Peneliti
4 bulan lalu · 2414 view · 9 min baca · Politik 28702_21503.jpg
Ilustrasi: Suluh Pergerakan

Sexy Killers, Apanya yang Seksi?

Nobar di Resensi

Otakmu seksi, itu terbukti dari caramu memikirkan aku. Matamu seksi, itu terbukti dari caramu menatap aku. Aku seperti ada di dalam penjara cintamu (Makhluk Tuhan Paling Seksi, Mulan Jameela).

Sebelum Pemilu, 17 April 19

Pagi itu, aku melihat flyer di grup WhatsApp (WA), Resensi. Resensi adalah suatu ruang diskusi para resentor buku dan juga merupakan ruang diskusi. Mereka mau mengadakan nonton bersama, bareng (nobar), dan bedah film Sexy Killers. Aku tertarik melihat kata-katanya: Sexy Killers, SDA dikuasai Oligarki, Indonesia for Sale? 

Diskusi & Bedah Film Sexy Killers dibuka dengan pembacaan puisi dan Stand Up Comedy, April 14, 19. 8 pm - 10 pm.

Sorenya, ketika mengajar di kampus STIT Al Chaeriyah, Mamuju, Sulawesi Barat, aku memberikan kesempatan kepada teman-teman dari Resensi untuk Tur Buku. Mereka akan mempresentasikan tulisan mereka secara bergiliran. Kali ini giliran Albar, ia akan membahas tentang Redefenisi Makna Politik. Membahas politik memang sangat seksi.

Menurutku, cara membawakan materinya tentang politik yang terlalu netral, dan melihat ke semua sisi terang dan gelap dari pasangan calon presiden (capres) yang berlaga. Baik itu kelebihan dan kekurangan pasangan calon (paslon) Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Terus terang, aku pendukung Presiden Jokowi, capres 01. Ketika Albar berbicara tentang Jokowi yang tidak sesuai, aku sedikit mengkritisi apa yang dikatakan, tentang apa yang telah dilakukan Jokowi dengan isu yang dia angkat. Aku tidak tahu, apakah Albar pendukung 01 atau 02 atau bahkan termasuk golongan putih (golput).

Di akhir kelas, aku, Albar, dan beberapa teman mahasiswa sempat mengobrol. Lalu ia mengajak hadir untuk menonton bersama Sexy Killers di Resensi sebentar malam. Katanya, setelah menonton film ini, orang akan dibuat berpikir tentang pemerintah dan bisa jadi juga untuk menjadi golput alias tidak memilih orang-orang yang lagi menyalonkan diri untuk jadi pemimpin. Hah?!

Film tidak jadi diputar.

Malamnya, aku menunggu, apakah film ini akan jadi diputar atau dibedah. Aku mengirim WA ke Albar, "Jadikah menonton film?"

Katanya menunggu kabar dari operator. Malam itu, tidak ada film. Padahal, aku sudah mengirim flyer film tersebut ke beberapa messenger teman-teman mahasiswa dan grup Karaeng Pattingalongan (KP), grup keluargaku khusus yang suka belajar.

Besoknya, adik Ami yang tergabung di grup WA (KP) mengirim link film Sexy Killers. Namun, belum sempat saya buka dan menontonnya karena hari Sabtu sampai Minggu siang itu waktunya aku untuk mengajar. Kampusku seperti kelas S2, kuliahnya ekstensi. Mahasiswa hadir di hari Jumat dan Sabtu sore. Di hari Minggu, pagi sampai sore.

Antara Wali, Ratu Adil atau Satrio Piningit, Imam Mahdi, dan Dajjal!

Sebelum membahas film Sexy Killers, kami, aku dan Ami, mendiskusikan tentang konsep Wali, Ratu Adil atau Satrio Piningit, dan Imam Mahdi. 


