Single Parent
2 bulan lalu · 1075 view · 5 min baca menit baca · Politik 49792_98188.jpg
Trans7

Setya Novanto Ternyata Sedang Menuntut Hak

Kerja keras KPK mencari bukti Setya Novanto dalam kasus korupsi E-KTP selama bertahun-tahun akhirnya sukses. Dibuktikan dengan penetapan sebagai tersangka dan akhirnya menjadi narapidana korupsi. Gelar baru layak disandang, Sang Koruptor.

Sejak menyandang gelar itu, hidupnya hilang dari halaman surat kabar dan laman-laman portal berita. Hingga beberapa hari lalu ia kedapatan tengah menyantap nasi padang di sebuah warung. Kementerian Hukum dan HAM kemudian mengakui bahwa Setnov memang sedang dibantarkan penahanannya atas rekomendasi dokter.

Rekomendasi dokter tak main-main. Setnov divonis menderita Chronic Kidney Disease (CKD/gagal ginjal kronis), coronary artery disease (CAD/penyakit jantung koroner), Diabetes Melitus Tipe 2, Vertigo, Radikulopati L4-5 atau gangguan saraf tulang belakang. Wow.

Tulisan ini hanya untuk menghangatkan saja, agar peristiwa yang melibatkan Setnov, Gayus Tambunan, dan masih banyak yang lainnya tak basi. 

Atas jasa seorang kawan, saya dibukakan peluang untuk menggelar wawancara khusus dengan Setnov. Apalagi istri saya meninggal karena sakitnya sama, yakni CKD atau gagal ginjal kronis. Dan saat itu ia dilarang makan nasi Padang.

Agar tak ada yang diedit atau gagal paham, saya akan menuliskan wawancara ini secara langsung.

***

Selamat siang, Pak Setya. Gimana kondisinya, sudah lebih baik, kan?

Selamat siang. Kabar saya seperti sampean lihatlah. Semua terkendali. He he he.

Kok terkena CKD berani makan nasi Padang sih, Pak? Emangnya dokter nggak memberi rambu-rambu apa yang boleh, apa yang nggak boleh?


Jangankan cuma nasi Padang. Lha hutan saja saya berani makan kok, E-KTP juga berani. Secara riil, itu kan lebih berbahaya. Nggak enak di lidah dan susah dicerna, bukan? Saya ini dilahirkan memang untuk menjadi pemenang dan penantang segala bahaya.

Agak dalam sedikit, Pak. Bukankah dokter merekomendasikan sampean untuk menjalani perawatan lanjutan di rumah sakit besar di Jakarta? Kok gak opname?

Sampean itu mbok jangan pura-pura tidak tahu. Mencari kamar untuk rawat inap di Indonesia itu kan susah. Antrean para pasien yang akan opname itu sangat panjang. Jauh lebih panjang daripada durasi utang sampean.

Saat ini saya menunggu ada kamar kosong. Jadi wajar kalau saya nggak opname. Cobalah sesekali berpikir cerdas dan berpikiran terbuka yang positif. Jangan melulu curiga.

Baiklah. Apa yang menjadi dasar Pak Setnov sehingga mau difoto dan direkam videonya ketika menyantap nasi Padang? Padahal sudah dapat gelar Sang Koruptor?

Begini. Saya dan teman-teman yang divonis menjadi koruptor di LP Sukamiskin itu sebenarnya sedang gelisah. Kami merasa didiskrimansi. Benar, kami memang sudah dihukum. Tapi lihatlah, kawan-kawan masih bisa mengendalikan bisnisnya dari penjara. Sepekan sekali, kalau kami mau, masih bisa jalan-jalan.

Sementara saya dengar ada seorang Kiai di Kendal yang divonis tiga tahun penjara karena membela para petani. Ini kan aneh. Kalau memang pak Kiai itu benar bersalah sesuai dakwaan, tentunya perlakuannya sangat dihormati, wong dia kiai kok.

Tapi nggak. Bahkan karena keyakinannya, pak Kiai Noor Aziz rela menolak grasi dan akan menghabiskan waktunya di penjara. Bagi saya, ini heroik. Saya iri. Saya juga berhak mendapatkan pengalaman heroik.

