“Jangan menyebut dirimu sendiri Seorang Filsuf atau mengembar-gemborkan teori yang kamu pelajari…karena domba tidak memuntahkan lagi rumput kepada sang gembala untuk memamerkan banyaknya rumput yang telah dimakannya; tetapi domba tersebut mencerna rumput di dalam tubuhnya, dan ia kemudian memproduksi susu dan bulu. Begitu juga, janganlah kamu memamerkan apa yang sudah kamu pelajari, tetapi tunjukannlah tindakan nyata sesudah kamu mencernanya." ~ Epictetus (Enchiridion)

Kalimat di atas terdapat di halaman 293 dalam sebuah buku yang berjudul “Filosofi Teras” karya seorang penulis hebat bernama Hendry Manampiring.

Beberapa hari yang lalu saya baru selesai membaca buku ini setelah kurang lebih selama seminggu saya rutin membacanya setiap kali pulang dari tempat kerja. Untuk pertama kalinya sepanjang hidup saya, hasrat untuk menuangkan apa yang saya dapatkan dari buku ke dalam tulisan benar-benar membara.

Saya tidak memosisikan diri sebagai pereview dari buku ini, karena saya tahu saya tidak cukup kompeten untuk mereview sebuah tulisan yang maha luar biasa ini. Saya hanya akan mencoba menuangkan beberapa poin yang paling berpengaruh bagi saya setelah bergaul dengan buku ini. Tidak ada niatan sedikit pun untuk memamerkan apa yang telah saya pelajari dari buku ini, karena buku ini pun mengingatkan saya untuk hal demikian.

Dikotomi Kendali

Bicara tentang kebahagian, sudah pasti ini adalah harapan semua orang. Namun ternyata faktanya adalah begitu banyak orang yang hidupnya kurang bahagia bahkan tidak bahagia sama sekali. Masalahnya ada di mana?

Buku Filosofi Teras membuka pemikiran saya dengan seterang-terangnya bahwa kebahagian erat kaitannya dengan kemampuan kita untuk memegang kendali terhadap perasaan itu sendiri. Artinya apa? Kitalah yang mempunyai peran untuk membuat diri kita bahagia. Jika kita ingin bahagia, maka fokuslah kepada hal yang ada di bawah kendali kita karena hal itu diproses oleh diri kita sendiri.

Dalam buku Filosofi Teras telah diberikan beberapa contoh mengenai hal-hal yang berada di bawah kendali kita, seperti pertimbangan (opini atau persepsi kita), keinginan kita, tujuan kita, bahkan segala sesuatu yang merupakan pikiran kita dan tindakan kita sendiri.

Jelas bahwa dalam memperoleh kebahagian kita hanya perlu mengelolah dengan baik hal-hal yang telah dikategorikan masuk dalam “kendali kita”. Setelah kita mengetahui apa saja yang berada di bawah kendali kita, selanjutnya kita juga perlu menyadari bahwa ada beberapa hal yang tidak berada di bawah kendali kita. 

Sesuatu yang berada tidak di bawah kendali kita ternyata menjadi penyumbang paling terbesar dari rasa gelisah, tidak tenteram dan lunturnya kebahagian kita.

Saya sangat bersyukur menemukan buku ini karena dengan jelas menuangkan bahwa tindakan orang lain, opini orang lain, reputasi/popularitas kita, kesehatan kita, kekayaan kita, kondisi kita saat lahir (jenis kelamin, orang tua, saudara-saudara, etnis, suku, kebangsaan, warna kulit, dll), serta segala sesuatu di luar pikiran dan tindakan kita, itu semua merupakan hal-hal yang berada tidak di bawa kendali kita.

Secara sederhana saya memahami pesan dari buku ini bahwa jangan menghabiskan energi, waktu dan pikiran hanya untuk memikirkan hal-hal yang tidak berada di bawah kendali, karena kita tidak punya kedaulatan untuk mengubah hal itu.

