Membaca reportase CowasJP.com, “Jawa Pos Keropos” bukan sesuatu yang mengejutkan, terutama bagi mantan karyawannya. Sebagai orang yang pernah bekerja di Jawa Pos selama 15 tahun, saya mengamati kemerosotan Jawa Pos telah dimulai bahkan ketika perusahaan ini mencapai masa kejayaannya.

Nokia, Blackberry, dan Kodak adalah tiga perusahaan yang dulunya besar namun kini menghilang. Mereka mengidap penyakit-penyakit yang menyebabkan ketiganya gagal bertahan. Penyakit yang mereka derita antara lain tidak mau berinovasi, over confidence, nyaman sebagai market leader, dan terlalu gemuk secara organisasi. Jawa Pos rupanya terkena penyakit-penyakit itu.

Keengganan manajemen untuk berinovasi di dunia digital menyebabkan media ini kehilangan relevansinya. Terutama di kalangan generasi milenial yang nantinya akan menggantikan pelanggan-pelanggan lamanya yang mayoritas sudah tua. Hal itu ditambah rasa percaya diri berlebih karena keyakinan koran tidak akan pernah mati. Apalagi saat itu ada data-data dari salah satu lembaga survei yang dipakai untuk mendukung keyakinan tersebut.

Rasa percaya diri itu membuat manajemen tak pernah memikirkan strategi-strategi bertahan di era digital. Padahal, jika dibanding beberapa dekade lalu, musuh di era digital sangat banyak.

Jika dulu musuh yang dihadapi hanya koran sebelah, kini yang dihadapi Jawa Pos adalah musuh-musuh yang membingungkan. Bagaimana tidak, musuh tak hanya datang dari perusahaan media, namun juga perusahaan-perusahaan digital seperti Facebook dan Google.

Jawa Pos sebenarnya telah memiliki sejarah dalam menghadapi krisis. Pada 1998, Jawa Pos juga terkena hantaman krisis moneter. Namun saat itu, Dahlan Iskan sebagai CEO mampu menyelamatkan Jawa Pos dari kehancuran. Langkah-langkah penyelamatan yang tentu saja didukung anak buahnya membuat Jawa Pos bisa bertahan dan malah makin melaju.

Sayang, sejarah itu tidak menjadi sebuah pelajaran yang seharusnya dijadikan cermin. Bahwa krisis bisa saja hadir kembali dan menghantam Jawa Pos sewaktu-waktu.

Jawa Pos terlalu nyaman sebagai market leader. Organisasinya pun makin gemuk dan membuat gerak perusahaan ini tidak lincah. Ruang redaksi tidak diciptakan sebagai ruang yang dinamis, melainkan ruang statis yang berisi orang-orang yang hanya mengerjakan rutinitas.

Maka, pandemi Covid-19 dan disusul konflik internal bukan menjadi penyebab utama mengapa Jawa Pos keropos. Namun penyakit-penyakit khas perusahaan besarlah yang menjadi biang keroknya.

Apa yang Perlu Dilakukan?

Langkah-langkah penyelamatan mulai dilakukan manajemen Jawa Pos. Lantai 5 yang biasanya digunakan sebagai ruang pemasaran dan iklan dikosongkan. Program pensiun dini ditawarkan kepada karyawan yang berusia di atas 40 tahun. Namun saya melihat penyelamatan itu belum menyentuh substansi permasalahan. Manajemen hanya sibuk melakukan penghematan sana-sini.

Langkah penghematan seperti itu memang bisa memperpanjang napas. Namun jika tidak dibarengi dengan langkah-langkah lain, maka perusahaan tidak akan ke mana-mana. Ibarat pertandingan sepak bola, Jawa Pos hanya sibuk bertahan tapi melupakan penyerangan. Padahal, pertahanan terbaik adalah dengan menyerang.

Namun, secercah harapan tampaknya mulai muncul. Menurut informasi yang saya dapat, hari ini, Rabu, 22 Juli 2020, Jawa Pos akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Patut ditunggu keputusan-keputusan apa yang akan diambil oleh para pemilik saham Jawa Pos.

Sebagai mantan karyawan yang tidak rela Jawa Pos keropos, izinkan saya mengusulkan beberapa hal kepada para pemegang saham.

1. Pilih CEO yang Andal dan Paham Dunia Digital

Sebuah perahu tidak akan melaju dengan mulus ke tujuan jika kaptennya tidak mengerti medan lautan yang bakal dihadapi. Begitu halnya dengan perusahaan yang pasti membutuhkan seorang CEO yang cakap.