Nah, dengan direkam saat saya makan nasi Padang, nanti akan terlihat perbedaan hukuman narapidana korupsi dan pembela kepentingan rakyat. Dengan seperti ini, saya merasa heroik dan merasa berjasa kepada republik ini.

Tapi itu kan bahaya bagi kesehatan sampean? Istri saya dulu terkena CKD, kalau makan nasi Padang langsung sesak nafas.

Itu kan pengalaman sampean. Yang menyebutkan saya terkena CKD kan dokter, bukan saya. Saya memang sakit, tapi saya masih bisa menahan rasa sakit ini. Moral saya yang nggak bisa menahan sakit hati karena para koruptor seakan dilupakan. Tak lagi menghiasi halaman surat kabar dan laman-laman portal berita.

Saya sakit hati ketika saya mencoba jujur, selalu disalahpahami sebagai berpura-pura. Ketika saya berpura-pura, disalahpahami sebagai pembohong. Padahal di luaran, yang terkait dengan kasus E-KTP seperti saya, masih banyak yang berkeliaran. Tidak dianggap pembohong.

Jadi makan nasi padang bagi saya itu hanyalah sebuah protes kecil.


Protes itu kan bisa membuat sampean mati sia-sia. Mati konyol karena tak ada yang memahami protes sampean.

Memang benar. Tapi pahamilah, nak, syarat untuk mati itu tak harus sakit. Syarat panjang umur juga tak harus sehat. Saya jadi ingat pesan bijak, sebelum mati, lakukan kebaikan sekecil apa pun. Nah, mungkin yang saya lakukan saat ini dianggap konyol dan sia-sia.

Tentang hal ini, saya sudah baca puisinya Goenawan Mohamad, judulnya Pada Sebuah Pantai, Interlude. Pada bagian akhir, bunyinya begini:

Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa / Barangkali saja kita masih mencoba memberi harga pada sesuatu yang sia-sia // Sebab kersik pada karang / lumut pada lokan / mungkin akan tetap juga di sana - apa pun maknanya //

Dari situ kan jelas bahwa kita harus memberi harga pada apa pun. Termasuk pada yang sia-sia, pada yang tak bermakna sekalipun.

Terakhir, Pak Setnov, harapan sampean pada negeri ini? Mengingat baru saja ada Pemilu Presiden dan Legislatif di mana publik saat ini masih panas.

Saya tak pernah mau berharap pada manusia. Apalagi sama pejabat negara. Biar aja apa yang mereka mau. Saya pernah menjadi pejabat negara, saya tahu persis kebiasaan para pejabat negara.

Ada satu dua yang kerjanya sungguh-sungguh, namun mereka akan mendapat tekanan batin yang lebih hebat dibanding tekanan menyandang gelar sang koruptor seperti saya. Ada juga yang kerjanya sungguh-sungguh dan tetap bersikukuh pada nilai-nilai kebenaran. Tapi mereka hanya akan populer di masyarakat.

Kalau hanya populer saja, apa yang bisa diberikan untuk anak cucunya kelak?

Jadi saya tak mau berharap apa-apa. Bahkan penegakan hukum yang sportif pun saya juga tak berharap. Saya akan bermimikri menjadi warga negara yang apatis. Yang tak peduli.

Selama hak-hak kami sebagai narapidana tak diberikan, misalnya dimiskinkan, disuruh kerja paksa, dihina, dianiaya, dan mendapat perlakuan keras dari polisi atau Satpol PP, saya akan tetap apatis.

Selain rasa iri, ini upaya saya agar penyesalan saya diterima Gusti Allah. Agar dosa kami diampuni. Sekarang kami mau bertobat saja dihalangi, petugas-petugas melayani dengan sangat baik. Lha kapan giliran kami bertobat dan merasakan menjadi warga miskin atau pembela rakyat?

Satu pesan, tolong wawancara ini ditulis apa adanya. Saya nggak mau ada pencitraan.


***

Wawancara selesai.

Mendung di langit makin tebal. Hujan sebentar lagi turun. Saya masih ada tugas mengamankan jemuran yang masih diluar.

Artikel Terkait