2 tahun lalu · 1159 view · 5 menit baca · Politik presidential-podium-1.jpg
Senja Kala Kekuasaan (Foto: pixabay.com)

Setelah Jadi Presiden, Mau Apa?

Sebentar lagi Obama dan keluarganya akan angkat kaki dari Gedung Putih. Berbagai gambar dan video farewell atau perpisahan kepada keluarga Obama tampak muncul sebagai trending topic. Penuh ingar bingar keharuan.

Saya selalu bertanya, apa yang akan saya lakukan jika saya sudah berhasil mendapatkan karier atau jabatan tertinggi sedunia? Contohlah Obama. Setelah ini mau ngapain ya? Umur masih muda. Belum ada umur pensiun. Sudah selesai memerintah negara adidaya selama 8 tahun. Masa mau jadi CEO? Masa mau jadi menteri? Gengsi dong! Turun pangkat.

Sebenarnya pertanyaan ini juga relevan untuk mantan-mantan presiden kita. Setelah mereka memegang tampuk kekuasaan tertinggi di negara Indonesia raya yang gemah ripah dengan masalah ini, mau apa lagi? Tidak mungkinlah menduduki jabatan serius lainnya.

Pilihannya ada tiga.

Pertama, jabatan non-serius yang sifatnya kekeluargaan seperti momong cucu, jalan-jalan, dan menjadi pembicara publik agaknya adalah opsi paling masuk akal. Tapi ini hanya berlaku bagi mereka yang memang sudah selesai dengan dirinya dan kekuasaannya. Tentu tidak mudah. Tangan dan kaki pasti akan gatel melakukan sesuatu yang bombastis seperti dulu.

Tetapi, jika otot masih kuat dan tidak loyo, mungkin masih bisa mengambil opsi kedua, yakni jabatan kehormatan. Misalnya, masih bercokol di partai politik semacam dewan pembina atau ketua umum. Jabatan ini juga asyik. Tapi, tidak asyik jika partainya terancam jadi partai gurem, yang jumlah pemilihnya cuma seiprit.

Wakil rakyatnya pun, baik suara maupun jumlahnya, remeh banget. Kayak sisa makanan di gigi: sedikit, nyempil, ngeselin. Masih rada mending jika partainya diperhitungkan sebagai partai besar. Paling tidak posisi dewan kehormatan atau ketua masih akan selalu diperhitungkan oleh pengikutnya.

Pilihan ketiga adalah mengambil opsi berkuasa secara tidak langsung. Misalnya kembali sedikit mencicipi kekuasaan melalui keluarganya. Istrinya, anaknya, adiknya, atau menantunya. Masa tetangganya? Kecuali kalau tetangganya itu ternyata adalah menantu dari anaknya adik mantan istrinya. Nah lo, pusing, kan?

Agaknya opsi ketiga ini bagai lapis legit untuk para mantan. Mengapa? Dengan memperpanjang umur kekuasaan pada anggota keluarga sedarah atau seranjang (eh!), rasa kebanggaan diri dan prestise sebagai pemimpin bisa dicicipi terus. Tentu sang mantan akan menjadi mentor langsung bagi keluarganya yang diikutkan dalam tentakel kekuasaan.

Tidak lupa memori-memori zaman keemasan pasti akan disinggung-singgung. “Dulu, waktu saya nganu…, dulu, waktu saya gini… bla… bla… bla…” Ah, indahnya. Masa tua yang penuh penghormatan.

Buat generasi milenial, ini mungkin mirip dengan cerita simbah-simbah kepada cucunya yang diulang-ulang. Kadang pengin memalingkan muka, tapi kok nggak sopan. Akhirnya ya didengarkan saja sambil main hape. Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri, atau kadang keluar sebagai status Facebook.

“Mbah Anu, cerita lagi masa kejayaannya selama 10 tahun. Bosen, mbah! Yang lalu biarlah berlalu. Kalau mau diakui itu harusnya dari orang lain, bukan diri sendiri. Kalo dari diri sendiri itu namanya Bragging alias ge er. Pingin dipuji tapi nggak ada yang muji. Kasian deh.” Begitu kira-kira letupan ekspresi para cucu yang mendengarkan orang tua yang telah melalui masa kejayaannya.

Prihatin! Itu yang harus disadari oleh kita rakyat biasa ini. Post power itu bukan perkara yang mudah. Apalagi dalam waktu 8-10 tahun.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Obama akan melalui masa setelah kejayaan ini. Lepas dari hingar bingar kamera dan jepretan flash. Bahkan jempolnya pun sudah harus melepaskan kekuatannya untuk memencet kode nuklir. Jempolnya akan sama seperti kita, jempol kapalan yang paling-paling buat cari like dan share.