Hubungannya dengan kebahagian adalah begini: jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan dan hal itu masuk dalam kategori tidak berada di bawah kendali kita, maka sebaiknya kita abaikan saja, karena toh hal itu tidak akan pernah bisa kita ubah. 

Kita tidak akan pernah bisa merubah opini orang lain terhadap kita, kita tidak akan pernah bisa menentukan bagaimana sebaiknya orang lain berperilaku kepada kita. Harta kita bisa hilang setiap saat, kondisi kesehatan kita bisa terganggu kapan pun.  Benar, kan?

Intinya adalah berhenti untuk mengharapkan segala sesuatu berjalan sesuai dengan keinginan kita karena akan ada banyak hal yang terjadi di luar keinginan kita dan jelas itu juga di luar kendali kita. Terima dengan ikhlas lalu kita akan berhenti merasa gelisah.

Mengendalikan Emosi Negatif

“Pada dasarnya semua emosi dipicu penilaian, opini, persepsi kita. Jika ada emosi negatif, sumbernya ya nalar/rasio kita sendiri.”

Pesan yang saya tangkap dari kutipan ini adalah betapa pentingnya kita menjaga opini dan persepsi kita terhadap apapun karena segala reaksi muncul didorong oleh persepsi kita. Banyak orang yang melakukan kebodohan hanya karena mereka salah menilai sesuatu.

Dalam memunculkan persepsi di pikiran kita, kita harus memahami 2 hal dengan benar, yaitu “berpikir dan menilai”. Contoh sederhananya begini, ketika emosi negatif mulai muncul (marah, curiga, stres, khawatir, ketakutan, frustrasi, dll), kita harus berusaha sejenak untuk berhenti dari perasaan tersebut.

Kemudian kita mulai berpikir secara rasional dan menilai, apakah ini benar atau tidak, apakah perasaan ini lahir dari hal-hal yang berada di bawah kendali kita atau justru dari hal-hal yang tidak berada di bawah kendali kita. Setelah semuanya kita nilai barulah kemudian kita merespons.

Jika proses ini kita biasakan dalam hidup kita, maka saya percaya bahwa hari hari kita akan kita lewati tanpa perasaan emosi yang negatif dan kita akan makin terbiasa dengan kebahagian.

Baca Juga: Belajar Bahagia

Mengabaikan Hal-Hal yang Sepele

“Sering kali banyak masalah sepele tidak perlu dicari solusinya, cukup dihindari, seperti sedang membuang ketimun pahit atau mengambil jalan memutar. Gitu aja kok repot?”

Memang benar bahwa banyak orang yang tidak bahagia karena terbiasa untuk membesar-besarkan masalah yang sepele. Masalah kecil menjadi sangat besar menurutnya sehingga mereka menghabiskan waktu dan energi hanya untuk hal-hal yang sebenarnya bisa diabaikan.

Setelah membaca kutipan di atas, saya secara pribadi seperti tersentak karena tiba-tiba saya mengingat betapa seringnya saya “membesar-besarkan masalah”. Kekonyolan yang sering saya lakukan dan pastinya banyak orang yang juga melakukannya membuat kita semakin jauh dari kebahagiaan. 

Karena itu, saya berkomitmen satelah membaca buku Filosofi Teras bahwa saya akan berhenti memusingkan masalah-masalah sepele dan setelah saya mencobanya ternyata rasanya jauh lebih menyenangkan. Kita tidak perlu marah-marah untuk sebuah kesalahan kecil. Benar, kan?

Ketiga poin di atas merupakan bagian yang bisa saya tuangkan dalam tulisan ini. Saya tidak cukup mampu menuangkan semua kedahsyatan yang saya pelajari dari buku Filosofi Teras karya Hendry Manampiring, tapi sesuai dengan pesannya bahwa apa yang telah dipelajari sebaiknya ditunjukkan lewat tindakan nyata.

Berbahagialah setiap dari kita yang mampu memahami dengan benar bagaimana cara bahagia, karena bahagia adalah hak setiap orang dan setiap orang wajib membahagiakan dirinya.