Novelis
2 tahun lalu · 12211 view · 1 menit baca · Puisi sadness.png
https://cauldronsandcupcakes.files.wordpress.com/

Setelah Seorang Anak Diperkosa dan Dibunuh Teman Sebayanya

Mengenang Y

Jika empat belas remaja bergerombol memperkosa satu anak dara,
kita tidak bisa berkata:
“selalu ada psikopat di antara kita.”

Jika empat anak tanggung berkawanan membungkam gadis yang sendiri,
kita tidak bisa berkata:
“wanita harus bisa jaga diri.”

Jika sekumpulan lelaki merajam satu dua tiga perempuan,
kita tidak bisa berkata:
“tegakkan moral dan agama.”

Kita tak bisa lagi mengandalkan hanya hukum
yang memenjarakan; si pelaku maupun korban
Kita tak bisa lagi bicara tegakkan ini tegakkan itu
Persis sebab “tegakkan” adalah bahasa jejantan
Bahasa kekerasan
Bahasa yang motifnya kekuasaan

Kita telah terjebak di dalamnya
Kita ajar anak-anak itu jadi pangeran
dan mainannya bukan hanya layang-layang
tapi juga dayang-dayang
yang boleh diterbangkan, diputus, dikoyakkan
sebab mereka hanyalah kepunyaan

(Selama lelaki dididik melihat perempuan sebagai kepunyaan, selama itu ia berhasrat menguasai)

Bahasa kekerasan, kita telah terjebak di dalamnya

Yang kita butuhkan adalah bahasa lain
Jika bukan bahasa cinta, maka bahasa keberanian
untuk menatap yang paling gelap dan menghadapi

Sebab di dalam yang gelap
kita menyentuh, meraba
kita tak tergesa-gesa
kita belajar menyadari
yang tak terpandang
kita tidak memiliki
tidak mengobyektivikasi

(Selama lelaki dididik melihat perempuan sebagai obyek, selama itu ia mengembangkan bakat memperkosa)

Setelah hari ini seorang anak diperkosa dan dibunuh,
apa yang kita lakukan sesudah menangis (dan mengutuk)?

Kita harus mengubah dunia
Dan mengajar anak-anak kita
Sekalipun layang-layang adalah mainan,
angin boleh menerbangkannya.
Meski seruling hanyalah sebatang bambu mati,
angin membuatnya bernyanyi.
Angin—bahkan angin, anakku—adalah individu.

(Jika lelaki dididik untuk melihat perempuan sebagai subyek, individu; ia punya hati dan harga diri untuk tidak memaksa)

Jika ada empat belas remaja memperkosa gadis yang sendirian,
Jika ada segala lelaki merajam segala perempuan yang tidak sendirian,
itu tanda kita telah terjebak
bahasa kekerasan
yang hanya tahu menaklukkan,
dan terus melahirkan kekerasan

Kita harus mulai dari awal
Jika bukan dengan bahasa perempuan, maka bahasa cinta
(yang menghapus segala obyektivikasi)
Yang menghapus segala pemujaan terhadap kekuasaan

Bukan lantaran anti
Tetapi agar bahasa jejantan jangan dipakai
kecuali dalam perkara paling mesra dan sunyi.


2 Mei 2016