Setiap pencapaian bergantung pada apa yang telah diupayakan. Sedangkan upaya bergantung pada apa yang kita pikirkan. Maka setiap pencapaian sangat dipengaruhi oleh pola pikir.

Begitu juga dengan dunia pendidikan kita. Negara yang baik adalah negara yang menjamin bahwa setiap anak bangsa punya kesempatan mengenyam mutu pendidikan yang sama.

Oleh karena itu, kesempatan tersebut bisa diperoleh dengan melakukan pemerataan kualitas sekolah. Dalam hal ini, pemerintah memberlakukan sistem zonasi, yang kemudian sering kali menuai pro dan kontra. Geger soal zonasi merupakan fenomena yang menarik.

Masih banyak orang yang kaget, baik calon siswa maupun orang tua. Dengan zonasi, mereka tak lagi dapat memilih dengan bebas sekolah yang diinginkan. Banyak yang menyayangkan kondisi tersebut. Tak sedikit anak pintar yang tak bisa melanjutkan belajar di sekolah favorit karena faktor jarak, sekolah tersebut berada di luar zona.

Keadaan demikian sebetulnya tak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Toh, pemerintah memang menginginkan agar label "favorit" pada sekolah dihapus. Hal tersebut agar tercapai pemerataan kualitas sekolah-sekolah di negara tercinta ini. Sebab, fakta di lapangan, masih banyak sekolah-sekolah yang tertinggal, baik kualitas guru dan murid maupun fasilitas sekolah.

Terwujudnya pemerataan kualitas sekolah itu sangat dipengaruhi pola pikir masyarakat, di samping kebijakan pemerintah. Kalau diperhatikan lebih jeli, kebijakan zonasi pun dibuat dan diterapkan untuk menciptakan kondisi yang "memaksa" agar kita tak lagi memandang sekolah-sekolah tertentu saja yang favorit, sedangkan yang lain tidak.

Maka label "favorit" tersebut dengan sengaja hendak dihilangkan dari pemikiran kita agar kita berpikir bahwa semua sekolah itu sama. Ya, agar semua sekolah itu dipandang sama. Itu poinnya.

Dengan demikian, ada dua kemungkinan pola pikir yang bisa dijalankan. Pertama, berpikir bahwa tidak ada sekolah favorit. Kedua, berpikir bahwa setiap sekolah itu favorit. Disadari atau tidak, Pemerintah sedang menanamkan pola pikir pertama.

Mudah dibayangkan bahwa pemerataan kualitas sekolah bisa dicapai tidak hanya dengan menghapus label favorit pada sekolah-sekolah tertentu, tetapi juga dapat dicapai dengan mengubah pola pikir kita, yakni memandang setiap sekolah itu favorit. Saya lebih setuju dan mendukung cara pandang kedua ini daripada yang pertama.

Dengan cara pandang kedua tersebut, siswa akan bersemangat di mana pun ia bersekolah. Mereka akan belajar sebaik mungkin. Tidak ada lagi rasa minder bahwa sekolahnya lebih buruk daripada sekolah lain. Siswa yang katanya pintar tak lagi mencari sekolah-sekolah tertentu karena tiap sekolah itu "favorit" bagi mereka.

Belajar menjadi menyenangkan. Belajar yang biasanya dijadikan sebagai kewajiban yang terkesan memaksa dan mengharuskan, pada gilirannya akan bertransformasi menjadi hobi. Bahkan pelajaran momok seperti matematika akan menjadi mainan yang selalu dirindukan. Tentu kondisi seperti itu akan signifikan terhadap capaian belajar para siswa.

Perlu ditekankan, capaian belajar bukan sekadar soal nilai. Masyarakat kita sering gaduh karena nilai siswa yang pintar menjadi tak berarti karena tidak terpakai akibat sistem zonasi.

Apakah sekolah hanya sekadar dapat nilai? Apakah ilmu yang telah dipelajari menjadi lenyap dari diri siswa hanya karena nilainya tidak terpakai? Jadi, sebetulnya apa hakikat belajar?

Dan pada dasarnya, setiap sekolah memang spesial. Ada sekolah yang unggul dalam bidang akademik, ada sekolah yang terdepan dalam bidang olahraga, ada sekolah yang mapan dalam bidang kesenian, dan sebagainya. Akan selalu ada “keindahan” pada tiap sekolah bagi yang bisa melihat keindahan itu.

Coba kita perhatikan sekolah di desa terpencil dan terbelakang, misalnya. Sekolah tersebut memang tidak memadai fasilitasnya. Namun, udaranya cenderung lebih segar daripada udara kota dan polusi suara yang minim membuat siswa lebih nyaman dalam belajar di sekolah desa.

Guru bisa mengajak siswanya belajar outdoor di sekitar sawah atau di kebun dekat sekolah desa tersebut, membahas Mekanika yang terjadi di sawah atau kebun sambil melihat pemandangan yang indah tanpa dihalangi gedung-gedung pencakar langit.

Setiap sekolah itu spesial, setiap sekolah itu favorit. Paradigma ini tak hanya efektif pada sebaran siswa yang unggul, tapi juga pada sebaran guru-guru yang unggul, karena guru-guru juga tak lagi mengincar mengajar di sekolah tertentu. Guru bisa merasakan kesenangan mengajar di sekolah mana pun.

Tentu hal itu baik dan mempercepat pemerataan kualitas sekolah. Ingat pemerataan kualitas, bukan pemerataan kuantitas. Isu yang muncul kadang soal kesenjangan jumlah pendaftar antarsekolah. Jumlah pendaftar tak harus sama, yang penting masih sesuai daya tampung. Sekali lagi, pemerataan kualitas sekolah yang menjadi misi utama.

Dengan begitu, kita berupaya memberikan yang terbaik bagi pendidikan generasi penerus bangsa. Generasi yang berakhlak mulia dan kuat keilmuannya. Generasi tersebut kelak diharapkan bisa menguasai sains dan teknologi serta membawa Indonesia ke masa keemasannya. Masa di mana kita tidak lagi menjadi penonton tapi bisa mengelola kekayaan alam kita dengan baik.

Mari kita mulai semua itu dengan meneriakkan jargon: “Every school is favorite, every school is special!”