Kita adalah kepenatan dari risau dalam ingatan yang tertahan lama di hati masing-masing.  Menjadi beku sebagai kata-kata hanya agar luka dan duka diselesaikan sesingkat kalimat perpisahan.

Kau adalah perempuan hebat, mampu menampilkan segala keluh dan membuangnya di halaman-halaman catatan harianmu. Kau penulis ulung yang radikal.

Satu bulan lalu kau menemuiku di ketinggian 1.200 MDPL, aku menerima hadirmu seperti kejutan, sepotong roti sebagai hadiah dari prestasiku semasa SD dulu. Rasa-rasanya menjadi hal menyenangkan dan tak akan terlupakan.

Kita berbincang dalam suhu yang sangat dingin, lagi-lagi. Sepasang lenganmu lebih ampuh dari jenis selimut apapun di dunia. Aku lebih suka di pelukmu daripada diselimuti kenangan.

Sayangnya dari sekian banyak cerita yang kau sodorkan di telingaku. Hanya satu kalimat yang paling lekat. Bahwa kau tak percaya akan adanya cinta. 

Mungkin pendirianmu saat ini masih sama, entah. Yang pasti, aku tetap menulis untukmu. Kau mau membacanya sebagai pengantar tidur, atau penambah nafsu makan, terserah. Aku tetap menulis.

Beberapa orang memanggilmu dengan berbagai sebutan, tetapi kau memintaku tak menyebut nama apapun padamu. Semua nama adalah simbol diskriminatif, kecuali kata perempuan itu sendiri. Karena itu kau minta disebut perempuan saja.

Akhir-akhir ini hujan lebih sering turun sore, senja tertutup rapat. Beruntunglah kau lebih suka rembulan. Menurutmu, rembulan selalu memberi cahaya walau ia tak lagi dirindukan hadirnya.

Aku masih sangat hapal saat kau memuji rembulan yang bertepatan di atas kepalamu, kala itu beberapa menit sebelum kau memintaku tidur dan aku memintamu memelukku.

Tak sempat terbayangkan bahwa setelah pertemuan itu, kita akan ketemu lagi. Berdialog dengan percakapan yang lebih hangat di pantai. 

Selain menyukai rembulan, kau juga menyayangi kucing. Mungkin kucingmu sudah gemuk, sebab nampaknya kau lebih menyayangi kucimu daripada dirimu sendiri.

Aku ingin menyampaikan perihal singkat, tentang pola hidupku yang mungkin membuatmu lekas jenuh. Aku pernah melakukan beberapa hal sebagai bujukan atas rasamu, mencium dan memelukmu erat. 

Walau sia-sia, kau tetap ngotot bahwa cinta bukan perihal memikat dan bukan pula perkara menyenangkan, karenanya kau menampik adanya.

Mula-mula aku juga tak percaya akan kebekuan hati yang kau punya. Belakangan aku baru menyadari, memang benar, kau perempuan berbeda. 

Kiranya aku semakin tertarik untuk mencintaimu dengan hakikat yang kehilangan kata-kata. Semakin lama, benar-benar aku semakin kebingungan menuliskannya.

Pertemuan kita semakin sering terjadi. Kau suka gaya bahasaku, tapi hatimu tetap saja menolak aku sebagai penghuninya.

Beberapa kegiatan semakin membuktikan bahwa memang kita disatukan, tetapi bukan oleh cinta melainkan hobi dan kesenangan lain.

Kau dan aku sama-sama suka memainkan kata-kata. Sebagai makanan kangen yang entah asal-muasalnya dari negeri mana.

Memang tak pernah kau memberikan kata 'kangen' kepadaku, tetapi mengajakku minum kopi atau camp di bukit adalah gambaran subyektif atas rasamu yang selalu teringkari.

Terakhir kita ketemu malam kemarin. Kau memintaku menghadiri salah satu kegiatan kemanusiaan yang kau rancang sendiri secara swadaya, aku hadir dan kita saling bernostalgia. Sayangnya aku memainkan hatiku, kau tetap memainkan musik.

Pertanyaannya sederhana. Kelak kau akan bersama dengan kekasihmu. Kekasih yang akan kau puja-puji setelah hatimu kembali mencair dan berhasil melawan kenangan. 

Kau akan sibuk dengan urusanmu bersamanya. Sebagai pegiat sejarah Soekarno, aku akan tetap dan terus mengagumimu sebagai perempuan. Sebagaimana teguhnya Soekarno mempertahankan kekayaan alam Indonesia.

Rasanya seperti negeri dongeng, mirip kisah romantis dalam novel yang ditulis para pujangga. Aku benar-benar tawakkal mempertahankan inginku terus memelukmu.

Kau adalah perempuan, dan aku lelaki. Bila tiba saatnya nanti kau menikah dengan lelaki lain. Pun aku menikah dengan perempuan yang bukan kamu. Masih adakah jalan bagi kita tuk bercinta?

Kau akan kebingungan menjawab tanyaku, tapi kau harus menjawab. Diam juga adalah jawaban dari setiap pertanyaan. Namun, sebagai perempuan hebat kau tak mungkin diam.

Bulan satu tahun depan. Kau mungkin sudah menerbitkan buku. Beberapa karya yang kau tulis. Menyebut namaku berkali-kali di dalamnya, demikian pengakuanmu di depanku.

Sebelumnya, aku pernah meminta memberikan kata pengantar pada salah satu naskahmu. Mungkin kau melakukannya, bila benar. Berarti kita semakin dilekatkan dalam satu buku, meski tidak dengan cinta.

Satu hal yang juga harus aku sampaikan. Saat-saat paling indah adalah setelah hujan reda, dan aku membayangkan kau membaca tulisanku sembari menyeruput kopi, sesekali tersenyum sendiri di teras rumah.

Wahai seseorang yang benar-benar kusebut perempuan, aku selalu melakukan hal yang kau benci. Yakni menduga-duga. Adalah perilaku yang sebenarnya aku juga tak suka, tetapi itulah satu-satunya caraku mengelabui aktivitas rumit yang kau lakukan dalam kepalaku.

Terakhir, bagaimana pun bentuk dan perilaku yang kau punya. Aku berharap kita tetap dalam satu komunikasi yang menyenangkan.

Hidup ini singkat, kita hanya bisa menikmatinya lewat generasi. Atas kisah yang kita tulis di buku masing-masing.