Seks; Jenis kelamin dan gender; pembedaan peran. Dua istilah yang sering kali dipermasalahkan oleh sebagian kecil dari kita baik di ranah pribadi, rumah tangga, maupun di ranah publik. Saya menduga karena belum semua orang mengetahui perbedaan kedua istilah tersebut. Atau sebaliknya pernah mengetahuinya akan tetapi belum bersedia menerimanya.

Berdasarkan hasil informasi yang saya dapatkan dari membaca buku, diskusi dengan teman/kolega dan beberapa edukasi kesetaraan yang pernah penulis ikuti bahwa seks merupakan jenis kelamin biologis atau alat reproduksi yang sifatnya universal (setiap orang memilikinya) dan di bawa manusia sejak lahir. Seks sifatnya tidak bisa berubah secara alamiah. Seks ingin membedakan perempuan dan laki-laki berdasarkan organ reproduksi yang merupakan ciptaan Tuhan dan  tidak dapat dipertukarkan. Misalnya, perempuan memiliki indung telur dan laki-laki memiliki sperma. Kedua hal tersebut dapat dikatakan sebagai "penanda" bahwa seseorang disebut perempuan atau laki-laki. Terus terang, saya lebih tertarik menggunakan contoh indung telur dan sperma karena hampir semua orang dapat memahaminya. Atau bahkan pernah pernah mendengar pengetahuan tersebut di dunia pendidikan akademik maupun non akademik. 

Sedangkan gender merupakan pembedaan sifat, peran dan posisi perempuan dan laki-laki yang dibentuk oleh orang/kelompok masyarakat secara turun temurun. Biasanya, gender dipengaruhi oleh sistem dan institusi pendidikan, budaya setempat, penafsiran ajaran agama, persoalan ekonomi, kepercayaan dan kekuasaan/politik. Gender dapat di ubah, karena sifatnya tidak universal dan biasanya berbeda di setiap daerah, bangsa bahkan negara. Prinsipnya, dalam konteks jender; peran perempuan dan laki-laki bisa dipertukarkan tanpa harus dilihat bentuk jenis kelaminnya.

Sebagai contoh di ranah rumah tangga; menyetrika baju, mencuci perabot, memasak, momong anak, dan menyapu juga bisa dilakukan oleh laki-laki. Menurut saya, laki-laki juga memiliki tanggung jawab untuk melakukan peran-peran tersebut tanpa harus khawatir akan kehilangan "kelaki-lakiannya". 

Hanya saja, masih ada sebagian kecil dari laki-lali yang merasa malu, merasa tidak pantas dan bahkan enggan melakukannya karena khawatir dengan "gunjingan" dari lingkungan terdekatnya. 

Sementara di tingkat publik atau sosial, perempuan juga bisa menjadi kepala sekolah/madrasah, kepala desa, rektor perguruan tinggi, anggota DPR, terlibat dalam dunia politik, penceramah, pembaca doa, direktur, ketua organisasi dan peran publik lainnya yang biasanya dianggap identik dengan laki-laki.

Menurut beberapa referensi yang telah saya baca, munculnya pembedaan peran perempuan dan laki-laki mengakibatkan ketidakadilan gender. Ketidakadilan ini merupakan konsekuensi dari pembedaan perlakukan berdasarkan alasan-alasan jenis kelamin. Dampaknya, perempuan dan laki-laki rentan mengalami ketidakadilan. Namun, menurut berbagai data yang telah di publikasikan oleh Komnas Perempuan mengungkapkan bahwa perempuan lebih banyak mengalami ketidakadilan. Ketidakadilan tersebut rentan melahirkan pembatasan-pembatasan terhadap peran perempuan yang berefek pada kerentanan perempuan mengalami kekerasan; psikis, fisik, verbal, ekomoni, seksual dan sosial. Masalah semakin rumit karena kekerasan yang dialami perempuan seolah dianggap lumrah. 

Penempatan laki-laki sebagai pemilik kekuasaan dalam berbagai bidang; pemimpin, politik, modal, moral, sosial dan kepemilikan tanah (properti) menjadikan ketidakadilan gender semakin menggejala bahkan semakin menghawatirkan.

