Mengikuti film Shawshank Redemption, kita benar-benar dijebak pada satu perenungan yang biasa, namun penting: harapan. Apa arti sebuah harapan bagi narapidana?

Film ini diangkat dari sebuah novel dengan Stephen King sebagai penulisnya, dan Frank Darabont sebagai sutradaranya. Pada tahun 1994, sebagaimana tahun yang sama ia dirilis, Shawshank Redemption berhasil menarik banyak perhatian. Bahkan dipuji oleh kalangan kritikus film.

Film Shawshank Redemption secara umum berkisah bagaimana sebuah “dosa” mesti ditebus lewat “Shawshank”. Sebuah, katakanlah lapas di Amerika, di mana orang-orang bersalah mesti dikirim ke sana, tanpa tahu ia akan bebas atau tidak.

Pada mulanya, film ini lekas mengajak kita pada satu sidang atas kasus pembunuhan. Di mana seorang bankir terkemuka, Tim Robbins, berperan sebagai Andy Dufresne, terlibat. 

Kelak, kita tahu ialah yang divonis sebagai pembunuh oleh hakim. Pembunuh istrinya sendiri pada satu malam yang kacau, sebab sebelum peristiwa tragis itu terjadi, ia terlibat dalam perkelahian dengan sang istri sebab berselingkuh. Dan tak lama bagi Andy untuk melihat dirinya sebagai seorang napi pembunuh di Shawshank.

Saya lebih cenderung menangkap bukan bagaimana kegenitan hukum yang berlaku di sana (pada masa itu tentu saja), atau bagaimana seorang yang bersalah harusnya diminta untuk “membayar” pada gereja, atau memohon ampun kepada Tuhannya, bersembahyang lalu menangis serta membuat persaksian: saya bertobat!

Melainkan, bagaimana lapas Shawshank dijalankan dengan sistem yang membunuh. Membunuh bukan dalam makna harfiahnya, tentu saja, sekalipun beberapa napi memang tewas mengenaskan dipukul oleh kepala sipir atau tertembak mati. 

Di balik itu, kebebasan dan cita-cita serta harapan untuk tetap hidup itulah yang dibunuh. Bukankah pada awal dalam film ini seorang jaksa (yang menuntut Andy) telah melakukan satu kekeliruan berpikir?

“Mereka memang telah berzinah. Tapi begitu besarkah kejahatan mereka sehingga mereka mesti dibunuh?” 

Logika yang sama sebetulnya dapat diajukan untuk membantah pernyataan jaksa ini: “Saya telah membunuh. Tapi setimpalkah ketika saya mesti menjalani sistem lapas yang juga membunuh? Atau jika pada akhirnya saya memang akan mati dalam lapas sebab dibunuh oleh sistemnya, bukankah itu lebih menyakitkan sebab sebuah sistem tak dapat dipidana?”

Memang benar dapat diajukan. Masalahnya, fakta bahwa lapas Shawshank memiliki sistem yang membunuh bukanlah rahasia umum, di mana orang-orang dapat membicarakannya atau memperoleh informasinya. Terutama, dengan bangunan lapas yang dibatasi pagar menjulang, bagaimana mungkin rahasia itu akan keluar? 

Tapi terlepas dari semuanya, satu-satunya yang dapat kita percaya adalah Shawshank begitu lihai “membunuh”.

Ada beberapa fakta menarik untuk mendukung bagaimana lapas Shawshank serupa pembunuh yang pandai. Pada suatu masa, ketika Brooks seorang narapidana yang rutinitas hari-harinya menjaga perpustakaan di lapas itu akan dibebaskan, ia justru mengalami satu ketakutan luar biasa. Psikologi itu menunjukkan bahwa ia tampak takut kehilangan dirinya dari lapas Shawshank.

Berapa lama ia hidup di lapas itu? Lima puluh tahun. Tak ada orang yang mampu meninggalkan satu hal yang menjadi kebiasaannya selama lima puluh tahun. Renungkan ini: jika ia seorang yang pandai dalam lingkungan tertentu selama lima puluh tahun, ia hanyalah orang bodoh tak berguna jika suatu waktu ia harus keluar dari lingkungan tersebut.