Wali artinya sesorang yang memiliki kedekatan dengan Tuhan sehingga bisa menjadi jembatan antara Tuhan dan manusia (biasa). Menurut aku, Ratu adil orang yang memberi dan mempunyai keadilan bagi semua. Sama dengan Satrio Piningit (seseorang yang masih tersembunyi atau pingit) merupakan konsep orang Jawa seseorang yang maksudnya ditunggu yang akan menciptakan perubahan walau konsep ini belum matang dan (mungkin) hadir bukan untuk semua sebagai bentuk kepemimpinan di Indonesia. 

Dan Imam Mahdi yang selama ini kita tahu akan turun untuk berperang melawan kejahatan (Dajjal). Dajjal yang dimaksud sebagai setan bermata satu simbol kejahatan.

Ami mengatakan konsep Wali, Ratu Adil atau Satrio Piningit, dan Imam Mahdi jangan diartikan sempit. Menurutnya, saat ini, ia punya wali. Wali adalah seseorang yang dia puja, yang memberinya pengetahuan, mentor bahasa Inggris-nya, guru bahasanya, guru kehidupannya di Pare, Kediri, Jawa Timur. 

Dan Imam Mahdi adalah siapa saja yang membuat perubahan di suatu masyarakat, menyebarkan kebaikan di hati setiap orang, melawan kejahatan diri sendiri dan orang lain, juga memberikan kedamaian di muka bumi.

Bagi Ami, ia menganggap Imam Mahdi adalah Ricky Elson, seorang teknokrat Indonesia yang membuat kincir angin, menciptakan tenaga listrik air yang tidak diakui pemerintah sekarang. Jadi, Ami mengomentari film Sexy Killers dengan perlunya kehadiran Imam Mahdi apalagi film itu membahas tentang masalah energi yang perlu segera terbarukan.

Sedangkan Dajjal dalam arti kekinian menurut Jams, mahasiswa yang lagi KKN, adalah   seseorang yang bagian dari diri kita sendiri. Jangan-jangan kita sendirilah Dajjal itu yang membuat kejahatan dan kerusakan di dunia ini.

Aku dan Jams sama-sama tidak setuju ketika ada kolam air di pinggir pantai Manakarra, Mamuju, dihancurkan karena ketika terlihat dari atas udara seperti Dajjal bermata satu. Mereka yang membongkar kolam air itu terlalu kaku melihat konsep Dajjal hadir di sana. Dan kebenaran, Jams punya buku tentang “Imam Semesta" yang masih ia baca. Aku ingin meminjamnya setelah ia selesai.

Imam Mahdi?

Sore itu, pesan dari WA grup Resensi masuk kalau film Sexy Killers akan diputar malam ini. Aku kembali menghubungi beberapa mahasiswa yang suka menonton dan mau mengikuti  diskusi. Beberapa menyatakan minatnya untuk ikut, tetapi beberapa memberikan alasan tidak sempat.

Aku mau datang, Resensi mempunyai magnet tersendiri sebagai tempat belajar. Aku paling suka mendengar orang lain berbicara, berdiskusi mengemukakan pendapat dan argumen. 

Buku yang dibedah juga menarik, buku baru dan mengena sekali untuk kekinian, misalnya buku Prof. Rhenaldy Kasali, Disrupsi, The Great Shifting. Atau Genealogi Intelegensia-nya Kang Yudi Latif, sampai Kekerasan dan Identitas karya Amartya Sen.

Pemikiran teman-teman yang baru, kreatif, dan inovatif di segala bidang, baik politik, pendidikan, lingkungan, dan sebagainya ada di sini. Wow, keren, mereka adalah sesuatu yang seksi mau menciptakan perubahan di masyarakat, agent of change

Ah, apakah di sana ada “Imam Mahdi?” Hanya Tuhan dan hamba-NYA yang tahu, jawaban yang sangat manusiawi, ahai.

Akhirnya, cuma aku dan berdua dengan mahasiswa berangkat untuk menonton film bareng di kafe Resensi. Kami terlambat, kami tidak melihat awalnya. Mana kami harus duduk paling depan, padahal kalau di bioskop aku paling suka duduk di barisan belakang, paling atas. 

