Tulisan ini aku bikin akibat "rebahan". Aku baru terbangun di jam sebelas kurang menjelang siang hari. Mau jadi apa aku ini? Sebelum bulan puasa telah rebahan, saat puasa tetap rebahan, setelah puasa? Akankah masih rebahan? Di dunia rebahan, pindah alam pun nanti (katanya) akan rebahan.

Setelah Pandemi Selesai…

Pernah salah seorang keluargaku mempertanyakan di WhatsApp (WA) grup keluarga; setelah covid-19 ini selesai apa yang terjadi dengan kita? Apa kita akan tetap bersilaturahmi? Apakah kita akan tetap kompak dalam keluarga? Apa kita akan menjadi sosialis? Sampai jumpa di 2021 atau bahkan 2022. 

Aduh! Aku jadi bertanya-tanya, apakah "jarak" yang membuat kita akan saling terhalang dan berjauhan? Apakah kita tidak punya "ruang" di tempat lain? Karena hape mendekatkan kita. (Keluargaku ini tinggal di pulau seberang, dia belum mau pulang kampung).

Pun ada seorang teman, Sam, mempertanyakan eksistensi kita sebagai manusia (berakal) dengan menulis status di WA dengan redaksi kalimat kurang lebih seperti ini; 

"Setelah pandemi berakhir, jika pertanyaannya, berapa buku yang kalian baca? Berapa tulisan yang kalian buat? Berapa ayat yang kalian baca? Atau berapa orang yang kalian bantu?"

"Apa jawaban kalian? Oo, atau jangan-jangan kalian hanya bisa menjawab pertanyaan quiz yang kalian bagikan dan berapa quiz yang kalian menangkan. Berapa kali kalian upload foto orang lain dan berapa kali foto kalian diupload orang?"

Duh, ngeri sekali. Berapa buku yang aku baca? Tulisan yang aku buat? Selama ini, aku hanya rajin membaca dan menulis status, posting, share foto, dan lain-lain.

Dan posting itu ditutup dengan kalimat;

"Dengan di rumah kalian diberi sangat banyak waktu luang. Tergantung bagaimana kalian memanfaatkannya."

Alangkah menohoknya. Begitu banyak waktu yang akan terbuang (percuma) jika kita hanya "rebahan" yaitu; tidur, makan, dan main hape.

Rebahan yang produktif

Ada yang bilang; jadilah rebahan yang produktif. 

Mungkin dengan mengikuti berbagai kegiatan daring (online) itu. Gara-gara terlalu banyak melakukan daring, aku sampai garing. 

Aku sampai lupa yang luring (offline). Aku sendiri selama pandemi ini memang lebih banyak "rebahan". Awalnya, setelah sibuk bersih-bersih rumah, masak-masak, dan niat pengen berkebun namun tidak jadi.

Aku pun ganti haluan ingin membaca buku. Selama ini, buku-bukuku hanya tersimpan pada lemari, atau dus. Namun, kemalasan menjadi faktor pertama yang membunuh semangat membaca ini, itu rebahan sambil main hape. Sampai-sampai, kegiatanku banyak yang  beralih ke hape (sampai eneg sendiri).

Mau menulis malah bingung, yang mau ditulis tentang apa. Karena ujung-ujungnya cerita tentang covid-19 lagi. Aku ingat, beberapa kali bertemu orang baik mahasiswa, guru, ibu rumah tangga, wiraswasta, saudara (i) penjual sayur, dan lain sebagainya pasti yang kami bahas adalah si Mr. David eh si Mr. Covid (kata orang tua jangan terlalu disebut namanya, biar dia tidak kegeeran dan dia tidak datang kepadamu).

Aku pernah melihat jurnal dari institute yang besar yang akan terbit temanya tentang Mr. David. Ketika ada ajakan menulis pun, menulis antologi cerpen, temanya pun tidak jauh-jauh tentang Mr. David ini, "Si jalang yang memeluk dunia".

Dan ketika ada share di WA grup untuk menjadi kontributor penulisan. Aku pun ikut dalam "book chapter" pendidikan yang temanya juga si Mr. David lagi.

Pertanyaannya...

Jadi yang jadi pertanyaan, setelah pandemi selesai akan jadi apa kita ini? apakah kita akan jadi penjual kue kering on-line akibat di rumah tidak ada kerjaan, sehingga kita mencari kesibukan baru dengan membuat kue-kue kering. 

Ataukah kita jadi punya ruang siaran sendiri akibat sering live (langsung) di Instagram atau IG, Yutub, Zoom, atau apalah karena hampir semua dari kita ingin terlihat eksis, atau berlomba-lomba dengan menjadi artis mendadak?

Ataukah kita menjadi sangat pintar karena selama ini mendengar banyak ilmu, ceramah, melalui berbagai aplikasi selama pandemi. Ataukah kita menjadi manusia yang arif nan bijaksana akibat di rumah saja dengan banyak membaca buku atau kitab?

Atau aku akan menjadi ahli  tentang Mr.David karena menuliskannya dalam cerpen dan book chapter? Silahkan aku (kita) menjawabnya masing-masing. Aku pun tidak tahu jawabannya, akibat sering rebahan ini.

Terakhir, aku akan mengutip Zizek dari sebuah status WA (lagi) seorang teman;

"Hegel menulis," tulis Zizek, "bahwa satu-satunya  hal yang dapat kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak belajar apapun dari sejarah," jadi saya ragu epidemi itu akan membuat kita lebih bijaksana."

Apakah kita benar-benar belajar dari sejarah? Dan menjadi lebih bijaksana? Jadi pengen rebahan lagi, untung tulisan ini bukan tentang bantal, guling, dan kasur. 

(Segala puji bagi Tuhan semesta alam. Tulisan ini selesai kutulis setelah rebahan dan akan rebahan kembali).