Guru
2 tahun lalu · 851 view · 5 menit baca · Budaya soekarno_0.jpg
Foto: www.google.com/search

Setop Katakan Indonesia Belum Merdeka

Beberapa tahun yang lalu saya pernah berdiskusi ringan dengan beberapa orang teman tentang konsep Indonesia merdeka. Diskusi berawal ketika salah seorang dari teman saya mengeluarkan pernyataaan bahwa sampai saat ini Indonesia belum merdeka.

Pada waktu itu saya sangat mengerti, bahwa pernyataan teman saya ini dilontarkan karena memiliki cukup alasan, di mana ketika itu pada saat menunggu pesanan santap siang kami melihat seorang perempuan dengan menggendong anak kecil kira-kira berusia dua tahun, di tangan kanannya memegang sebuah ember yang di dalamnya terlihat beberapa recehan uang rupiah yang didapatkan dari “usaha” berkeliling di setiap rumah makan yang ada di pinggiran kota.

Izinkan saya sedikit memberi penghargaan untuk perempuan tersebut dengan menyebutnya dengan istilah “usaha”, karena meskipun meminta-minta setidaknya sedikit lebih baik jika dibandingkan dengan mencuri.

Bermodalkan mimik wajah yang tampak begitu lelah, wajah anak yang terlihat sangat kusam dengan rambut keriting kering menguning terurai bebas, dilengkapi dengan pakaian yang (maaf) sangat lusuh, maka terlihat lengkap sudah penderitaan perempuan dan anaknya tersebut.

Perempuan itu terus menghampiri setiap meja makan yang ada pengunjungnya, termasuk meja di mana kami memilih untuk santap siang pada saat itu, sembari terus menyodorkan ember di tangan yang selalu menganga dan siap menelan rupiah demi rupiah dari setiap orang.

Setelah menyelesaikan tugasnya dengan baik, dan entah berapa rupiah yang didapatkan pada saat itu perbincangan diantara kami terus berlanjut dan sampai pada akhirnya diskusi ringan itu harus terputus karena pesanan santap siang telah pun tiba.

Ketika menulis tulisan ini, sebenarnya saya ingin mengatakan hal yang sederhana yang belum sempat tersampaikan pada saat itu. Pernyataan yang dilontarkan teman saya tersebut ternyata adalah pernyataan dari sekian banyak orang yang ada di negeri ini.

Terlebih ketika menjelang memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus setiap tahunnya sangat banyak tulisan, pernyataan orang-orang “hebat” di media cetak maupun elektronik, sampailah kicauan netizen di media sosial yang turut mengartikan makna kemerdekaan sesukjebtif mungkin sesuai selera mereka masing-masing. Ironisnya, tidak sedikit yang “tega” membuat pernyataan bahwa sampai saat ini “Indonesia belum merdeka”.

Mereka terus memperkuat argumen dengan memaparkan potret kehidupan bangsa Indonesia yang sedang terjadi. Jika dalam permainan Clash of Clans (COC) saja masih ada jeda untuk menyerang base lawan, namun di sini serangan demi serangan terus dilakukan secara bertubi-tubi tanpa henti.

Teriakan kemiskinan ada di mana-mana, mereka buktikan dengan data dan dokumentasi tentang kondisi sosial ekonomi masyarakat di seantero nusantara, terlebih masyarakat suku pedalaman yang masih jauh dari kehidupan layak. Kemudian mereka umbar data tentang minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan, sehingga berdampak pada meningkatnya jumlah angka pengangguran.

Tidak cukup sampai di sini, mereka sampaikan data jumlah anak-anak yang mengalami putus sekolah, sehingga pengelolaandan kualitas pendidikan disampaikan masih jauh dari kata sempurna. Selanjutnya diperkuat dengan data tingginya perbuatan amoral para generasi muda, sehingga tingkah laku generasi muda divonis telah bergeser dari nilai-nilai luhur Pancasila.

Lebih jauh lagi mereka paparkan keprihatinan atas beberapa kasus penegakan hukum, sehingga keadilan dalam putusan hanya sebatas khayalan menjelang tidur. Mereka terus sampaikan kebobrokan ini, kecolongan itu, keteledoran di sana, kelemahan di sini sehingga hampir tidak ada sedikit pun ruang untuk menceritakan kebaikan dan prestasi negeri ini.

Mereka pun dengan entengnya mengatakan Indonesia memang sudah merdeka secara de jure dan de facto, namun Indonesia belum merdeka seutuhnya dalam hal mengelola kekayaan alam, Indonesia masih dijajah oleh asing dari segi pemikiran, sektor ekonomi dan lain sebagainya. Pernyataan ini terus membombastis di pendengaran kita, dan jujur sangat membuat kita muak, seolah-olah tidak ada harapan untuk hidup di negeri yang kaya raya ini.

Andai sangsaka Merah Putih berhenti membisu, mungkin ia akan berteriak, “Turunkan saja aku dari puncak ketinggian ini, karena percuma saja aku berkibar dengan gagah, akan tetapi merah dan putihku tidak pernah lagi engkau anggap ada.”

