Debat pertama kampanye Pilpres 2019 telah usai. Selanjutnya, kita memasuki arena pasca debat antar pendukung yang menghitung-hitung skor kemenangan antar paslon, apakah debat dimenangkan paslon 01 Jokowi-Ma'ruf dan atau dimenangkan paslon 02 Prabowo-Sandi.

Media sosial, melalui facebook, instagram, twitter hingga grup-grup whatsaap memberikan ruang seluas-luasnya atas seluruh kumpulan pendapat warganet. Utamanya atas kepentingan paslon yang akan didukungnya.

Sejatinya panggung debat adalah teater drama yang mengeksplorasi identitas personal paslon, fakta sosial, permasalahan dan solusi dengan bahasa argumen yang retorik. Erving Goffman (1959) melalui bukunya yang berjudul The Presentation of Self in Everyday Life mereduksi tulisannya itu menjadi satu kata yaitu dramaturgi.

Merujuk pada konsep dramaturginya Goffman, debat panggung merupakan penjewatahan permainan drama, penguasaan persoalan secara komperhenship dan proses adaptasi panggung. Para kandidat kemudian di "make up" secara personal untuk mengeksplorasi semua hal yang ada pada dirinya. Sebagaimana fungsi make up adalah menutupi kelemahan dan menguatkan kelebihan, bukan untuk menjadikan seseorang tidak menjadi diri sendiri.

Pun Jokowi bukanlah Jokowi, Prabowo bukanlah Prabowo secara individu sehari-hari dipanggung debat kampanye Pilpres 2019 kemarin. Karena, kapasitas keduanya adalah calon presiden yang seluruh gesturnya harus mengikuti ketentuan lembaga penyelenggara KPU.

Itu sebabnya Jokowi tidak berhak marah bila ucapannya dihentikan Imam Priyono atau Prabowo membantah larangan "Tidak Boleh" Ira Koesno saat Prabowo ingin membantah Jokowi. Karena keduanya, baik Imam dan Ira, adalah moderator yang secara teknis mendapatkan mandat langsung dari KPU.

Catatan saya, terhadap penampilan paslon di debat kandidat pertama soal Hukum, HAM, Terorisme dan Korupsi kemarin.

Sebelum debat, banyak orang menduga Jokowi akan tampil bertahan atau Prabowo akan tampil menyerang. Dugaan ini cukup beralasan, sebab Jokowi adalah petahana yang seluruh komitmen dan pekerjaannya dalam 4 tahun akan diuji oleh Prabowo yang berkapasitas sebagai penantang.

Ibarat pelatih dalam permainan sepak bola, sebelum pertandingan dimulai banyak yang mengira-ngira Jokowi akan memainkan 5 (lima) pemain bertahan, nyatanya Jokowi justru menurunkan 5 (lima) pemain depan/penyerang sekaligus.

Pola ini membuat Prabowo gugup hingga membuatnya sedikit salah tingkah (salting) karena serangan Jokowi. Hingga pada satu momen, malam itu, Prabowo berjoged untuk menahan diri. Sandi menenangkan. Sembari mengusap-usap punggung Prabowo kemudian memijatnya. Pun beberapa kali, serangan keduanya, baik Prabowo dan Sandi, tidak mampu masuk ke jantung pertahanan Jokowi, misalnya :

Pertama, pasangan 02 menanyakan terkait peraturan perundang-undangan yang tumpang tindih di tingkatan pusat dan daerah dalam 4 tahun terakhir. Dijawab oleh Jokowi dengan membentuk Pusat Legislasi Nasional.

Kedua, pasangan 02 mempertanyakan ketenteraman kabinet Jokowi karena kericuhan atau konflik kepentingan menterinya kerap terjadi. Apalagi soal perbedaan pendapat, kebijakan impor atau tidak. Dijawab Jokowi dengan argumen bahwa dirinya sangat menyukai perdebatan di antara pembantunya karena itu bagian dari kontrol di antara para menteri.

Ketiga, soal penegakan hukum, yang mana Prabowo mengambil kasus dukungan kepala desa yang ditangkap karena mendukung pasangan calon 02 membandingkan banyak kepala daerah yang mendukung pasangan 01. Jokowi kemudian menjawab, dengan menyerang balik pasangan Prabowo-Sandi yang mencontohkan kasus hoaks Ratna Sarumpaet yang direspons grasa-grusu oleh Tim 02 Prabowo-Sandi.

Lebih lanjut, Prabowo mengucapkan diksi kontroversi terkait gaji seorang gubernur hanya 8 juta sementara Provinsi Jawa Tengah lebih besar daripada Negara Malaysia.

Banyak yang terkejut dengan sikap tegas dan ofensif Jokowi terutama saat mempertentangkan visi misi Prabowo-Sandi dalam komitmen kesetaraan gender (perempuan) dengan membandingkan posisi perempuan dalam susunan kepengurusan DPP Partai Gerindra. Pun Jokowi mempertanyakan terkait caleg eks-Napi Korutor yang kembali dicalonkan oleh Partai Gerindra untuk Pileg 2019.

Malam itu terlihat, Prabowo banyak menahan rasa jengkel pada Jokowi. Tak jarang senyum tipis pun menghiasi wajahnya. Untungnya, Prabowo menyadari dirinya berada di atas panggung yang seluruh ucapan dan perilakunya disaksikan banyak orang.

Pun pada debat kandidat kampanye malam itu. Saya membaca Jokowi kembali memanggungkan mimikri politiknya. Pada pemahaman yang lebih sederhana, mimikri adalah proses penyesuaian diri terhadap lingkungan untuk melindungi diri dari bahaya. Seperti bunglon yang menyesuaikan diri dan bisa berubah warna dengan tempat yang dihinggapinya.

Meski harus diakui penampilan Ma'ruf Amin masih belum maksimal di debat kandidat kemarin. Dugaan saya, Pak kiai belum terbiasa dengan panggung terbuka bersifat dialog. Sebab, selama ini ia terbiasa dengan panggung yang sifatnya monolog seperti ceramah yang seluruh ucapannya hampir tidak akan pernah mendapat bantahan.

Ini tentu berbeda dengan panggung debat terbuka yang menghendaki terciptanya wacana dialog berbalas. Pun asumsi saya berikutnya, Ma'ruf Amin sedang menahan diri untuk banyak bicara karena posisinya sebagai calon wakil presiden yang tidak lebih tinggi/setara dengan calon presiden.

Sebaliknya, di pasangan 02, Sandiaga Uno jika kita analisis, porsi bicaranya termasuk dominan. Hal ini tentu sangat tidak ideal, apabila porsi wakil setara atau lebih kuat dari presiden sebagai kepala negara. Pun asumsi lainnya, Sandi coba dipoles menjadi kartu AS bagi pasangan 02 karena baru saja mengklaim telah mengunjungi 1.000 titik kampanye.