Ketika mendengar kata “ciu” dalam  pikiran kita langsung menangkapnya sebagai sebuah minuman yang memabukkan. 

Sebagian besar masyarakat di Indonesia khsususnya di Pulau Jawa mengenal ciu sebagai minuman haram yang membuat mabuk orang yang meminumnya. Ciu dipandang secara negatif tanpa pernah melihat dan menelisik khasiat positifnya.

Ciu kerapkali disalahgunakan sebagai pemuas diri dan penghilang stress yang membuat orang mabuk kepayang sampai muntah-muntah. Namun bagaimana jadinya kalau ciu tersebut menjadi minuman tradisional dan warisan dari pendahulu hingga menjadi suatu ciri khas daerah tertentu.

Hal tersebut terdengar lucu dan aneh, namun itulah yang terjadi dalam kehidupan masyarakat di desa Wlahar, Banyumas, Jawa Tengah. 

Pembuatan dan penjualan ciu di desa Wlahar menjadi hal yang lumrah dan biasa, sebab hal tersebut telah diwariskan sejak zaman Belanda dan kembali marak pada tahun 1942 oleh para pendahulu mereka.

Seiring berjalannya waktu dan seiring berkembangnya ilmu pengetahuan manusia, muncul banyak hal mengenai konsep dan teori untuk menanggapi setiap persoalan dalam kehidupan masyarakat. 

Epistemologi sebagai bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan manusia menyajikan sebuah paham yang menarik yakni ajaran mengenai relativisme.

Melalui tulisan ini penulis mencoba melihat kembali fenomena perdagangan ciu di Banyumas dalam bingkai pemahaman relativisme.

Bagaimanakah paham  relativisme menanggapi fenomena perdagangan ciu di Banyumas dengan pandangan negatif masyarakat umum terhadap minuman ciu tersebut?

Sepenggal Kisah dari Setetes Ciu di Banyumas

Desa Wlahar kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah sudah terkenal sebagai penghasil minuman ciu berkualitas di seluruh Indonesia. Ciu merupakan minuman beralkohol yang dihasilkan melalui proses fermentasi buah.

Istilah minuman ciu ini telah populer sejak dahulu yakni zaman kerajaan-kerajaan Jawa kuno lebih tepatnya sejak abad ke-8 M dan terdapat dalam naskah dan prasasti kerajaan-kerajaan kuno di Pulau Jawa.

Ciu sangat populer di sebagian daerah Jawa diantaranya ialah Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan kota-kota di sekitarnya. Pembuatan dan perdagangan ciu di desa Wlahar, Banyumas, Jawa Tengah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda kemudian sempat menghilang sejenak dan kembali marak pada tahun 1942.

Para warga tetap memegang teguh warisan leluhur berupa pembuatan ciu ini. Sekalipun bagi masyarakat luas, ciu tergolong minuman keras dan memabukkan. Sekalipun demikian, para warga di desa Wlahar tetap memegang teguh prinsip yakni mengonsumsinya hanya sebagai obat/jamu tradisional yang memberikan kesegaran dan kebugaran bagi tubuh dan tidak untuk mabuk-mabukan.

Para warga menganggap ciu sebagai minuman tradisional dan minuman khas daerah Wlahar. Apabila mereka tidak minum ciu di malam hari maka yang terjadi ialah mereka akan kedinginan atau demam karena suhu udara di desa Wlahar yang sangat dingin.

Namun apabila mereka minum ciu terlalu banyak, mereka akan mabuk. Para warga selalu meminumnya tidak lebih dan tidak kurang dari 1 gelas penuh atau sekitar 50 ml.

Relativisme

Relativisme merupakan suatu teori yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah relatif tergantung pada akal budi dan kondisi-kondisi untuk dapat mengetahui kebenarannya. 

Relativisme merupakan sebuah pandangan bahwa kebenaran-kebenaran etis tergantung dari pribadi atau kelompok yang memandang bahwa kebenaran tersebut itu benar bagi mereka.