Akibatnya, tidak sedikit orang-orang “cerdas” berkuadratkan “pintar” di negeri ini turut tersugesti dan bahkan hanya ikut-ikutan untuk berteriak mengatakan bahwa “Indonesia belum merdeka,” sampai pada akhirnya hanya kematian yang dapat menghentikan kebisingan suara teriakan sinis itu. Imbasnya pandangan masyarakat terhadap negeri ini selalu saja pesimisme bahkan tidak salah jika dunia harus memandang Indonesia sebelah mata.

Sampai di sini perlu digarisbawahi, ini semua sebenarnya bukan tentang Indonesia sudah atau belum merdeka, akan tetapi ini murni kelemahan bangsa kita dalam mengisi hakikat kemerdekaan itu sendiri.

Mengapa kita harus menyibukkan diri untuk menyampaikan pesan kepada dunia akan kelemahan kita di sana-sini, seharusnya kita harus mampu mengemas hal demikian sebaik mungkin, cukup kita saja yang tahu jika perlu masyarakat dunia harus datang ke Indonesia terlebih dahulu apabila ingin berbicara tentang kelemahan negeri kita.

Sekalipun pernyataan-pernyataan itu semua benar adanya, dan dibuat dengan maksud untuk membangkitkan kembali nafsu membangun dari ketertinggalan seluruh aspek kehidupan bangsa ini, tentunya ini adalah suatu hal yang kurang tepat. Mengapa kita masih berpikir sempit dengan menganggap bangsa ini hanya akan termotivasi untuk membangun ketika harga diri bangsa dijatuhkan oleh “oknum” bangsa kita sendiri.

Tahukah kita bahwa Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara maju dengan julukan Super Power, bukan berarti luput dari permasalahan sosial ekonomi. Lihat saja sebaran penduduk miskin saat ini di negara bagian Mississippi masih terdapat 22,7%, Lousiana terdapat 21,6%, District of Columbia terdapat 19,9% dan seterusnya.

Namun mereka secara sadar mampu membungkus kekurangan ini dengan rapi, sehingga menjadikan keberadaan mereka selalu menjadi kiblat bagi negara-negara berkembang.

Selanjutnya mari kita lihat Jerman yang dikenal sebagai salah satu negara makmur, akan tetapi permasalahan pengangguran dan kemiskinan juga pernah menjadi permasalahan yang hebat mendera di kota-kota besar seperti Dortmund, Duisburg, Hannovover dan Berlin pada tahun 2012 silam. Lagi-lagi secara sadar mereka kompak untuk tidak meneriakkan aib mereka sendiri di mata dunia.

Seharusnya kita perlu belajar dari mereka. Kita harus marah ketika mutiara kemerdekaan yang telah kita genggam harus dilempar secara sadar ke dalam lumpur kehinaan. Tidak khawatirkah kita jika kilauan mutiara ini secara perlahan akan tenggelam dan terus tertutupi oleh gelapnya lumpur kehinaan.

Para pejuang bangsa ini telah rela mengorbankan harta, keluarga bahkan sampai tetesan darah terkahir hanya untuk mengibarkan sangsaka merah putih di seluruh pelosok negeri sebagai pesan kepada dunia bahwa Indonesia telah merdeka. Ini adalah perjuangan yang mulia, sehingga sangatlah berdosa jika harus kita balas dengan air tuba.

Masih banyak cara yang dapat kita lakukan untuk memaknai semangat kemerdekaan, tanpa harus mencederai hakikat kemerdekaan itu sendiri.Ini adalah waktu yang tepat bagi kita semua untuk memberi kado terindah bagi republik tercinta ini, dengan berani berhenti membuat dan menyampaikan pernyataan bahwa “Indonesia belum merdeka.”

Sebaliknya kita harus berambisi untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat dunia bahwa sesungguhnya ”Indonesia telah merdeka.”

Sekali lagi, yang menjadi benang merah dari tulisan ini adalah terlepas masih banyak terdapat kekurangan yang terjadi di mana-mana, kita harus ingat bahwa tugas kita bukan untuk meragukan dan memperolok nikmat kemerdekaan, namun tugas kita adalah mengisi semangat kemerdekaan yang telah diwariskan ini dengan terus berkarya, bahu membahu membangun optimisme bahwa kita harus melakukan hal yang terbaik untuk negeri ini.

Sampaikan pesan pada dunia bahwa kita sedang menuju puncak kejayaan.

Tidak bermaskud memberikan pembelaan terhadap periodesasi setiap rezim yang berkuasa di republik ini, akan tetapi ini benar-benar murni sebagai pemikiran yang beralasan demi jati diri bangsa kita sendiri. Siapa lagi yang harus mengakui dan memuji Indonesia, kalau bukan kita sendiri.

Kritik dan saran yang sifatnya membangun tetap harus kita suarakan, ide dan gagasan cemerlang harus terus kita sampaikan dan doa terbaik untuk negeri harus terus kita lantunkan, agar Ibu Pertiwi tetap tersenyum sampai akhir zaman.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-71!