Pada abad ke-9 Masehi, konon, seorang musafir yang tengah melintasi suatu kawasan di Persia-yang kini disebut Shiraz-, mendapati cahaya misterius yang tampak dari kejauhan memancarkan sinar yang sangat terang. Melihat hal yang tak lazim itu, timbullah rasa penasaran untuk mengetahui apa sebetulnya yang cahaya misterius itu. Akhirnya, ia pun menghampiri sumber cahaya itu. Dan, di luar dugaan, ternyata cahaya tersebut berasal dari balik tanah.

Segera, dengan rasa ingin tahu yang makin membuncah, musafir itu menggali tanah tersebut. Lalu, ditemukanlah sebuah jasad berbaju zirah yang memancarkan cahaya yang terang sekali. Yang mana, pada jari tangan jasad itu terdapat sebuah cincin bertuliskan “al-'Izzatu Lillāh”, yang dialihbahasakan ke bahasa Indonesia artinya “kemuliaan itu milik Allah”. Dari situlah kemudian teridentifikasi bahwa jasad tersebut adalah Ahmad bin Musa, anak seorang tokoh yang amat dihormati disana, Musa Al-Kadhim, ulama kenamaan keturunan Nabi Muhammad SAW.

Kisah funeral ini terus diceritakan secara turun temurun oleh warga Shiraz sebagai legenda Masjid Shah Cheragh. Masjid yang namanya bila diartikan ke bahasa Indonesia berarti 'Masjid Raja Cahaya'. Memang, sekilas mendengar legenda ini terkesan menyeramkan. Apalagi, Masjid Shah Cheragh sendiri memang berisikan makam-makam keturunan Musa Al-Kadhim. 

Namun, bagi pelancong yang pernah mengunjunginya, justru malah terpenganga ketika melihat keindahan masjid ini. Bahkan, saking indahnya, Masjid Shah Cheragh dijuluki ‘Emerald Mosque and the Shrine to the King of the Light’. 

Dari luar, masjid ini memang tampak layaknya bangunan masjid Persia pada umumnya, dengan kubah bulat Shirazi yang khas berwarna biru penuh kaligrafi dari khat khas Persia. Namun, siapa sangka, ketika memasukinya justru kita akan disuguhi rumah kaca artistik berwarna-warni dengan ornamen bergaya rumit serta topangan empat pilar kayu ramping yang membuat masjid ini ibarat galeri seni.

Renovasi

Berusia lebih dari 11 abad, dan tetap memesona hingga sekarang, Masjid Shah Cheragh pernah mengalami renovasi beberapa kali. Mulai dari kerusakan yang disebabkan oleh bencana alam sampai vandalisme. Namun demikian, sisi orisinalitas bangunan masjid ini tetap terjaga. Oleh karenanya, bukan hanya indah, tetapi Masjid Shah Cheragh juga menjadi saksi bisu dari sejarah panjang Kota Shiraz.

Awalnya, pada tahun 1100-an, sebelum Masjid Shah Cheragh berdiri, tempat tersebut adalah situs ziarah yang populer. Sampailah pada abad ke-14, di bawah kekuasaan Ratu Tashi Khatun, ia membangun makam-makam itu menjadi masjid dengan dekorasi bola kaca yang khas supaya menjadi seperti yang dia inginkan, yaitu tampak lebih bercahaya seribu kali lipat. Maka itulah, interior masjid yang dikelilingi kaca menjadikannya bercahaya terang, sehingga disebutlah Shah Cheragh, Raja Cahaya. 

Masuk ke Dalam

Masih di pelataran luar masjid, sebelum masuk ke dalam, kita sudah disambut oleh anak-anak yang berlarian serta burung-burung merpati yang beterbangan di sekitar kolam. Di kolam itu, yang di tengah-tengahnya ada air mancur, bak oase di tengah teriknya siang di Kota Shiraz.

Kemudian masuk ke dalam, mata mana yang tidak takjub ketika melihat pantulan cahaya-cahaya cantik dari lampu-lampu di dalam Masjid Shah Cheragh. Lampu-lampu yang digantung itu pun menjadikan pemandangan di dalam masjid menjadi tampak lebih estetik. Apalagi kalau lampu-lampu sudah dinyalakan, ornamen kaca pada dinding akan tampak hidup, dengan dominasi warna hijau di sekitar makam.

Pada lantai dan pintu masjid tak kalah berkilau dengan hiasan perak dan emas serta lapis lazuli. Sementara itu, di sudut barat, terdapat sebuah museum yang menyimpan beberapa Al-Qur’an yang usianya sudah tua. Tentu, semakin menambah suasana religiusitas masjid ini, sekaligus menjadikannya sebagai destinasi wisata spiritual yang mesti disinggahi ketika tengah berada di Kota Shiraz.

Sama seperti budaya muslim di Indonesia, tradisi Islam Persia juga menyukai ziarah. Dimana makam wali atau orang sholeh berada di kawasan masjid, dan ramai dikunjungi setiap harinya. Begitupun dengan Masjid Shah Cheragh, setiap harinya selalu ramai oleh lalu lalang para peziarah. Pun, lantunan doa dan sholawat menggema setiap waktunya mengitari makam.

Destinasi Wisata

Selain menjadi tempat ibadah, Masjid Shah Cheragh juga menjadi destinasi wisata, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Bahkan, tidak hanya wisatawan muslim saja yang berwisata kesini. Namun, pada waktu-waktu tertentu, sebagaimana yang tertulis di papan pengumuman masjid, wisatawan non-muslim tidak diizinkan masuk ke dalam masjid.

Selain itu, khusus bagi pengunjung perempuan, diwajibkan memakai chador khas Iran, kain panjang yang dipakai untuk menutupi kepala hingga kaki tanpa menutup wajah. Dan, chador ini tersedia gratis untuk dipinjam di pintu masuk perempuan.

Walhasil, sebagai salah satu situs peninggalan penting di Iran, Masjid Shah Cheragh amatlah sayang untuk dilewatkan ketika sedang berada di Iran, khususnya di Kota Shiraz, kota budaya Iran. Jadi, apakah Masjid Shah Cheragh sudah masuk ke dalam list wisata religi selanjutnya?