Kita sendiri tidak mengerti darimana asal-usul tradisi merayakan ulang tahun kelahiran. Ketika tinggal di kampung orang tua tidak pernah mengajarkan acara perayaan ulang tahun, kecuali Hari Kemerdekaan Indonesia, atau Hari Kelahiran Pancasila. Tradisi ulang tahun di keluarga penulis hanya ada pada saat anak berumur 2 sampai 5 tahun. 

Sejak saat itu anak-anak mulai mempertanyakan kapan diadakan pesta ulang tahun dengan dihadiri oleh teman-teman sebaya sendiri, sambil bernyanyi, tiup lilin, potong kue, dan menerima hadiah, serta dapat kita katakan perayaan ulang tahun adalah sesuatu yang boleh-boleh saja, asal dirayakan untuk tujuan yang baik dan berdampak baik. 

Misalnya dengan ajang silahturahmi, syukuran, serta renungan atas perjalanan hidup. Istilah ulang tahun pun erat kaitannya dengan “bertambahnya usia”, sedangkan bagi mereka yang berulang tahun di usia 60 tahun mungkin saja yang terasa adalah umur yang semakin berkurang, bukannya bertambah, serta erat kaitannya dengan kehidupan dan kematian. 

Bagi yang pesimis dan takut dengan menghadapi pedihnya kematian oleh filosof Schopenhauer mengatakan, bahwa “Mengantuk nyaman, tidur lebih nyaman, dan yang lebih nyaman dari segala yang nyaman adalah ketiadaan hidup”, karena pada esensinya manusia hidup untuk mati dan mati untuk hidup. 

Begitu pula yang dikatakan Nietzsche, “Kehidupan ini memang sesuatu yang berat, manusia memang diciptakan untuk menderita, karena ia mengakhiri penderitaan anda. Jangan takut kepada kematiaan, karena kedatangannya adalah keniscayaan, dan jangan juga takut pula takut dengan kepunahan, karena anda masih hidup lagi serupa dengan kehidupan anda yang lalu.”

Beberapa waktu yang lalu ada kawan yang sering berkata, “Kenapa aku sering memikirkan kematian?” Secara jujur kita hanya bisa menenangkannya, bukan karena takut salah menjwab melainkan kematian sendiri adalah sebuah resiko hidup, jangan terlalu dipikirkan, dan jangan pula terbuai oleh pandangan yang menyatakan masih ada kehidupan setelah mati. 

Seperti apa yang pernah dikatakan Buya Syakur dalam sebuah dialog yang membahas mengenai kematian. Menurut beliau kematian adalah Reinstalisasi dari jiwa manusia. Konteksnya terangkum dalam Surat Al Baqarah Ayat 156 yang berbunyi“Sesungguhnya kami adalah milikmu dan sesungguhnya kepadamu kami kembali”. 

Rasulullah mengajarkan berdo’a setelah bangun tidur, “Segala puji bagimu ya allah yang telah menghidupkan kembali diriku setelah kematianku, dan hanya kepadamu nantinya kami semua akan berpulang”. Betapa indah dan dalamnya pesan, bahwa setiap pagi adalah hari kelahiran serta setiap malam adalah hari kematian.

Mengutip dari perkataan Komarudin Hidayat didalam buku “psikologi kematian”, beliau berkata, jika kita bisa secara intens menghayati dan memberikan makna, maka setiap hari adalah hari kelahiran dan juga kematian, maka setiap hari kita melakukan tasyakuran dan berdoa pertobatan pada Allah SWT. 

Makna Umur Panjang

Pada mulanya malam ini gelap sebelum cahaya diciptakan, sampai akhirnya dunia lebih berwarna, bayangkan saat matahari tidak ada, manusia akan sulit berkomunikasi dengan isyarat. Bagaimana tidak? Sampai akhirnya manusia menggunakan semiotika yang bersuara untuk berkomunikasi, agar manusia lebih dapat memahaminya. 

Dari situlah muncul berbagai macam bahasa dan perbendaharaan kata dan istilah dalam bahasa. Hal ini tidak aneh karena kata-kata itu bagaikan makhluk yang bersenyawa, mereka mengembara dan merantau ke negeri orang lalu menetap. Hanya saja banyak dari kata-kata yang bersemayam dan beradaptasi dengan budaya lokal. 

Perbendaharaan istilah-istilah itulah yang memicu munculnya kultur Arab-Islam yang kata dan istilahnya berhamburan, diantaranya adalah kata ‘umur yang diadopsi dari Arab-Islam. Istilah serupa pun banyak dijumpai dikehidupan kita, namun setelah mapan akhirnya menetap dalam rumah bahasa Indonesia, seperti: waktu, zaman, abad dan lain sebagainya.

Sekarang mari kita renungkan sedikit tentang makna umur. Mengapa menghitung rentan usia harus dengan umur? Karena makna umur berkaitan dengan makna positif yang berkaitan dengan masa produktivitas seseorang. Orang yang berumur panjang artinya meraih kemakmuran hidup idealnya dengan kemakmuran dalam harta, ilmu dan amalnya.

Jadi, sekalipun orang yang dikatakan memiliki umur panjang, namun tidak produktif sama halnya dengan umur pendek bahkan mengalami kerugian terhadap umurnya, karena fasilitas usia yang dimilikinya tidak digunakan dengan efektif dan produktif. Hal ini sejalan dengan konsep islam mengenai “amal jariyah”.

Dalam konsep “amal jariyah”, membahas mengenai siapa saja yang dinyatakan meninggal dunia namun dirinya masih berumur, karena amalnya masih memproduksi amal yang besinambungan, jika yang bersangkutan memiliki keturunan shaleh dan bermanfaat bagi manusia, serta mewariskan harta yang memiliki nilai guna untuk masyarakat dan agama.

Jika hal tersebut dirasa berat bagi diri kita, mari kita menyederhanakan dengan sebuah tulisan yang bermakna bagi kehidupan kita bersama. Walaupun diri kita mati, namun pada realitasnya tulisan tersebut dapat dibaca dengan baik oleh anak-cucu keturunan kita nanti, sehingga amal kita akan terus memproduksi amal yang berkesinambungan.

Mengutip perkataan dari penulis “Jejak Pemikiran Lafran”, bahwa gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan tulisan. Hal tersebut disederhanakan, agar dapat diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kita hidup dan tidak bermanfaat seperti di dalam buku “Pelacur Datang Terlambat”, bahwa aku mati, namun masih terikat kehidupan. 

Selamat ulang kelahiran dan kematian kita setiap hari dan semoga umur kita dapat bermanfaat bagi kehidupan.