Judul-judul video panas dalam kategori teen ataupun student-teacher pada portal dewasa seperti:

She Wants Perfect Grades so He pulls Her Panties Down, Let's The Principal Fuck Her Tiny Little Butthole, Blonde Student In Pigtails Fucks Teacher, Student Fucks Teacher to Graduate, ataupun Student Opens Legs For Teachers For Better Grades, benar-benar saling menginspirasi skandal "seks untuk nilai" ataupun kelulusan di institusi pendidikan dunia. 

Pelecehan seksual bukanlah fenomena baru di perguruan tinggi ataupun institusi pendidikan lainnya.

Walaupun pada dasarnya istilah “pelecehan seksual” atau sexual harassment ini tidak digunakan secara seragam di belahan dunia. Setiap negara mendefinisikannya berbeda. Sehingga level prevalensi pelecehan seksual dalam pendidikan bisa bervariasi antarbudaya dan bangsa-bangsa. 

Dengan perberbedaan definisi tersebut, pelecehan seksual bisa bervariasi bentuknya dari satu negara ke negara lain. Namun, sangatlah unik untuk istilah sex for grade. Hampir terdefinisikan sama di belahan dunia mana pun. 

Sex for grade merupakan sebuah epidemi di seluruh sistem pendidikan tinggi global dan berdampak pada individu, kelompok, dan institusi secara mendalam.

Umumnya, pelecehan seksual merupakan tindakan seksual yang tidak diinginkan dan dapat merendahkan martabat dan menciptakan lingkungan yang kurang kondusif bagi dunia pendidikan. termasuk di dalamnya sex for grade. Ciri-ciri utama pelecehan adalah ketidaksukaan dan penghinaan. 

Lalu bagaimana jika itu merupakan hal dibutuhkan sebagai solusi cepat (sex for grade) untuk memecah kebuntuan dan kebutuhan nilai akademik siswa atau mahasiswa yang bermasalah dengan nilai atau kelulusannya? 

Kondisi psikologis pengajar, organisasi hierarkis, normalisasi kekerasan berbasis gender, maskulinitas akademis yang beracun, budaya diam dan kurangnya kepemimpinan aktif adalah perangsang pelecehan seksual di institusi pendidikan. 

Faktor pemicu lainnya adalah hubungan kekuasaan hierarkis dan gender di dalam universitas telah menaturalisasi kontrak seksual di mana beberapa akademisi laki-laki menganggapnya sebagai hak untuk menuntut seks dengan siswa perempuan sebagai imbalan atas nilai.

Hal pemberian nilai siswa ataupun mahasiswa, seorang dosen atau guru pada dasarnya memiliki kebebasan. Termasuk pula menentukan kelulusan peserta didik. 

Namun, perlu digarisbawahi bahwa penilaian dosen atau guru itu harus dilakukan secara profesional karena seorang dosen atau guru wajib bertindak objektif dan tidak diskriminatif.

Pelecehan seksual memiliki konsekuensi yang parah bagi siswa ataupun mahasiswa dalam hal efek fisik, psikologis dan profesional jangka pendek dan panjang. 

Pelecehan seksual merupakan bagian dari kontinum berbagai bentuk kekerasan berbasis gender aktual dan potensial yang berada di sistem pendidikan tinggi, mulai dari penindasan, jargon seksis, pelecehan seksual, sex for grade dan pemerkosaan.

Pelaporan pelecehan seksual oleh siswa perempuan telah menjadi catatan penting dalam penelitian baru-baru ini di Pendidikan Tinggi dunia seperti yang terjadi di Ghana, Nigeria dan Tanzania serta negara lainnya. 

Seorang dosen di Nigeria, Richard Akindele telah melakukan sex for grade kepada mahasiswinya, Monica Osagie.

Skandal sex for grade yang terkenal adalah di Universitas Lagos. Skandal itu mengakibatkan penskoran seorang dosen, yang juga seorang pendeta.

Kasus lainnya lagi seperti terjadi di Zimbabwe. Skandal sex for grade terhadap siswi dan mahasiswi oleh guru dan dosennya telah menjadi masalah sosial yang serius di sekolah dan institusi pendidikan tinggi di Zimbabwe. 

Berbasis studi Zindi (1994), diadakanlah penelitian tentang kepantasan hubungan antara dosen laki-laki dan mahasiswi. Juga tentang level frekuentif dosen perempuan melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswa laki-lakinya. 

Apakah ada hubungan antara pelecehan seksual dan kinerja siswa dalam studi mereka? Mungkinkah ada hubungan antara pelecehan seksual dan kinerja siswa perempuan dalam ujian?

Dari hasil kuesioner yang diisi oleh 83 mahasiswa, telah terungkap maraknya pelecehan seksual mahasiswa perempuan oleh dosen laki-laki dan perbedaan persepsi tentang pelecehan yang dialami mahasiswa laki-laki dan perempuan.

Kemudian ada juga skandal di University of Liberia. Seorang mahasiswi sosiologi tahun keempat ditanyai oleh seorang mahasiswa apakah ia akan mengambil kelas 'Sex 101', sebuah rujukan atau istilah untuk mendapatkan nilai bagus dengan melakukan sex for grade dengan dosen pengampunya. 

Survei tahun 2011 yang dilakukan oleh ActionAid di Universitas Liberia, juga menemukan bahwa sekitar 85% mahasiswi telah dilecehkan secara seksual atau terlibat dalam seks transaksional (sex for grade). Beberapa mahasiswi mengatakan bahwa mereka dipaksa untuk mengulang kelas jika menolak berhubungan seks dengan dosen laki-laki mereka. 

Sedang di Asia, ada semisal Profesor hukum Universitas Nasional Singapura (NUS), Tey Tsun Hang yang berskandal sex for grade dengan mahasiswinya, Darinne Ko. Kemudian juga ada guru bahasa Inggris perempuan di Nakhon Pathom, Thailand, telah melakukan sex for grade terhadap siswa laki-lakinya dengan imbalan memberinya nilai kelulusan.

Sex for grade juga terjadi dan membuat heboh dunia pendidikan Sumatra Selatan, di mana seorang siswi kelas XII SMA di Palembang terlibat sex for grade dengan gurunya. 

Semua praktik seks transaksional pada sex for grade ini melibatkan ketidakadilan spasial dan kognitif karena mereka berkontribusi pada tekanan sosial bagi perempuan secara refleks pula meminimalkan visibilitas dan kinerja akademis mereka.

Keadaan di atas juga akan menekan konstruksi seksualitas perempuan sebagai komoditas dan objek barter serta menghasilkan identitas peserta didik perempuan yang negatif. 

Bagaimana jika tindakan seksual itu merupakan hal yang diinginkan atau “suka sama untung” dalam kasus seks untuk nilai/kelulusan? Apakah akan meningkatkan posisi perempuan di pasar akademis yang bergender?

Tentunya, siswi, mahasiswi yang lebih muda, seksi, terbuka dan cantik, atau dengan kondisi nilai akademik yang tidak aman akan lebih rentan terhadap pelecehan seksual dibandingkan kelompok lain. Akankah Anda memanfaatkan keadaan ini?