Atau, barangkali, Anda pernah mengalami kejadian ini, mendengar setidaknya, di mana seseorang memiliki kekasih yang telah bertahun-tahun hidup bersama tanpa rencana akan berpisah suatu saat, dan menjadi gila ketika rencana itu justru benar-benar datang?

Itulah yang dirasakan Brooks, terutama dengan umurnya yang telah senja kala. Pada akhirnya, ia membunuh dirinya sendiri di satu penginapan beberapa hari setelah ia dibebaskan; menjerat lehernya dengan sebuah tali. Benar: ia bukan siapa-siapa di luar Shawshank.

Perhatikan apa yang dikatakan Morgan Freeman, sebagai Red, kawan yang begitu dekat dengan Andy, mengenai Brooks yang bunuh diri, “Dia menjadi bagian dari penjara. Dia sudah ada di sini selama lima puluh tahun. Lima puluh tahun! Di sini, dia adalah orang penting, orang yang berpendidikan. Di luar sana, ia bukan apa-apa.

“Kuberitahu padamu, bahwa penjara ini lucu. Pertama kali, kau membencinya. Lalu kau terbiasa dengan tempat ini. Dan seiring waktu berlalu, kau jadi bergantung pada tempat ini. Itu yang namanya ‘menjadi bagian dari penjara.’ Mereka mengirimmu kemari untuk seumur hidup. Itulah yang mereka ambil. Mengambil bagian yang berharga.”

Setidaknya, begitulah yang terjadi pada Brooks. Seorang yang tiba-tiba mendapati dirinya menjadi berbeda. Harta satu-satunya hilang, di mana seorang narapidana justru menangisi statusnya sebagai bukan lagi seorang napi. Sebuah paradoks kejiwaan.

Hal lain terjadi ketika Andy diberi kerjaan khusus oleh kepala lapas sebab ketelitiannya dalam memecahkan persoalan pajak dan sebagainya tak ada duanya. Pada suatu pagi yang cerah, di sebuah kantor di mana ia sering mengerjakan berkas-berkas pajak, ia tetiba memutar satu lagu (entah apa judulnya) dan menyetel hingga suaranya terdengar di seluruh lapas.

Mendengar lagu yang tengah diputar lewat piringan hitam itu, para napi mendadak menghentikan aktivitasnya. Semua tertegun sedemikian khidmat. Mirip orang-orang yang melihat mukjizat Isa di depan mata. 

Belakangan kita tahu, para napi seperti menemukan sesuatu yang baru; yang telah lama hilang. Itulah harapan. Selama bertahun-tahun akhirnya mereka tahu bahwa “ada kehidupan lain” selain di lapas tersebut, sekalipun Andy mesti berakhir dengan sebuah sanksi sebab melanggar disiplin.

Demikianlah kisah ini berlalu. Pada akhirnya, Andy berhasil memberantas segala jenis kebobrokan yang terjadi di dalam lapas tersebut. Beberapa orang, termasuk kepala sipir dan kepala lapas, mesti ditangkap dan mendapat hukuman. Belakangan kita diberi tahu bahwa sang kepala lapas sendiri terlibat kasus pencucian uang.

Harapan, bagaimanapun, menjadi penting, terutama bagi orang-orang yang kalah. Setidaknya, begitulah yang terjadi di lapas Shawshank. Mereka kehilangan harta berharga: harapan. Sebab, hanya itulah satu-satunya yang dapat membuat mengerti bahwa “ada kehidupan lain”, yang menjanjikan tentu saja.

Dan, melihat bagaimana Andy memecahkan kasus di lapas Shawshank, saya teringat dengan pernyataan Abraham Maslow, “Jika satu-satunya alat yang Anda miliki hanyalah palu, Anda cenderung akan melihat setiap permasalahan sebagai paku.”

Sampai di sini, saya ingin menjawab pertanyaan di muka. Apa arti harapan bagi seorang narapidana? Dapatlah saya katakan bahwa satu-satunya harapan bagi narapidana adalah tidak pernah menjadi orang yang divonis bersalah. Apalagi mesti dikirim ke lapas Shawshank.