Kalimat sharpen the saw ini saya temukan dari buku Stephen R. Covey, The 7 Habits of Highly Effective People. Ia menuliskan habit nomor 7, yaitu sharpen the saw atau mengasah gergaji. Covey menegaskan bahwa mengasah gergaji ini adalah semangat untuk terus belajar dan mengasah kemampuan tanpa batas waktu dan situasi.

Kondisi pandemi seperti saat ini bagai Kawah Candradimuka untuk fokus belajar banyak hal. Pada saat kita diminta untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, kita bisa mempertajam kemampuan kita untuk belajar. Untungnya, banyak lembaga dan pakar mau berbagi keahliannya melalui zoom, google meet atau teams secara gratis. Hanya modal kuota, kita bisa menjelajah dunia.

Selama hampir dua bulan, lebih dari 60 kelas saya ikuti. Dengan harapan, usai pandemi, gergaji yang saya asah akan lebih tajam lagi. Dari pagi hingga ke pagi lagi. Ada yang dini hari karena perbedaan waktu antarbenua.

Puluhan materi bermutu saya dapat secara gratis. Informasi kegiatan bisa didapat di internet atau media sosial. Sehari 2-4 kelas jadwal saya. Ini sekolah di masa pandemi yang paling menyenangkan. Pembicara bermutu yang bisa kita nikmati di bali daster atau piyama, tak perlu repot dandan dan menghabiskan waktu untuk menuju ke lokasi.

Ah ya, beberapa bulan ini, kebutuhan bensin saya hanya 250 ribu saja. Tak perlu berjam-jam macet di jalan raya. Kalau ada di sisi pandemi yang saya suka, barangkali ini: cukup di rumah dan bisa keliling dunia dengan kuota. 

Apa yang saya lakukan tak lepas dari teori Charles Darwin. Ia bilang; bukan spesies yang terkuat atau yang paling pintar yang bisa bertahan. Tetapi yang paling bisa beradaptasi dengan perubahan. Semangat pembelajar ini yang harus kita jaga supaya tidak mati saat menghadapi pandemi.

Tak hanya sisi kognitif yang kita asah, tetapi juga intuitif. Saat sebuah pesan WhatsApp masuk ke handphone dari seorang teman, saya tak menanyakan bagaimana kabarnya, tetapi apakah ia masih punya beras dan lauk untuk makan beberapa hari ke depan.

Saya tahu, teman yang menghubungi tersebut tak bisa lagi memperoleh pemasukan saat semua orang di rumah lebih rajin memasak untuk keluarganya. Biasanya ia menerima pesanan makanan sehat dari karyawan-karyawan kantor. Tetapi ketika banyak kantor membuat kebijakan bekerja dari rumah, tak ada lagi pelanggan yang memesan makanan sehat darinya.

Pesan di telepon genggam itu mengingatkan saya, di luar sana ada lebih banyak orang yang sudah tidak memiliki materi, bahkan untuk sekadar makan. Saya tak sendiri berbagi. Dari hari ke hari makin banyak komunitas yang saling berbagi. Ini dampak positif dari Covid-19, membuat kita kompak bergotong-royong. Iya, dengan gotong-royong, tentu lebih banyak yang akan bisa ditolong.

Saat kita semua harus tinggal di rumah, bukan tanpa masalah. Harus tinggal serumah selama 24 jam dengan anak tanpa jeda selama 2 bulan lebih mengharuskan saya untuk menjaga komunikasi dengan baik. Mindfulness muncul perlahan supaya tak ada konflik di antara kami berdua. 

Buat orang lain barangkali ini biasa atau sederhana, tetapi buat saya ini luar biasa. Berusaha berkomunikasi layaknya dengan teman dan bukan sebagai ibu dan anak.

Buat saya ini penting. Karena tak ada sekolah bagaimana menjadi ibu yang baik. Kadang relasi dengan anak atau anggota keluarga yang lain berjalan mulus, namun sering juga tidak. Kadang marah dengan diri sendiri karena gagal berkomunikasi. Kadang suara tinggi untuk menutupi grogi. Begitulah menjadi ibu yang belajar tanpa silabus.

Pandemi memang merengut banyak jiwa. Tetapi ia juga melahirkan banyak potensi dalam diri manusia yang mau beradaptasi. Haruki Murakami bilang, “The pain in life is inevitable. Suffering is our choice”. Mau menderita atau tidak, itu pilihan kita.

Jadi mau malas maksimal, atau cuci muka dan mulai mengasah gergajimu? Bergegaslah, siapa tahu besok kita sudah masuk ke gaya hidup normal baru. Kita bisa bilang pada malas yang memeluk erat tubuh kita: kamu telah habis menelan masaku. Dan juga bodohku.