Saya lupa kapan tepatnya membeli buku Saring Sebelum Sharing karya Nadirsyah Hosen ini, pastinya sudah cukup lama. Saya membelinya pada saat buku ini sedang hangat-hangatnya diperbincangkan di media sosial. Dari medsos itulah pula saya berkenalan dengan buku ini dan tertarik untuk membacanya. 

Tak mengherankan mengapa buku ini bisa sempat viral di media sosial, selain karena komposisinya yang memang berbobot, juga karena penulis buku ini termasuk seorang penggiat sosial media yang cukup aktif. Lewat akun-akun media sosialnya, beliau sering memposting tulisan-tulisannya dan terkadang juga ikut nimbrung dalam diskusi dunia maya mengenai isu-isu terkini yang sedang hangat diperbincangkan.

Judulnya sih agak ambigu, 'Saring sebelum Sharing'? Mengapa sebelum melakukan share harus melalui proses penyaringan terlebih dahulu? Mungkin itulah cara Gus Nadir -panggilan penulis buku ini- memilih judul yang menarik agar pembaca juga tertarik untuk membeli dan membacanya.

Buku ini ditulis dalam delapan bab. Dan di setiap bab terdiri dari 8-9 artikel singkat yang bertemakan keislaman. Dimulai dari definisi hadis sampai menerangkan tokoh utama di dalam hadis itu sendiri, siapa lagi kalau bukan Baginda Rasulullah Saw. 

Jika dikupas lebih dalam, topik utama buku ini adalah tentang hadis. Namun yang menarik, dalam pemaparannya mengenai hadis, beliau banyak menyertakan kasus-kasus yang berkaitan dengan hadis tersebut. Sebut saja hadis tentang khilafah ala minhajin nubuwwah. Pembahasan tersebut menyinggung fenomena sebagian oknum yang ingin mendirikan negara dengan sistem khilafah di Indonesia. 

Dengan menggunakan kritik sanad dan matan sebagai 'pisau analisis', Gus Nadir membedah kembali hadis tersebut, apakah hadis tersebut benar sebagaimana yang dipahami oleh beberapa oknum tersebut atau tidak? Nyatanya hadis tersebut masih bermasalah. Untuk penjelasan lebih lengkapnya, silakan baca sendiri. Hehe. 

Kepiawaian Gus Nadir dalam memilih kata yang tepat dan mengolahnya menjadi kalimat yang renyah dan ringan menjadikan pembacanya tidak sadar bahwa Gus Nadir sedang membawakan pembahasan yang cukup berat.

Cara penulisan beliau yang juga trendi sangat cocok dengan anak milenial zaman sekarang yang menuntut sesuatu yang sederhana dan simpel namun tetap berbobot. Dalam memaparkan penjelasannya, beliau selalu mengacu pada sumber yang otoritatif bahkan sesekali sumber tersebut langsung dicantumkan dalam tulisannya.

Sesuai dengan tulisan ‘Pilih Hadis Sahih, Teladani Kisah Nabi Muhammad Saw., dan Lawan Berita Hoaks’ yang terdapat di cover buku ini, beliau seakan ingin menyampaikan bahwa tidak semua informasi yang ada media sosial-seperti penggalan hadis yang tak lengkap- adalah informasi yang benar.

Maka dari itu, seseorang perlu menyaring sebelum sharing informasi yang ada di media sosial, terutama yang berkaitan dengan agama. Ibarat sebuah peribahasa yang mengatakan, "berpikirlah sebelum bertindak". Mungkin itulah pesan implisit yang ingin disampaikan Gus Nadir melalui tulisannya di buku ini.

Dalam menjelaskan perkara yang terlihat pelik dan rumit tersebut, Gus Nadir membawakannya dengan cara yang tanpa menggurui dan bahasa yang kekinian sehingga pembaca merasa nyaman dan mudah memahaminya.

Selain itu, buku ini juga dianggap sebagai bentuk respon balik Gus Nadir yang notabene adalah warga NU sekaligus Rais Syuriah PCI NU Australia dan New Zealend terhadap merebaknya fenomena kelompok Wahabi yang banyak menyalahkan amalan-amalan warga NU bahkan sampai pada tahap mengafirkan orang yang mengamalkannya.

Salah satu amalan yang sering dipermasalahkan oleh kelompok Wahabi adalah tawasul. Gus Nadir mengangkat masalah ini dalam tulisannya dan memaparkan penjelasannya dengan panjang lebar dengan keterangan sumber yang digunakan lengkap dengan pengarang sampai halamannya. 

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, di sinilah letak kehebatan Gus Nadir dalam membawakan pembahasan yang berat menjadi ringan. Bayangkan saja, dalil yang beliau hidangkan bukan hanya berupa Alquran dan Hadis saja, melainkan kitab-kitab penunjang yang biasa digunakan untuk memahami Alquran dan hadis, di antaranya adalah Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qurthubi dan yang lainnya. 

Untuk membaca kitab tersebut, setidaknya seseorang perlu menguasai ilmu gramatikal bahasa yang Arab yang mumpuni. Yang sudah bisa membaca pun belum tentu paham apa kandungannya. Di tangan Gus Nadir, hal tersebut diolah menjadi sesuatu yang dapat difahami bagi semua kalangan, sekalipun orang yang tidak menguasai gramatikal bahasa Arab.

Kembali lagi ke pembahasan kelompok Wahabi, saya mengutip kalimat menarik yang dilontarkan Gus Nadir sebagai bentuk sindiran kepada kelompok Wahabi yang menganggap ulama dan kitab fikih yang biasa mereka gunakan tidak berdasarkan dalil Alquran dan Hadis. 

“Orang seperti ini mesti diajak ngopi bareng lalu dibisikkan kata-kata ini, 'jangan buru-buru meminum kopimu saat masih panas, nikmati saja aromanya, baru kau teguk pelan-pelan! Begitu juga belajar ilmu agama, tidak bisa terburu-buru, apalagi dengan hati yang panas, nikmati saja proses belajar ini!'”    

Di tengah kehausan dan tingginya semangat masyarakat dalam mempelajari agama, buku ini hadir sebagai oase yang menghilangkan dahaga akan ilmu pengetahuan dan memberikan rasa sejuk indahnya Islam.