Aku bertanya pada seseorang, "Inikah filmnya? Kok kayak gini?"

"Iya," katanya, "karena ini film dokumenter. 

Moderator bedah film, Fadly, sampai berkata padaku, "Filmnya baru diputar kok. Beginilah, karena tidak membuka YouTube film yang sudah dikirim oleh Ami."

Film itu Berbahaya!

Sexy Killers atau pembunuh-pembunuh seksi. Siapa yang menjadi pembunuh-pembunuh itu? Siapa yang kemudian dianggap seksi? Dan apanya yang seksi?

Aku membuka awal film di gawai ketika pindah duduk ke belakang. Ada pasangan suami-istri yang mungkin lagi menginap sepertinya di hotel, lalu semua yang dipakai berhubungan dengan energi listrik dan jumlah satuan wattnya, mulai dari laptop, charger hp, pengering rambut, dan lain-lain.

Lalu ada adegan yang mengarah ke hubungan suami-istri yang kemudian dihubungkan dengan masalah batu bara (nyambungnya di mana?). Kalau untuk penarik sih, jelas! Atau ini yang dianggap seksi?

Aku kembali melihat film di layar, di kafe Resensi. Mulai dari banyaknya lokasi tambang batu bara yang membuat banyak orang yang mati (anak), lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang dekat dengan pemukiman penduduk yang membuat banyak orang sakit, kemudian lokasi wilayah daerah batu bara, mulai dari pulau Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Bali.


Lalu bagaimana pemerintah setempat menanggapi dingin isu kematian dan kerusakan di pemukiman penduduk. Kemudian, Presiden Jokowi yang meresmikan PLTU, sampai pada orang-orang pemilik saham dan perusahaan batu bara, orang-orang di belakang paslon, baik 01 maupun 02.

Di tengah-tengah film berjalan, aku mengirim WA ke Ami. "Ami, kenapa ini diputar menjelang hari H Pemilu? Tidakkah ini bertendensi politik?"

Dan dijawab oleh Ami, "Supaya kita golput. Syukur, selesai dokumenternya sebelum pemilu dan belum dikriminalisasi, momennya pas saat minggu tenang, dan supaya kita berpikir, la allaakum tatafakkarun.”

What? Kenapa paham begini yang keluar? Aku terhenyak di kursi. Aku tiba-tiba menghubungkan dengan pilihan politik Ami yang awalnya mungkin 02 lalu menjadi golput. Namun, kata-kata moderator yang menutup film yang telah habis menyadarkanku atas kata-kata Ami.

Di akhir menonton film, teman-teman di Resensi mulai memberikan pendapatnya. Mulai dari respons isu masalah lingkungan hingga pemberian solusi energi terbarukan. Bagaimana mengubah mindset tentang menjalani hidup dengan lebih minimalis. Isu kebudayaan, di mana ada suku tertentu menggunakan kearifan lokal dalam menggunakan energi cahaya atau lampu dalam bentuk lain. 

Masalah politik yang menjadi sangat sentral karena ada yang kemudian berpikir untuk menjadi golongan putih (golput) seperti Ami karena semua pejabat di dalam industri batu bara berafiliasi dengan para paslon, baik 01 maupun 02.

Di sini, teman-teman memberikan argumen dengan referensi buku, sesuai tagarnya, #Jawabdenganbuku, selain ada tagar yang lain, #EnrichingEducation. Referensi buku yang dipakai, misalnya buku Seni Hidup Minimalis oleh Francine Jay, atau Kuasa Media di Indonesia oleh Ross Tapsell.

Aku sendiri belum bisa melihat lebih jelas bagaimana dan apa maksud film ini. Pertama, film ini terlalu banyak ide, terlalu banyak gagasan. Antara batu bara, pemilik perusahaan, dampak lingkungan, orang sakit, sampai menciptakan energi baru. 

Kedua, film ini terlalu politis di mana film ini diputar di masa kampanye tenang. Aku melihat film ini menggebu-gebu diputar di masa tenang menjelang hari H, orang-orang malah memutar film ini, nonton bareng lagi. 

