pernah merasakan sakit atau bahagia yang dia rasakan.

Kalaupun dia sekarang bersama perempuan dan merasa bahagia, kenapa aku yang harus repot mempersoalkan? Give them space, people! Tidak perlulah jadi polisi moral buat orang lain, cukup untuk dirimu sendiri!

Baiklah, bagi yang ingin membaca tulisanku tentang orientasi seksual, dapat dilihat di blogku: www.apaja.wordpress.com

Terima kasih.