Jika kembali ke kasus Indonesia, bagaimana pula SBY melepaskan masa keemasannya selama 10 tahun itu? Pasti berat. Hingar bingar kehormatan dan gelora elu-elu pujian tercerabut begitu saja. Diserahkan pada si Tukang Kayu yang item, nylekutis, kurus, suka cengengesan dan nggak ngundang-ngundang makan lagi.  

Melihat berbagai respon SBY terkait peristiwa Jokowi makan-makan dengan tokoh politik, bisa diduga ada rasa sakit yang mendalam dari SBY atas kenihilan undangan padanya. SBY terlihat gusar dan galau berat.

Misalnya dengan pidato yang bela diri bertubi-tubi paska peristiwa Jokowi makan bersama Prabowo. Tampak aneh dan tidak elegan. Bisa juga Twit yang baru-baru ini muncul dengan SBY memanggil nama Tuhan YME di Twitter. Entah mengapa? Mungkin Tuhan sudah follow Twitter.

Lucunya, twit itu hanya kurang dari 24 jam setelah Jokowi makan-makan bersama mantan Wapres dan Presiden yang masih hidup, yakni Tri Sutrisno dan BJ Habibie. Ini sudah menunjukkan kegalauan tingkat dewa dari SBY.

Hati-hati Post Power Syndrome!

Penyakit psikologis ini memang sering menjangkiti orang-orang yang selesai dengan masa kejayaannya. Bagi Turner dan Helmes, PPS memberi gejala orang menjadi cepat tersinggung, kehilangan harga diri, dan sulit untuk melepaskan belenggu masa lalu kejayaannya.

Kita masih belum tahu apa yang akan terjadi pada Obama paska menjadi Presiden. Entah untung atau rugi, Trump tampak hadir sebagai anti-Hero sesudah aksi hero Obama selama 8 tahun ini. Untung bagi Obama, ia akan dan pasti dirindukan oleh masyarakatnya. Ia pun tampaknya sadar bahwa ia akan menjadi bukan siapa-siapa lagi. Ia hanya akan berstatus Mantan, selebihnya ia adalah Warga Negara biasa.

Lain nasib dengan SBY. Presiden sesudahnya, Jokowi, tampak melalui masa pemerintahannya dengan mulus. Banyak yang membandingkan bahwa Jokowi jauh lebih baik dari SBY. Ini tentu celaka 12. Mengapa? Rasa PPS SBY akan berlipat ganda sebab ia masih dikaitkan dengan Jokowi. Apalagi anak sulungnya maju untuk menjadi Gubernur DKI. Ini nestapa bagi SBY.

Tetapi, apa mau dikata, SBY memilih jalan ini sesudah menjadi presiden. Menduduki jabatan di partai yang ketar-ketir kondisinya. Tentu ia gemas sekali. Sehingga, opsi meraih kekuasaan kembali lewat darah dagingnya mungkin bisa sedikit mengobati rasa susah move on ini.

SBY tidak memilih untuk menjadi Habibie. Hidup tenang dan menjauhi keriuhan bersama Ainun. Saat kembali ke tanah air, Habibie tampil bagai rakyat jelata. Dengan lurik coklat tanda kepatuhan lurus sebagai rakyat dan sekaligus simbol doa untuk kemakmuran, Habibie datang dalam kesahajaan usia senja menemui Jokowi.

Mungkin bagi SBY, sangat sulit menjadi Habibie. Ia memilih untuk menampilkan dirinya dalam wujud yang lebih muda. Sedang dirinya yang tua, sedang asyik menanggapi kondisi Indonesia di media sosial. Masih suka keriuhan dan keramaian. Begitulah SBY.

Sekali lagi, kita yang harus berempati kepada para pemimpin di masanya yang telah usang. Obama mungkin tidak akan lagi menjadi Michael Jackson di dunia politik. Itu kenyataan pahit buat kita, buat Obama, dan keluarganya.

Demikian pula SBY. Kita harus berempati, dia bukan lagi sang Jenderal bintang empat di tampuk kepemimpinan Istana Bogor. Kini istananya hanya sebesar Cikeas. Itu kenyataan pahit untuk SBY dan keluarganya. Tetapi yang lebih pahit bagi kita adalah jika SBY ingin kembali ke istana Bogor bagaimanapun caranya. Saya prihatin, semoga saja, tidak!

Artikel Terkait