Nirkertas /paperless merupakan usaha mengurangi produksi dan penggunaan kertas. Usaha ini merupakan cara sederhana untuk mengurangi global warming (Hardati,dkk,2015). Kalau diartikan kata per kata, global warming mungkin hanya akan diartikan bumi semakin hangat, namun global warming lebih berbahaya daripada sekedar bumi hangat. Salah satu penyebabnya karena maraknya alih fungsi hutan menjadi tempat – tempat industri atau pohon – pohon di hutan dijadikan bahan baku produksi.

Salah satu yang akan menjadi perhatian adalah pohon bahan baku pembuatan kertas. Terkadang kita melihat tulisan “jangan tebang aku”  yang tertulis di kertas tertempel di sebuah pohon. Hal itu sama saja menebang pohon sekali dan untuk terakhir kali, karena sudah diingatkan jangan menebang pohon itu lagi. Tetapi kebutuhan kertas dalam kehidupan sehari – hari tidak dapat dikendalikan. Kertas dalam hal ini tidak hanya buku tulis, buku bacaan atau kertas – kertas bungkus gorengan yang sering kita temui. Namun kenyataanya pulp tidak hanya akan menjadi produk buku tetapi dalam kehidupan sehari – hari menjadi kertas tissue, kertas lilin, kertas semen, dan kertas pembungkus barang lainnya.

Bahan baku kertas adalah kayu yang berasal dari pohon. Pabrik kertas harus menebang pohon dengan jenis dan kualitas tertentu untuk menghasilkan kertas. Semakin banyak kebutuhan akan kertas maka semakin banyak pohon yang akan ditebang. Pembuatan kertas berasal dari serat pohon yang berasal dari alam. Jika produksi dan pembuatan kertas terus dilakukan tanpa terkendali, maka kita akan semakin kehilangan pohon yang seharusnya menyeimbangkan alam.

Jenis kayu yang digunakan untuk membuat kertas umumnya terbagi menjadi dua yaitu kayu lunak dan kayu keras. Kayu lunak adalah kayu dari tumbuhan jenis konifer, contohnya pohon pinus. Sedangkan kayu keras adalah kayu dari tumbuhan yang daunnya selalu gugur setiap tahunnya, contohnya pohon jati. Kayu – kayu yang digunakan sebagai bahan tentunya berasal dari hutan yang seharusnya kayu tersebut dapat melindungi hutan dan ekosistem yang ada di dalamnya. Namun mengingat kebutuhan kertas terus meningkat, maka pohon – pohon tersebut akan ditebang untuk memenuhi kebutuhan.

Era digital secara sekilas terlihat akan mengurangi konsumsi kertas. Semua kegiatan dijalankan menggunakan sistem. Semakin berkembangnya zaman pula sistem tersebut online. Sehingga informasi yang ingin disampaikan akan diterima dari jarak jauh menggunakan sinyal. Namun perlu kita ingat, belum semua masyarakat di Indonesia memiliki akses yang mudah untuk menggunakan suatu sistem online sehingga kertas masih tetap harus diproduksi. Tidak hanya menjalankan suatu pekerjaan. Dalam melakukan transaksi jual beli, masyarakat masih membutuhkan uang tunai yang bahan bakunya sama saja menggunakan bahan baku kayu – kayu yang berada di hutan.

Hal – hal yang menjadi hambatan untuk melakukan semua kegiatan sepenuhnya dengan digital untuk mewujudkan nirkertas adalah infrastruktur yang belum memadai seperti koneksi internet, belum semua toko bisa dibayar dengan menggunakan e – money, dan lagi – lagi masyarakat yang memang perlu diberi edukasi untuk mendukung era digital. Selain hambatan, buku – buku bacaan harus tetap ada mengingat Indonesia semakin menurun minat bacanya jika dibandingkan dengan negara – negara lain di dunia dari tahun ke tahun.

Perlu diketahui pula bahwa pena dan kertas memiliki keuntungan dibandingkan keyboard. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Universitas Princeton dan Universitas California di Los Angeles,Amerika Serikat, yang diterbitkan pada 2014, menunjukkan bahwa pena memang lebih hebat dibanding keyboard. Dalam tiga penelitian, para peneliti menemukan bahwa murid-murid yang mencatat di laptop lebih buruk dibandingkan murid yang menulis tangan. Yang menulis tangan memiliki pengertian lebih baik atas materi yang diberikan dan mengingat lebih baik karena secara mental mereka harus memproses informasi dibanding sekedar mengetik secara verbatim (Biranne,2017). Dengan adanya penelitian ini, maka kertas masih tetap harus ada untuk kebutuhan pendidikan anak dalam meningkatkan inovasi dan kreasi.