Aku tahu, film ini diputar mulai dari ruang perpustakaan di Mandar, teman di Unhas Makassar, UNM Makassar, sampai anak UIN Yogyakarta yang mengirimi link YouTube-nya. Semua rata-rata yang dibidik adalah mahasiswa yang mungkin akan diubah pola pikirnya.

Atau bisa jadi juga, karena teman-temanku adalah mahasiswa, sehingga tema-tema film itu yang masuk ke mereka dan ke aku juga. Kalau ada film bahaya, Sexy Killers yang begitu seksi. Aku tidak mau mencari tahu lagi tentang Dandhy Laksono atau pejabat-pejabat berwenang di balik Sexy Killers; aku takut pikiranku akan terbagi dan ikut arus mereka karena aku sudah punya pusaran sendiri yang lebih seksi.

Aku cukup membaca status Hartono, dari  resensi.co.id, yang cukup berimbang dengan film dan hasil nonton bareng. Resensi film Sexy Killers: (1) Film ini sangat politis dalam arti membukakan mata kita mengenai relasi kuasa dan penguasa tambang; (2) Adalah simplikasi dan sesat pikir jika kita mengambil kesimpulan prematur dengan menyatakan kedua capres sama saja. 

(3) Sebelum menonton film Dandhy Laksono (Watchdoc), nonton film Dandhy yang lain yang memang dibuat berkaitan; (4) Baca pula buku Dandhy Laksono yang berjudul Indonesian for Sale; (5) Framing film yang dengan mudahnya menggeser cara pandang kita adalah bukti lemahnya fondasi literasi dan dangkalnya referensi kita; (6) Betapa pun, kita harus menghargai kritik sosial dari film ini. 

Akhirul kalam, film kritis bukan berarti menghilangkan sikap kritis terhadap film ini, bukan?

Imam Mahdi atau A sexy man?

Saranku, sekarang fokuslah, pilihlah yang menciptakan perubahan. Terserah pilihan Anda karena suara Anda menentukan Indonesia; partisipasi politik sangat penting sebagai warga negara yang baik dan mungkin benar setelah memilih nanti. 

Pilihlah pemimpin masa depan, Imam Mahdi yang bijaksana yang akan memimpin Indonesia menjadi negara kuat dan besar.

Kalau aku masih memilih dia, my president. Aku tidak punya alasan mengapa tidak memilih Jokowi. Mungkin seperti kalian juga yang tidak punya alasan mengapa tidak memilih Prabowo.

Setelah ini, aku hanya ingin mencari A sexy man for my rest of my life. Cowok seksi itu bukan melulu seperti kata Mulan Jameela yang terlalu melihat fisik; matanya seksi dari caranya memandang, otaknya seksi dari caranya memikirkan. Atau seperti slogan "Pilih Yang Jujur”. Tetapi, cowok seksi itu cerdas, cowok cerdas itu seksi.

Ah, jangan-jangan tulisan ini juga gak ada hubungannya, gak nyambung, untuk konteks pemilihan umum (pemilu) besok? Aku hanya ngalor-ngidul, antara utara-selatan, barat-timur. 


Mari memasuki masa tegang, eh tenang, bukan dengan tidur seperti status temanku di WA: gambar orang tidur bersusun-susun dan ditulisi masa tenang. Jangan mau tidur Anda diganggu oleh si Sexy Killers. Mending Anda diganggu oleh a sexy man; eaaa...

Ayo ikut merayakan Pesta Demokrasi besok yang (katanya) dari, untuk, dan oleh rakyat. Seperti bulan puasa saja, besok kita lebaran. Jangan sampai berkoar-koar tentang pemilihan persiden, tetapi akhirnya jadi golput. Kan, capek? Selamat memilih.

Terakhir, aku mengutip status adikku, Aar: "Setelah menonton film Sexy Killers, saya tidak golput. Saya memilih yang paling sedikit mudaratnya dari banyak aspek.”

Mamuju yang seksi, 160419.

Artikel Terkait