Misalnya di ranah keluarga. Sosok ayah sering kali dianggap paling berwenang sebagai pembuat keputusan, dan dianggap wajar jika menguasai aset. Sedangkan ibu, dianggap sebagai figur yang identik dengan urusan dapur, makanan dan anak serta sebagai pengikut suami.

Pola pikir, sikap dan pola tindak tersebut telah berlangsung lama, bahkan sangat lama (saya belum dapat menelusurinya sejak kapan tepatnya). Dampaknya, pembedaan gender seolah-olah dianggap sebagai suatu "kebenaran" baku yang tidak mudah di revisi.  

Kemunculan konsep kesetaraan dan keadilan gender meskipun ideal, sering kali juga dianggap sebagai suatu perlawanan terhadap kemapanan/kenyamanan. Bagi yang kontra dengan konsep tersebut satu-satunya jalan yang dapat dilakukan yaitu dengan menolak atau bahkan melawan dengan berbagai macam argumentasi.

Bagi yang sepakat akan terus menerus menawarkan konsep tersebut agar menjadi living values (nilai kehidupan) atau bahkan menjadi  perilaku dalam kehidupan. Kedua hal tersebut seperti teori dua kutub medan magnet yang menarik dan menolak.

Berangkat dari beberapa pengalaman pribadi saya yang pernah menjadi pemantik diskusi di forum-forum pertemuan komunitas perempuan, laki- laki dan kelompok muda di beberapa desa di kabupaten Jawa Tengah, saya mendapatkan banyak umpan balik dari komunitas. Bagi yang menolak konsep kesetaraan umumnya beranggapan bahwa konsep tersebut berisiko mengancam keberadaan dan peran laki-laki di ranah publik. Mereka menyandarkan pendapat ini terhadap ajaran agama yang menyebut jika laki-laki adalah pemimpin perempuan dalam semua bidang. Bagi mereka hal ini tidak bisa di nego.

Bagi yang sepakat dan mendukung konsep kesetaraan, umumnya mereka juga menyandarkan argumentasinya pada ajaran agama yang menyebut bahwa semua manusia setara di hadapan Tuhan, hanya ketaqwaan yang akan di nilai oleh Tuhan. Mereka menganggap bahwa perempuan dan laki-laki memang beda namun tidak perlu di beda-bedakan.

Oleh karenanya, menurut pendapat saya penting untuk dapat memahami perbedaan jenis kelamin dan gender agar dapat mengurangi "salah jalan" ketika memperlakukan perempuan dan laki-laki.

Ketika kita mencoba menggunakan konsep gender untuk menandai perempuan dan laki-laki akan berefek terhadap perlakuan tidak adil. Contohnya begini; menganggap perempuan harus patuh akibatnya pembatasan perempuan berpendapat; menganggap laki-laki harus kuat, artinya menilai "lemah" terhadap laki-laki yang tidak kuat.

Gender menurut saya juga ingin mereduksi asumsi yang menyatakan bahwa orang yang secara biologis memiliki vagina akan selalu dianggap sama persis dengan satu sama lain daripada dengan orang yang secara biologis berpenis. Artinya, tidak ada pakem bakunya bahwa orang yang memiliki vagina atau penis pasti begini, pasti begitu.

Saat ini misalnya ada istilah-istilah soal jender; bigender (mengekspresikan 2 identitas jender yang berbeda), jender fluid, jender cair (dapat berubah-ubah diantara perilaku jender yang feminim atau maskulin-tergantung situasi) dan agender atau biasa disebut tidak terdiferensiasi (seseorang tidak mengidentifikasi dirinya dengan jender tertentu atau tanpa jender). Namun, jika gender seseorang konsisten dengan jenis kelamin biologis disebut cisgender.

Walhasil, soal jenis kelamin dan gender boleh jadi konstelasinya cair atau bahkan "buram" karena dalam setiap identitas jenis kelamin yang dimiliki dan di bawa setiap orang juga terdapat sisi feminim dan sisi maskulin. Wallahu a'lam.