Jawa Pos harus segera mencari seorang CEO yang bisa membawa perusahaan ke arah yang benar. Sosok ini juga harus mengerti dunia digital, di samping tentu saja pemahaman tentang dunia media harus kuat.

2. Tetap Pertahankan Tim Redaksi yang Kompeten

Jawa Pos adalah perusahaan media. Tentu produk yang dijual adalah berita yang berkualitas. Untuk itu, dibutuhkan tim redaksi yang cukup kompeten yang bisa menghadirkan berita-berita jempolan.

Memang, langkah ini membutuhkan dana tidak sedikit. Namun ini harga yang sangat pantas dikeluarkan jika ingin produk Jawa Pos tetap nomor satu.

Artinya, program pensiun dini untuk karyawan di atas 40 tahun terasa menggelikan. Bagaimana jika seluruh tim redaksi yang kompeten yang kebetulan berusia di atas 40 tahun mengambil program itu? Tentu kualitas berita dan produk-produk jurnalisme Jawa Pos menjadi turun.

3. Meninjau Kembali Model Bisnis yang Sudah Usang

Terus terang, model bisnis yang hanya mengandalkan revenue dari iklan dan pelanggan sudah tidak bisa diandalkan. Saat ini, belanja iklan brand untuk media cetak berkurang drastis. Brand mengalihkan bujetnya untuk media-media digital. 

Selain bisa menargetkan iklannya untuk audience tertentu, biaya yang dibutuhkan tak semahal jika beriklan di koran. Revenue dari pelanggan juga tidak bisa diharapkan. Malah, penambahan pelanggan akan memperbesar biaya cetak karena harga kertas yang kian melambung.

Model bisnis lain di luar iklan dan pelanggan harus mulai dipikirkan. Jawa Pos harus bisa menjawab pertanyaan: mengapa seseorang mau mengeluarkan bujet per bulan untuk berlangganan? Value apa yang didapat seseorang jika menjadi pelanggan Jawa Pos?

Dengan modal brand yang kuat dan puluhan ribu pelanggannya, Jawa Pos seharusnya bisa menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan di atas.

4. Berani Berinvestasi di Dunia Digital

Media cetak sudah habis. Akui saja fakta menyakitkan ini. Bukan berarti Jawa Pos harus membuang media cetaknya. Namun, Jawa Pos harus mampu mengolaborasikan media cetaknya dengan media digital.

Sudah banyak contoh bagaimana perusahaan-perusahaan koran bertransformasi ke dunia digital. Kuncinya adalah kebijakan yang dikeluarkan harus ramah terhadap dunia digital.

5. Merekrut SDM Andal di Bidang IT

Baca Juga: Koran Terakhir

SDM di bidang IT sangat dibutuhkan di era digital. Biasanya, perusahaan-perusahaan digital menganggarkan bujet lebih untuk merekrut tenaga-tenaga IT. SDM ini sangat dibutuhkan untuk membuat produk-produk digital.

Jawa Pos harus mulai merekrut tenaga-tenaga IT andal. Bidang IT inilah yang nantinya menjadi salah satu tulang punggung perusahaan.

6. Mengubah Newspaper Menjadi Newsbrand

Siapa tidak kenal Jawa Pos? Brand Jawa Pos sudah sangat kuat baik di Jawa Timur maupun nasional. Ini tentu modal yang sangat kuat yang bisa dipakai Jawa Pos untuk mengambil langkah. Setiap produk baru yang dihasilkan nanti tentu akan mudah diperkenalkan.

Jawa Pos bukan hanya newspaper melainkan newsbrand. Jawa Pos harus bisa mengeksploitasi brand-nya demi menambah pundi-pundi pemasukan.

***

Enam langkah yang saya usulkan tentu belum menjamin apakah Jawa Pos bisa bertahan dan kembali bangkit. Namun setidaknya, ada langkah-langkah yang bisa dilakukan Jawa Pos selain hanya penghematan.

Perlu juga semangat kebersamaan antara manajemen dan karyawan agar setiap langkah yang diambil bisa terlaksana dengan baik. Untuk itu, hindari konflik yang tidak perlu dan segera carikan win-win solution di antara semua pihak.

Akhirnya, hanya kemauan Jawa Pos-lah yang bisa menyelamatkan dirinya dari jurang kehancuran. Sebagai mantan karyawan, saya masih ingin melihat Jawa Pos bertahan, agar kelak saya bisa menunjukkan kepada anak-anak saya di mana ayah dulu bekerja. Sesederhana itu.