Serba digital memang membuat kita akan mudah mengkonsumsi informasi lebih banyak dan lebih murah. Namun perlu diiingat pula bahwa tidak sedikit dampak buruk dari era digital yaitu maraknya hoax, mudahnya informasi tersebar dengan cepat, bahkan tidak bijak menggunakan sosial media akan membahayakan diri sendiri. Mengetahui kondisi tersebut, jika harus memilih antara nirkertas menggunakan digital atau membiarkan semua menggunakan kertas akan lebih baik kita mengambil jalan tengah saja.

Bagaimanapun hebatnya era digital, kertas masih tetap dibutuhkan. Jalan tengah yang dimaksud adalah setengah nirkertas yang artinya kertas masih akan tetap diproduksi untuk kebutuhan seperti buku bacaan terutama bagi masyarakat yang masih sulit mengakses media digital. Dengan membiarkan kertas koran, buku bacaan, buku sekolah, dan karya ilmiah lainnya tetap berada di rumah masing – masing masyarakat Indonesia sebagai konsumsi pengetahuan agar masyarakat tidak gagap akan pengetahuan merupakan setengah dari nirkertas yang dimaksud. Sementara setengah nirkertas yang lain digantikan dengan sistem modern yang harus dilakukan untuk meminimalisir penggunaan kertas.

Sistem modern yang dimaksud adalah dengan meminimalisir penggunaan kertas, dalam hal ini yang kita perhatikan terlebih dahulu adalah kertas tissue. Seperti yang terdapat di kamar mandi  kering, lebih baik tetap menggunakan air atau alat pengering otomatis saja, di tempat makan lebih baik memperbaiki sanitasi daripada harus menyediakan tissue, dan tempat – tempat lain yang membutuhkan tissue. Sementara kertas – kertas seperti bungkus produk bukan makanan lebih baik menggunakan kertas bekas saja. Sehingga pabrik kertas bisa meminimalisir penebangan pohon untuk membuat kertas.

Selain tissue dan pembungkus makanan, kita juga harus memperhatikan beberapa permasalahan dalam penggunaan kertas. Dalam hal ini beberapa kasus yang saya perhatikan antara lain :

Kertas kardus untuk membungkus makanan 

Kertas yang digunakan untuk membungkus makanan dalam hal ini dibentuk menjadi kardus atau hanya kertas biasa saja. Hal ini dapat kita cari subtitusi pembungkus makanan yaitu dengan menggunakan daun pohon tertentu misalkan daun pisang, daun jati, daun bambu, atau bisa menggunakan daun jagung.

Kertas karcis parkir dan tiket transportasi

Kertas yang digunakan untuk karcis maupun tiket sebaiknya diminimalisir dengan menggunakan barang subtitusinya. Dengan memperbanyak sistem parkir digital dan tiket digital. Sehingga tiket maupun karcis tidak perlu dicetak.

Kertas untuk surat menyurat di instansi tertentu

Kertas yang digunakan untuk surat menyurat terkadang tidak cukup sekali atau dua kali untuk mencetaknya. Kemungkinan salah ketik atau eror salah mencetak terkadang membuat kertas terbuang bergitu saja karena gagal cetak. Maka untuk mengurangi kemungkinan missprinting, lebih baik kalau surat menyurat dilakukan menggunakan elektronik karena proses akan lebih mudah.

Kertas untuk bahan mencetak uang

Setiap uang kertas yang kita gunakan untuk membayar terbuat dari kayu yang berasal dari hutan. Dengan menggencarkan gerakan nasional non tunai (GNNT) dan memperbanyak edukasi mengenai penggunaan e – money dan toko yang bisa menerima pembayaran non tunai maka akan mengurangi pohon yang akan ditebang untuk bahan mencetak uang.

Demikian makna setengah nirkertas menggunakan sistem yang sudah digunakan dan terus akan digunakan untuk meminimalisir penebangan pohon, namun masyarakat terutama anak – anak bangsa masih bisa mendalami ilmu pengetahuan dari buku maupun mengakses informasi dari berbagai media cetak atau online. Semua pekerjaan dapat dilakukan lebih cepat, mudah, dan murah. Semua informasi dapat tersampaikan kepada masyarakat dengan meminimalisir hoax. Dengan tindakan meminimalisir penebangan pohon, dimana setiap pohon dapat menghasilkan 15 rim kertas ukuran A4 bisa kita alihkan dari membuat tissue, tiket, dan surat untuk kebutuhan mencetak buku.

REFERENSI :

Biranne, Alison. 2017. Mengapa kertas adalah aplikasi paling canggih?. Online. Dapat diunduh di www.bbc.com/indonesia/vert-cap-38840256 pada 10 Januari 2018.

Hardati, Puji, dkk. 2015. Pendidikan Konservasi. Semarang : Magnum Pustaka Utama dan Pusat Pengembangangan Kurikulum MKU Unnes Semarang.