Mahasiswa
1 minggu lalu · 75 view · 4 menit baca · Tips & Trick 17014_69821.jpg
Pexels

Setelah Wisuda, Hindari Beberapa Hal Ini

Wisuda adalah kebanggaan bahkan impian seseorang yang telah banyak menjejaki berbagai teori pembelajaran di masa perkuliahan. Maka semestinya para mahasiswa akan berlabuh pada ujung penyelesaian atau yang lebih dikenal dengan kata wisuda.

Ironisnya, mahasiswa manalah yang ingin kuliah tanpa diakhiri dengan wisuda? Terkecuali ada kendala yang menyebabkan tergantungnya atau terhambatnya untuk menggapai wisuda, atau tidak mampu lagi menyelesaikan persoalan perkuliahan yang seolah-olah menyulitkan pikiran.

Berbicara tentang wisuda, tentu yang berkeinginan besar tidak hanya kita sendiri, seperti keluarga, kerabat-kerabat terdekat, teman-teman, apalagi harapan orang tua ingin sekali melihat anaknya membersamai orang yang lagi wisuda.

Tapi yang menjadi persoalan bagi kita ialah setelah wisuda, tentu kita berkeinginan kerja dan memiliki kehidupan yang lebih layak dari sebelumnya, tanpa memikirkan apa yang diinginkan keluarga kita atau orang tua yang memiliki pandangan yang berbeda.

Misalnya, kita menginginkan kendaraan baru, ambil kredit perumahan, dan lebih befoya-foya dari hasil kerja kita yang dilakoni setiap harinya, bagaimana orang tua kita memiliki pola atau pandangan yang berbeda, atau ia kurang suka dengan kelakuaan kita, sedangkan selama kita kuliah orangtua yang bersusah payah memperjuangkan kita untuk mencapai gelar sarjana. Tentu hal ini jadi beban bagi kita kalau tidak bisa mengimbanginya.


Berikut ini beberapa hal atau tindakan yang perlu kita hindari setelah kita baru-baru wisuda, agar tidak terjadi ketidakenakan pada keluarga.

1. Malas-malasan dalam bekerja

Setelah kita wisuda, dengan gamblang kerja langsung menyambut kita, tanpa bersusah payah mencari kerja dari yang lainnya. Alhamdulillah, dalam sisi ini, kita mendapatkan kemudahan. Tapi yang jadi permasalahanya adalah sudah dapat kerja, malah malas-malasan, sok-sokan dengan profesi yang kita dapatkan.

Tentu hal ini membuat orang tua kita malu sama yang lainnya, terutama ia malu sendiri karena merasa kurang mendidik kita. Walaupun ia tak mengungkapkan rasa ketidakenakannya, tapi kita harus pandai menilik dan memperhatikan kedua orang tua kita sebelum hal yang serupa itu terjadi.

2. Pengangguran

Pengangguran sudah tidak biasa lagi membuat orang tidak senang terhadap kita, malah benci dan jauh-jauh dari orang yang tidak mempunyai pekerjaan, sebab orang yang pengangguran dikiranya malas-malasan mencari kerja.

Nah, bagaimana seseorang pengangguran itu adalah kita, sudah wisuda tidak bekerja? Tentu hal ini membuat orang lain menerka-nerka, apakah kita tidak mampu bekerja secara fisik atau kalah dari persaingan para pencari kerja yang lainnya?

Belum lagi mengenai perasaan orang tua, pastilah ia tertekan apabila tetangga atau warga yang lain menanyakan anaknya pengangguran setelah wisuda. Walaupun sikapnya biasa-biasanya saja kepada kita, tapi ingatlah batinnya yang tersiksa.

3. Buru-buru Menikah setelah Wisuda

Persoalan ini yang paling penting kita hindari setelah wisuda, yaitu cepat menikah setelah baru wisuda. Sebelum kita telanjur membeberkan kepada orang tua, alangkah baiknya kita pendamkan dulu sebelum saatnya tiba, agar tidak terjadi kekaprahan dan kesalahan di antara keluarga.

Selama kuliah, pastilah para mahasiswa memikirkan dan menginginkan pendamping hidup sesuai dengan karakternya, dan sering membayangkan sosok inilah yang pantas aku lamar nantiknya, karena ia lebih mengenal gaya hidup seseorang atau pribadinya semasa perkuliahan.

Memang, cepat menikah itu lebih baik, bahkan sebelum kita wisuda itu sebaiknya sudah menikah dengan seseorang yang kita inginkan sesuai kemauan, asalkan kita mampu secara materi dan batin menikahi anak orang. Tapi kalau kita belum mampu secara materil dan masih dibiayai sama orang tua, maka sebaiknya undur-undur lagilah sebelum kesulitan melanda kita. Itu sama saja kita tidak ada kesiapan untuk menghalalkan orang yang kita damba.

Bagaimana dengan seserorang yang baru wisuda dan ia telah mendapatkan kerja? Tentu hal ini mendorong kita makin berkeinginan untuk menikah, tanpa memikirkan dibiayai oleh siapa, ke depannya bagaimana (setelah menikah), dan persoalan-persoalan lain yang sering membuat orang batal menikah. Seolah-olah kendala-kendala itu lepas dari kita jika sudah mendapatkan kerja, hanya menunggu restu orang tua.

Namun, di samping itu, banyak lagi yang harus kita prioritaskan sebelum melangkah untuk menikah. Minimal setelah kita wisuda, nunggu tiga sampai empat tahun lagi baru menikah, setidaknya ada jeda yang agak lama setelah wisuda.

Dalam itu, kita fokus membahagiakan orang tua, apakah itu dalam bentuk membelikan apa yang diinginkannya, mengabulkan apa yang dicita-citakannya, atau yang lain-lain yang membuat ia lebih bahagia. Dengan begitu, kita akan lebih leluasa tanpa ragu melakukan untuk ke depannya.

Kenapa begitu? Cobalah kita jejaki lagi perjuangan orang tua, bagaimana perasaannya setelah bersusah payah menyekolahkan kita, mengkuliahkan kita sampai wisuda, lalu kitanya bergegas untuk menikah. Walaupun ia tak beranggapan soal keinginan-keinginan tersebut, apalagi meminta hasil kerja anaknya, tentu semua itu ia tak berani mengungkapkannya.

Maka dari itu, hendaknya kita mengabulkan dulu keingginannya (orang tua) baru menikah. Setidaknya ada jeda yang agak lama usai wisuda baru menikah.

4. Sibuk mencari orang dalam untuk bekerja


Kebanyakan orang saat ini bilang, kalau punya orang dalam saat mencari kerja, bisa cepat-cepat kita diterimanya di suatu perusahaan atau lembaga, tanpa matang memikirkan kualitas yang kita punya, bisa jadi kita menyogoknya demi dapatnya suatu pekerjaan.

Tentu tidak sesuai dengan logika apabila terjadi seperti ini, apalagi kita sudah sarjana, masih percaya dengan isu-isu yang mencoba menggiring kita kejalan yang salah. Apalagi kalau sampai orang tua kita tahu bahwa kita percaya dan masih menerapkan itu, tentu ia sangat kecewa apabila kita masih mengharapkan orang dalam di saat mencari kerja, sedangkan kita mempunyai basic, dibekali kemampuan lewat sekolah.

Itulah beberapa hal yang mesti kita hindari jika baru-baru wisuda, supaya orang tua kita nggak kecewa, merasa tidak nyaman, malu, dan lain sebagainya.

Artikel Terkait