Relativisme berasal dari akar kata dalam Bahasa Latin dari relativus, yang berakar dari relates, bentuk participium perfectum passivum dari referre (membawa kembali atau mengacu pada). Hal tersebut mengartikan bahwasanya relativisme mengandaikan acuan (membawa kembali atau mengasalkan) pada yang banyak, bukan pada dan dari satu hal saja. Kata relativisme pertama kali muncul pada tahun 1865.

Bagi para penganut relativisme, relativisme mengajarkan mengenai cara hidup toleransi dalam masyarakat. Ajaran relativisme mendorong setiap orang untuk terbuka akan perbedaan, sementara kaum non-relativis memandang hanya sebatas fanatik, tidak sabar terhadap kebiasaan hidup orang lain yang berbeda di luar kebiasaan dan tingkah hidup mereka sendiri.

Hal tersebut setali tiga uang dengan pandangan Heraklitos seorang filsuf Yunani Kuno tentang panta rei (segala sesuatu berubah), tak ada sesuatupun tinggal sama dan tak ada sesuatu yang mutlak (absolute). 

Protagoras juga menyuarakan relativisme sejak zaman Yunai kuno dengan mengatakan bahwa manusia merupakan ukuran (metron) dari segala sesuatu (cremata). 

Hal ini mengartikan bahwa kebenaran dalam realitas kehidupan yang terlihat dan atas penangkapan panca indra manusia tergantung dari sudut pandang dan penilaian masing-masing pribadi manusia itu sendiri.

Sebab manusia merupakan ukuran dari segala sesuatu. Paham mengenai relativisme semakin berkembang seiring berkembangnya zaman. Relativisme semakin memunculkan beragam cara dan bentuk yang berbeda.

Paham relativisme semakin berkembang pesat di zaman ini karena masyarakat semakin menyadari bahwasanya kemajemukan dan keberagaman juga menjadi bagian yang terus menyelimuti kehidupan masyarakat. 

Kemajemukan latar belakang budaya, pandangan, pemikiran, dan ciri khas lainnya perlu untuk senantiasa diberi penghargaan yang sama dan sederajat.

Relativisme muncul untuk dapat menjembatani segala perbedaan tersebut. Realtivisme muncul dan berkembang juga sebagai solusi dan jalan tengah untuk menghindari konflik antar masyarakat yang majemuk dengan pelbagai pemikiran dan perbedaaan budaya mereka.

Relativisme Budaya

Relativisme kebudayaan memiliki pandangan bahwa tidak ada kebudayaan yang lebih unggul dari yang lain, karena semua kebudayaan adalah sederajat. Setiap kebudayaan harus dinilai menurut batasan pemikirannya masing-masing.

Permasalahan mengenai moral harus ditafsir secara berbeda oleh masyarakat sendiri, bahkan isu baik atau buruk adalah relatif tergantung dari kebudayaan tertentu. 

Suatu perbuatan bisa dianggap tidak bermoral dalam kebudayaan tertentu, dapat dianggap sebagai cara hidup yang diterima sebagai wajar oleh masyarakat tertentu lainnya.

Pemahaman relativisme budaya memiliki tiga buah sifat pengetahuan untuk dapat memahami kebenaran akan pengetahuan, diantaranya ialah local knowledge, contextualism, dan conventionalism. 

Local knowledge merupakan pengetahuan akan kebenaran yang bersifat lokal/daerah. Contextualism merupakan pengetahuan akan kebenaran berdasarkan konteks sosial budaya tempat penentuan itu dilakukan. Conventionalism menunjukkan bahwa kebenaran akan pengetahuan ditentukan oleh kesepakatan sosial dalam masyarakat.

Setetes Ciu dan Relativisme Budaya

Ciu tergolong minuman yang dilarang sebab membuat orang yang meminumnya mabuk. Pada akhirnya berawal dari minum ciu, kemudian mabuk, dan pada akhirnya tak jarang dari mereka melanjutkan dengan berbuat kejahatan dengan tanpa kesadaran penuh yang merugikan orang lain.

Tak hanya itu, berawal dari ciu, menyebabkan seseorang meninggal dunia karena dicampur dengan hal-hal lainnya (oplosan) hingga menelan korban jiwa. Hal-hal tersebutlah yang memberikan kesan negatif terhadap minuman tradisional ciu. Penulis pun juga memiliki pandangan yang sama ketika sepintas mendengar kata ‘ciu’ atau membaca tulisan ‘ciu’.

Gambaran-gambaran di atas sangatlah berbeda dengan yang ada di desa Wlahar, Banyumas, Jawa Tengah. Para warga desa Wlahar membuat minuman ciu sebagai penghasilan utama mereka. Ciu menjadi minuman tradisional yang telah diwariskan turun-temurun oleh leluhur mereka.

Hingga pada akhirnya meminum ciu menjadi suatu kebiasaan setiap malam sebelum tidur dan menjadi kebudayaan warga desa Wlahar. 

Ciu pula yang memberikan mereka rezeki untuk dapat mencukupi kebutuhan dasar mereka sehari-hari. Ciu bahkan menjadi minuman yang wajib diminum oleh para warga desa Wlahar setiap malam hari.

Bagi para warga desa Wlahar, membuat, mengonsumsi, serta berdagang ciu merupakan bentuk pelestarian budaya leluhur mereka. Mereka juga berpandangan bahwa ciu khas desa Wlahar harus bisa dikenal dan dikonsumsi oleh masyarakat luas di Indonesia atau kalau bisa diekspor ke luar negeri.

Ketika penulis menilik kembali kedua fenomena tersebut, penulis menemukan dua perbedaan pemahaman mengenai minuman ciu. Satu pandangan dari kebanyakan masyarakat di Indonesia yang terkesan negatif.

Di lain sisi (warga desa Wlahar), ciu malah memberikan khasiat kesehatan serta menjadi warisan budaya leluhur mereka dan menjadi mata pencaharian warga setempat. Perbedaan pemahaman mengenai ciu dan perdagangan ciu ini menunjukkan sebuah fenomena relativisme yang masih berkembang di zaman modern ini. Masing-masing masyarakat memiliki pandangan dan pemikirannya masing-masing yang diyakini kebenarannya oleh mereka sendiri.

Kebenaran bahwa berdagang ciu merupakan perdagangan yang tabu/haram dan berdagang ciu sebagai bentuk pelestarian budaya serta pekerjaan utama memiliki kebenaran yang relatif tergantung kebanyakan masyarakat di luar desa Wlahar atau kabupaten Banyumas dengan para warga desa Wlahar sendiri.

Baik masyarakat luas maupun warga desa Wlahar memahami perdagangan ciu semuanya memiliki alasannya masing-masing. 

Alasan akan pemahaman mereka tersebut juga memiliki kebenarannya masing-masing tergantung mereka sendiri yang meyakininya sebagai sebuah kebenaran, sebab tidak ada uji klinis yang menyatakan bahwa ciu berkhasiat dan tidak ada penetapan resmi bahwa ciu merupakan minuman haram/tabu.

Pemahaman relativisme kebudayaan secara nyata nampak dalam fenomena perdagangan ciu di desa Wlahar. Relativisme kebudayaan memiliki pandangan bahwa tidak ada kebudayaan yang lebih unggul dari yang lain, karena semua kebudayaaN adalah sederajat.

Demikian halnya dengan perdagangan ciu di desa Wlahar, Banyumas, Jawa Tengah yang telah menjadi warisan kebudayaan masyarakat setempat. Bagi sebagian besar masyarakat luas memandang meminum ciu itu merupakan perbuatan tabu apalagi sampai berdagang ciu.

Namun hal tersebut lain halnya dengan yang dilakukan oleh para warga di desa Wlahar yang justru menganggap hal tersebut sebagai tindakan yang wajar dan diterima oleh masyarakat satu desa, bahkan sampai dilegalkan oleh pemerintah daerah dan diakui sebagai minuman khas daerah desa Wlahar.

Pemahaman mengenai relativisme budaya memiliki tiga buah sifat pengetahuan untuk dapat memahami kebenaran dan pengetahun yakni local knowledge, contextualism, dan conventionalism. 

Sifat pengetahuan pertama mengenai local knowledge nampak jelas bahwa kebenaran mengenai perdagangan ciu desa Wlahar diyakini sebagai sebuah kebenaran hanya dalam lingkup kabupaten Banyumas. Sebab hanya desa Wlahar yang menjual ciu khas desa Wlahar dan sudah diakui oleh pemerintah daerah sebagai minuman tradisional khas desa Wlahar.

Sifat kedua yakni contextualism yang nampak bahwa kebenaran perdagangan ciu desa Wlahar benar secara konteks sosial budaya setempat dan yang menentukan hanyalah warga desa setempat.

Mereka meyakini bahwa dengan berdagang ciu mereka bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, melainkan pula turut serta melestarikan kearifan lokal dan budaya desa Wlahar yang telah membuat dan berdagang ciu sejak zaman penjajahan Belanda kemudian sempat redup dan kembali berkembang pada tahun 1942 hingga saat ini.

Kebenaran berdasarkan konteks sosial budaya nampak jelas dalam fenomena perdagangan ciu di desa Wlahar, Banyumas, Jawa Tengah.

Sifat pengetahuan ketiga dari relativisme budaya ialah conventionalism. Sifat pengetahuan ini menunjukkan bahwa kebenaran akan pengetahuan ditentukan oleh kesepakatan sosial dalam masyarakat.

Kesepakatan mengenai pembuatan dan penjualan ciu di desa Wlahar, Banyumas, Jawa Tengah sudah ada sejak dahulu kala, yakni zaman penjajahan Belanda. Namun kesepakatan tersebut masih dalam lingkup desa Wlahar saja, belum sampai meluas ke desa lainnya di kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Baru pada tahun 2016 pemerintah daerah Banyumas, Jawa Tengah mengakui dan melegalkan penjualan ciu khas desa Wlahar sebagai minuman tradisional khas desa Wlahar.

Kesimpulan

Dalam Relativisme menekankan bahwasanya tidak ada kebenaran yang bersifat objektif dan universal bagi manusia. Kebenaran yang ada dalam realitas adalah kebenaran yang bersifat relatif itu sendiri. 

Fenomena perdagangan ciu di desa Wlahar, Banyumas, Jawa Tengah menunjukkan bahwa paham relativisme juga berkembang di Indonesia. 

Perdagangan ciu bagi sebagian besar masyarakat menjadi suatu hal yang tabu dan haram, namun bagi masyarakat desa Wlahar hal tersebut menjadi mata pencaharian mereka bahkan menjadi suatu kebudayaan lokal yang telah diwariskan turun-temurun sejak zaman penjajahan Belanda.

Maka dapat dikatakan bahwa fenomena perdagangan ciu di desa Wlahar tergolong sebagai fenomena relativisme di zaman modern secara khusus di Indonesia apabila dibandingkan dengan pemikiran masyarakat Indonesia dalam memandang minuman ciu.

DAFTAR PUSTAKA

SUMBER BUKU

HAMERSMA, HARRY, Pintu Masuk ke Dunia Filsafat, Yogyakarta: Penerbit PT Kanisius, 1981.

SUHARSO & RETNONINGSIH, ANA, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi Lux, Semarang: Penerbit Widya Karya, 2005.

SUDARMINTA, J. Epistemologi Dasar (Pengantar Filsafat Pengetahuan), Yogyakarta: Penerbit PT Kanisius, 2002.

DUPRÉ, BEN, 50 Gagasan Besar yang Perlu Anda Ketahui (Politik, Filsafat, Agama, Ekonomi, Sains, Seni), Jakarta: ESENSI – Penerbit Erlangga, 2010.

CHANDRA, XAVERIUS (ed.), Menanggapi Relativisme, Surabaya: Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala, 2012.

SUMBER KORAN

Bayu Putra, Bagi Mereka Ciu Adalah Jamu Jelang Tidur Malam, KORAN JAWA POS, Minggu, 24 November 2019,